MENJADI SARJANA

Aji Setiakarya

 

Menjadi sarjana, bagi siapa saja, saya  pikir adalah sesuatu yang menyenangkan. Meski, banyak krikitikus sosial menyebut dalam setiap kelulusan sarjana itu muncul pengangguran baru. Apalagi buat mereka yang berasal dari kampung seperti saya, rasa haru dan bahagia akan menjadi hiasan yang tak terlupakan saat itu. Seperti terlukis pada teman-teman saya yang merasakannya, John Bahtiar Rivai dan Susanto.  Jhon dan Santo, begitu kami memanggilnya kawan dekat di komunitas film Srangenge. Di kampus bersama mereka, saya seringkali membuat film. Baik film documenter pribadi atau pun documenter pesanan sampai dengan kawinan.

 

John, yang semester sepuluh itu selain jago ngebidikan kamera, ia juga pantai mengedit. Beberapa film yang saya arahkan, dia mengedit. Misalnya, Si Gepeng dan Perempuan Tanah yang pernah diputar  auditorium Untirta. Sementara Santo juga sama, mesti tak pandai mengedit ia bisa memainkan kamera MD 900 dan Handycam yang biasa kami pakai untuk membuat film indie. Terakhir kita menggarap perempuan tanah di Keragilan Serang Banten. Mas Santo  mawakili Omen (Abdurrahman), mahasiswa komunikasi semester 8, berperan sebagai manajer prdouksi dan asisten  editor. John menjadi editornya. Ah, bersama Yoki, wartawan Metrotv dan dosen kami, Rey dan Iyan kami berhasil menelorkan karya terakhir itu. Rasanya belajar bareng mereka enjoy sekali. John yang berasal dari Bayah Lebak punya sifat yang mengalah. Meskipun paling tua di Srangenge, ia tak suka membantah saat saya meminta ia untuk mengedit kembali filmnya saat saya tidak sreg dengan hasilnya.

 

Ia juga tidak pernah banyak omong saat saya memintanya untuk mengedit lembur jika saya ada kerjaan. Ah, saya menikmati itu dengan mas Jhon. Apalagi jika ada Pak Yoki, suasana menjadi meriah. Dosen kita yang satu ini memang nyentrik. Dari mulai ngontrak sampai sekarang punya rumah (Oktober 2007, kalau gak salah pak Yoki  ngredit rumah) ia menjadi teman sekaligus guru dan kakak yang tidak sedarah. Kami seringkali bercanda, ketawa terbahak-bahak sampai orang tersinggung. Kami seringkali makan bareng sepiring berlima; Saya, Jhon, Santo, Iyan. Satu lagi ya Pak Yoki.

 

Tidak hanya makan bareng, Pak Yoki sangat sering nraktir kami. Gajinya di MetroTV dan mengajar di Untirta tidak dimakan sendirian. Dia sering berbagi dengan kami; mengajak kami ke kantin untuk menikmati gajinya. Ia juga menjadi muara terakhir jika kami di Srangenge kesulitan uang untuk produksi film. Kosannya selalu menjadi tempat kami belajar dan berdiskusi apa saja. Sekarang ia sudah memiliki rumah di Komplek Bumi Mutiara Serang (BMS) No.E5. nomor 5.

 

Di sini saya sering menginap bersama anak-anak Srangenge. Karena rumah ini kami jadikan bascamp Srangenge. Ada buat ngedit film, sekarang sudah lengkap ada untuk masak juga. Karena sudah tersedia kompor gas dan peralatan masak lainnya.

 

Ah, rasanya pertemanan kami di Srangenge menjadi pertemuan untuk bersaudara. Begitu, sehingga saat mereka lulus, saya merasa kesepian. Merasa ditinggalkan. Itu terasa saat kami menyambut Mas Jhon dan Mas Santo meraih gelar Sarjana. Saya rasa, mereka juga memiliki perasaan yang sepi. Kehilangan kawan yang menjadi tempat ngobrol.

 

 

Mas John dan Santo  keluar dengan wajah yang sumringah. Tentu saja, ia senang. Perjuangan lima tahun itu akhirnya membuahkan hasil. Gelar S.IP ia raih. Saya mengucapkan selamat dan memeluk keduanya. Lalu bunga-bunga kami taburkan kepada kepala keduanya. Orang-orang memperhatikannya aneh. Bahkan keluarganya terlihat kaget anakanya kami “culik”.  Dengan Yoki aku menaburkan bunga. Sementara Iyan memfokuskan kamera digital, Rey (anggota Srangenge baru) membidikkan handycam. Dibantu dengan kawan kontributor Tv di Cilegon kami mengiring mereka dengan  bunga dan gendang. Suasana menjadi ramai, orang-orang menyaksikan seperti tontonan. Apalagi saat saya membawa masuk keduanya ke dalam bajaj RD yang saya bawa dan sudah di rias keluarganya tertawa lepas. Biarkan saja hari itu menjadi bahan tertawaan. Sejak malam, di bascamp kami, rumah Yoki kami sudah mensettingnya.

 

Akhirnya saya berhasil membawa mereka keliling keluar Hotel Krakatau tempat prosesi wisuda anak-anak Untirta. Ah, saya membawanya melewati jalan raya. John berada di sebelah kanan saya. Dan Mas Santo di samping kiri. Keduanya mengisap rokok dengan tenang. Sementara Yoki, membonceng di belakang. Ha.. ha.. sulit untuk dilupakan.

 

Saya berbisik kepada keduanya gimana senanga gak? Ia melemparkan senyum. “Diculik inimah,” ungkap Mas Santo. Saya tertawa lepas. Saya pikir pasti mereka punya kesan yang aneh. Apalagi bajaj itu nyerempet motor yang membuat pemiliknya marah. Huh!! Lucu saat itu.

 

Sudah merasa puas dengan perlakuan itu kami akhirnya mengembalikan kepada keluarga mereka yang sudah menunggu. Mas John dan Mas Santo turun dari  bajaj. Lalu kami para anggota Srangenge berpose bersama. Sebenarnya kami merasa kurang lengkap karena Oman dan Deny tidak bisa hadir. Tapi kamera itu akhirnya mejempret kami. Saat itu suasana terasa haru. Kepada Mas Santo dan Mas Jhon saya berpelukan lagi.  Saya rasa Mas John punya beban dengan kesarjanaannya. Ia harus bertanggungjawab dengan sumpahnya.  Begitu pun Mas Santo. Karena selain itu mereka harus bersaing dengan para sarjana lainnya untuk tidak mendapatkan label pengangguran.

 

Ah, Mas John dan Mas Santo mungkin mulai berfikir ke sana. Apalagi Mas Santo yang sudah mendapatkan calon istri. Beban yang ia pikul pasti lebih berat. Tapi percayalawah kawan, dengan semangat, kerja keras, kamu akan menemukan lorong panjang kebahagiaan. Menjadi Sarjana sepertinya menjadi kebahagiaan tersendiri.

 

Mas Jhon dan Mas Santo tetap Ingat Srangenge, Di Komplek Bumi Mutiara Serang, bersama teman dan guru kita, Yoki Yusanto kita meluncurkan nama itu. Membuat Untirta, Serang dan Banten melek film. Salam Sahabat!!  

 

 

Perpustakaan Surososwa RD

April 2008

  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: