JAYENG RANA KETUA MACAN GULING

Februari 3, 2010 at 7:41 pm (Uncategorized)

Ketua DPD Partai Demorasi Perjuangan (PDIP) Provinsi Banten  yang juga Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten  dinobatkan sebagai Ketua Dwan Pimpinan Pusat (DPP) Peguron Macan Guling, salah satu aliran persilatan yang lahir di Provinsi Banten. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

ULAMA TOLAK PEMBANGUNAN AQUA

Agustus 7, 2008 at 5:59 am (Uncategorized)

Salam,

Rekan-rekan berikut berita terkini tentang pembangunan

Aqua di Radar Banten.Semoga Bupati Serang Taufik Nuriman

diberikan petunjuk dan sadar akan kerusakan lingkungan jika Aqua nantinya dibangun.

ULAMA TOLAK PEMBANGUNAN AQUA

SERANG – Sejumlah ulama di Kecamatan Padarincang meminta Bupati Serang Taufik Nuriman segera mencabut izin lokasi pembangunan pabrik aqua di Desa Curug Goong, Kecamatan Padarincang, karena dinilai meresahkan warga.

Kepada Radar Banten, Kamis (17/7), Wakil Ketua Humas Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Padarincang KH Juher menegaskan, pembangunan pabrik aqua akan mengancam ketersediaan air di masa yang akan datang. “Untuk itu, kami ulama di Padarincang sepakat agar Bupati segera mencabut izin lokasi pabrik aqua karena sudah jelas meresahkan warga,” kata Juher.

Menurut Juher, penolakan ulama terhadap pembangunan pabrik tersebut bukan berarti anti pembangunan. “Penolakan ini jangan disalahartikan sebagai bentuk penolakan terhadap pembangunan. Akan tetapi ini merupakan bentuk tanggungjawab kami untuk melindungi daerah dari kelangkaan air,” kata Juher.
Saat ini, kata Juher, ulama dan masyarakat masih resah meskipun aktivitas pembangunan sudah dihentikan sementara. “Selama izin lokasi belum dicabut, maka kami belum tenang karena bisa saja sewaktu-waktu perusahaan melakukan pembangunan secara diam-diam,” ujarnya.

Thoif, ulama lainnya, mengungkapkan hal yang sama. Menurut dia, pembangunan pabrik aqua jelas akan berdampak pada ketersediaan air di masa yang akan datang. “Setahun mungkin tidak akan terlihat tapi beberapa tahun kemudian pasti akan terlihat, ini yang tidak kami inginkan,” ujarnya.

Abdul Basit, tokoh masyarakat setempat menuturkan, kesepakatan ulama untuk menolak pembangunan pabrik aqua merupakan bentuk kepedulian ulama terhadap masa depan di Padarincang.

“Mereka bukan anti pembangunan seperti yang disinyalir banyak kalangan. Akan tetapi, sikap ini sebagai bentuk moral terhadap nasib air di masa yang akan datang,” ungkap Basit.

Menurut Basit, masih banyak jenis pembangunan lain yang tidak mengancam ketersediaan air di Padarincang. “Yang jelas kami akan tetap menolak keberadaan pabrik aqua,” ujarnya. (karnoto)

Bupati Serang Bingung

SERANG – Bupati Serang Taufik Nuriman tampak bingung menghadapi permasalahan tuntutan warga agar izin lokasi pembangunan pabrik aqua di Desa Curug Goong, Kecamatan Padarincang, dicabut karena dinilai meresahkan warga.
Kepada Radar Banten usai salat Jumat, Taufik menuturkan, dirinya tidak bisa menentukan keputusan pencabutan izin lokasi pembangunan pabrik aqua dalam waktu dekat ini. “Sekarang kita masih memetakan inti persoalan pembangunan pabrik aqua,” kata Taufik, Jumat (18/7).
Dikatakan Taufik, pro kontra soal kelanjutan pembangunan pabrik aqua sampai saat ini masih terjadi di tengah masyarakat. “Makanya saya sedang menunggu dan mempelajari masalah ini dengan teliti supaya keputusan yang diambil tepat,” ujarnya.
Sementara itu, pantauan Radar Banten di Kecamatan Padarincang, sejumlah spanduk yang berisi penolakan terhadap pembangunan pabrik aqua mulai marak dipasang warga. Di antara spanduk berisi tulisan warga Padarincang menolak pembangunan pabrik aqua tampak di Desa Padarincang.
Kain putih berukuran 6 meter ini sengaja dibentangkan warga di tengah jalan utama Padarincang. Bahkan tak hanya itu, warga pun memasang pamflet yang berisi penolakan terhadap pembangunan pabrik aqua.
Sebelumnya diberitakan, sejumlah ulama di Kecamatan Padarincang meminta Bupati Serang Taufik Nuriman segera mencabut izin lokasi pembangunan pabrik aqua di Desa Curug Goong, Kecamatan Padarincang, karena dinilai meresahkan warga.
Wakil Ketua Humas Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Padarincang KH Juher menegaskan, pembangunan pabrik aqua akan mengancam ketersediaan air di masa yang akan datang. “Untuk itu, kami ulama di Padarincang sepakat agar Bupati segera mencabut izin lokasi pabrik aqua karena sudah jelas meresahkan warga,” kata Juher. (kar)

Sumber:

Radar Banten Edisi Jum’at/18 Juli 2008

KAMI YANG MENOLAK:

MUI PADARINCANG,  FORUM ULAMA TAMBIUL UMAH, LPM PADARINCANG, FORUM UMAT BERSATU, MASYARAKAT PETANI BANTEN, FORUM LINTAS BARAT, HIMPUNAN MAHASISWA PALIMA CINANGKA (HIMPALKA), HIMPUNAN MAHASISWA SERANG (HAMAS), MAPALA UNTIRTA (MAPALAUT), BEM UNTIRTA, FORUM KOMUNIKASI KEPALA DESA

UPDATE:

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH, LEMBAGA PERS SIGMA IAIN BANTEN

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

TIRTA INVESTAMA ILEGAL

Agustus 7, 2008 at 5:55 am (Uncategorized)

Update Padarincang

TIRTA INVESTAMA  ILEGAL

Minggu (13/7) malam saya menyempatkan diri untuk pulang kampung. Memenuhi janji dengan Abdul Basyit, koordinator penolakan atas pendirian anak perusahaan PT Tirta Investama (TI), anak perusahaan Aqua. Dari beliau saya mendapatkan kabar jika masyarakat yang dimotori oleh ulama, tokoh pemuda dan mahasiswa terus bergerak melakukan penolakan. Salah satunya adalah dengan melakukan pengumpulan tandatangan warga untuk menolak. “Ini dilakukan karena orang-orang yang pro terhadap perusahaan melakukan gerakan dukungan tanda tangan. Tapi saya yakin mereka dipaksa,” ungkap Basyit.

Gerakan ini dilakukan oleh pentolan jawara yang dibayar oleh perusahaan. Awalnya jumlah mereka banyak. Bapak saya sendiri ternyata sempat menampung tanah yang digali oleh perusahaan untuk mengurug kebun. Bapak menyatakan permohonan maafnya, karena beliau miskin informasi. Setelah tahu rencana perusahaan dan informasi dari saya bapak langsung menolaknya. Sekarang beliau menjadi tim koordinator pengumpul tandatangan di kampung. Selain bapak, beberapa jawara yang dianggap berpengaruh juga sudah menyatakan dukungan penolakan.

Rekan-rekan berdasarkan hasil konfirmasi dari beberapa nara sumber dan data-data yang saya baca ternyata izin pendirian PT Tirta Investama (Aqua) menunjukan banyak keganjilan. Pertama soal izin mendirikan bangunan tertera 8 Mei 2008 ditandatangani oleh kepala desa Curugoong H Aolani. Padahal pada masa itu H. Aolani tidak menjabat. Karena sedang menggelar pemilihan kepala desa. Sementara itu 8 Mei 2008 TI sudah melakukan pembangunan. Dan masyarakat protes. Artinya, surat izin dari kepala desa itu dibuat saat ada reaksi dari masyarakat.

Kedua, izin lokasi yang dikeluarkan oleh Bupati Taufik Nuriman untuk pembangunan TI telah menyalahi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2002-2012. Bahwa Padarincang merupakan sebagai daerah agrowisata.

Dan seperti yang disampaikan oleh beberapa media, Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) TI belum dikeluarkan oleh DPLH Kabupaten Serang. Padahal TI sudah melakukan pembangunan fisik. Artinya TI sudah melanggar izin, yang izin tersebut juga tidak sesuai dengan RTRW 2002-2012. Artinya, TI masuk Padarincang Ilegal  (aji)

Segenap masyarakat Kami

MUI PADARINCANG, FORUM ULAMA TAMBIUL UMAH, LPM PADARINCANG, FORUM UMAT BERSATU, MASYARAKAT PETANI BANTEN, FORUM LINTAS BARAT, HIMPUNAN MAHASISWA PALIMA CINANGKA (HIMPALKA), HIMPUNAN MAHASISWA SERANG (HAMAS), MAPALA UNTIRTA (MAPALAUT), BEM UNTIRTA,

PUSAT TOLAK AQUA

DUKUNGAN BISA LEWAT KOORDINATOR

(BASYIT/KONTAK PERSON: 081911127433)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

RUMAH DUNIA JILID DUA

April 15, 2008 at 5:03 pm (Uncategorized)

Oleh Aji Setiakarya

 

Salah satu kehancuran bangsa dan peradaban adalah karena generasi yang lemah. Atau karena generasi yang hilang. Kita bisa bercermin dari sejarah. Yang terdekat dengan kita adalah Sultan Haji, generasi Sultan Ageng Tirtayasa. Karena mental dan akhlak yang lemah ia mengingkari ayahnya yang berada pada jalur kebenaran. Bahkan ia memihak Belanda untuk meruntuhkan kekuasaan ayahnya yang melindungi rakyat Banten saat itu. Sultan Ageng Tirtayasa telah gagal mengkader anaknya. Bila kita tarik dalam konteks keiindonesiaan; kebangkrutan negeri ini pun karena persoalan regenerasi yang tiada. Pasca Presiden Soekarno nyaris pemimpin kita lekang dari kezuhudan. Bangsa ini nyaris tidak memiliki pemimpin. Dan akhirnya, seperti yang kita rasakan ini.

 

RD JILID DUA

Rumah Dunia (RD) pada 3 Maret 2008 lalu memperingati usianya yang keenam. Semarak ini adalah yang ke-dua sepeninggalan Gola Gong (GG), Tias Tatanka (TT) dan Toto St Radik. Firman, saya dan teman-teman di Ciloang; Deden, Royadi, Awi, Oki, Andri dan Ajat diamanahi untuk mengelolanya. GG, TT dan Toto menjadi penasehatnya. Ini sudah menjadi kewajiban kami untuk melanjutkan cita-cita mereka; menciptakan dan mencerdaskan generasi baru Banten meskipun pada kenyataannya tak mudah. Tapi kami bisa membayangkan apa yang terjadi pada saat-saat awal pendirian RD. Toto St Radik pada ulangtahun kemarin menyebut sebagai fase pertama sebagai babad hutan. “Tendang sana tendang sini,” ungkapnya. Itu dilakukan karena masyarakat saat itu masih “tertutup” dalam dunia literasi, terutama kaum birokrat yang bandul dan tidak mau peduli. Saat ini, alhamdulillah tantangan kami lebih ringan memang.

Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KOMUNITAS SRANGENGE

Maret 5, 2008 at 4:34 pm (Uncategorized)

meeting-produksi-perempuan-tanah-copy.jpg   

Pemutaran Dan Diskusi 16 Film Kampus

 

Selasa (29/01), auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Lantai III Banten dipadati oleh pengunjung dari berbagai unsur mahasiswa dan masyarakat.  Kedatangan mereka adalah untuk menyaksikan pemutaran film hasil karya mahasiswa komunikasi Untirta yang merupakan kumpulan dari mata kuliah produksi siaran televisi. Acara  yang digelar oleh Komunitas Srangenge, komunitas film yang ada di Untirta  dan Program studi di Ilmu Komunikasi adalah kegiatan  yang pertama kali di gelar di Untirta dengan menampilakan karya film produksi sendiri. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PESTA ENAM TAHUN DAN BAJAJ LIBRARY

Maret 5, 2008 at 3:48 pm (Uncategorized)

aji bareng rijalOleh Aji Setiakarya

 Minggu (2/3) pagi hari kami terasa kosong. Gola Gong (GG), penasehat Rumah Dunia harus bergegas ke Purwakarta untuk menjalani pengobatan. Meski tampuk pimpinan sudah lama di tangan Firman Venayaksa kepergian GG yang diagendakan selama 2-3 Minggu itu tetap membuat kami agak hambar.

Tapi Rumah Dunia harus tetap berjalan tanpa Gong. RD, seperti GG bilang bukan lagi miliknya meski terletak di belakang rumahnya. RD sudah menjadi area publik, learning center yang harus menjadi tempat belajar. Karena itulah kami harus tetap bersemangat dan menggelar berbagai event yang mendidik. Senin (3/3) malam kami menggodok lagi agenda ulang tahun RD yang ke-6 yang sudah didiskusikan sebelumnya. Saya, Firman, Deden, Roy dan Awi berdiskusi sambil menyantap es campur dan martabak telor. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MAGELANG AKSARAVAGANZA, MENILIK BUDAYA BACA

September 18, 2007 at 2:51 pm (Uncategorized)

1950073l.jpg

Oleh Aji Setiakarya 

Sabtu (1/5) pagi, Wakil Walikota Magelang Nur Muhammad membuka acara yang berbau keaksraan dan minat baca di Gedung A. Yani, milik yayasan Akademik Militer (AKMIL) Magelang. Acara itu bernama Aksaravaganza. Nama yang populis dan menarik. Beragam acara digelar dalam event untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Magelang itu, dari mulai pameran buku, bincang tentang perpustakaan, bedah buku sampai dengan nonton film bareng. Dalam pembukaan acara yang digagas oleh Unit Pelaksana Tugas Dinas (UPTD) Perpustakaan itu Wakil Walikota Magelang Nur Muhammad yang mewakili Wali Kota Fahriyanto mengakui bahwa dengan membaca itu kita bisa pintar, cerdas dan maju. ”Bapak dan ibu bisa seperti ini karena kita suka membaca,” kata Nur Muhammad yang disambut dengan tepuk tangan dari hadirin. Saya juga ikut tepuk tangan. Pernyataan Wakil Wali Kota sebenarnya bukan hal baru. Sudah semenjak awal kemerdekaan negeri Soekarno, Presiden pertama Republik ini menganjurkan agar kita gemar membaca. Begitu pun dengan presiden selanjutnya seperti Soeharto, Habibie dan Gusdur. Mereka mengungkapkan akan pentingnya minat membaca untuk bangsa ini. Pemerintah Megawati, malah membuat pencanangan Yayasan Taman Bacaan (MANCA) Indonesia pada 2004 dengan mendirikan 50 sanggar di seluruh Indonesia. Begitu pun dengan Presiden Soesilo Bambang Yhudoyono (SBY). Ia mencanangkan Gerakan Gemar Membaca. Terlepas dari tujuannya untuk meraih simpati politik atau tidak langkah mereka mengangkat isu pemberansatan buta aksara adalah hal yang terpuji. Memang tidak bisa disangkal jika membaca adalah kunci keberhasilan dalam merajut kesuksesan. Membaca itu adalah sebuah upaya mengisi pengetahuan, wawasan. Di sana terjadi transfer wacana antara si penulis dan si pembaca. Tidak hanya wacana yang ada di dalamnya, tapi juga membaca adalah celah untuk menumbuhkan ide sehingga kita bisa kreatif dan inovatif sebagai sesuatu yang langka di negeri ini. Potret orang yang membaca juga akan berbeda dengan orang yang tidak membaca. Itu bisa kita rasakan sendiri. Persoalanya kemudian adalah bagaimana cara menumbuhkan minat baca itu di tengah-tengah masyarakat? Reading HabbitBagaimana membaca itu agar bisa menjadi budaya – Reading habbit?. Ini memang pekerjaan rumah (PR) kita bersama. Masyarakat, dan pemerintah harus bersama-sama. Tapi tentu saja harus ada motor penggeraknya. Motor penggerak itu adalah perpustakaan. Perpustakaan harus ditata sebagai tempat yang menggembirakan dan menyenangkan. Persepsi perpustakaan sebagai tempat koleksi dan peminjaman buku harus dirubah. Tidak hanya tempat etalase mewah yang menampilkan buku-buku saja.  Menurut Noor Syamsudin Al- CHaesi, warga Indonesia yang menjadi dosen di Universitas Kebangsaan Malaysia, penjaga perpustakaan di Malaysia mampu menjelaskan isi buku kepada pengunjungnya. Sehingga si pengunjung dapat mendapatkan informasi buku yang sedang dicarinya. Sementara Darmono dalam bukunya Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan menjelaskan, perpustakaan harus menjadi fungsi pendidikan, yang mampu meningkatkan kesadaran diri dan merangsang kreativitas. Fungsi kebudayaan yang mampu mendorong tumbuhnya kreativitas dalam seni adalah hal lain yang harus ditunjukan oleh perpustakaan. Dari sana perpustakaan akan menjadi tempat rekreasi yang memberikan keseimbangan jasmani dan rohani. Dan yang paling ideal adalah adalah perpustakaan bisa menjadi tempat menabung. Yaitu sebagai tempat menghimpun, menyimpan, dan melestarikan karya-karya cetak dan rekaman sebuah peristiwa. Kiprah MasyarakatSekarang ini ada hal yang menggembirakan di tengah masyarakat. Banyak muncul komunitas baca yang diprakarsai baik oleh masyarakat maupun perorangan dengan swadaya mereka sendiri. Beberapa anak muda, mahasiswa juga banyak yang terjun membuat komunitas yang bergerak dibidang baca. Mereka berusaha menampilkan perpustakaan sebagaimana fungsi yang dijelaskan tadi. Sebagai sebuah potret kecil, saya bisa menyaksikannya dalam acara Magelang Aksaravaganza yang digagas oleh UPTD Perpustakaan Kota Magelang yang berlangsung 1-5 September 2007. Geliat komunitas baca itu tampak tinggi. Beberapa komunitas berperan dalam acara ini. Misalnya, Rumah Pelangi, Rumah Dunia, Komunitas Baca Ibnu Hajar, Forum Lingkar Pena dan Komunits Beber Lampah. Dalam sebuah diskusi yang berjudul Menilik Minat Baca di Magelang yang menghadirkan Kepala UPTD Perpustakaan Kota Magelang, Sugiyarti, seorang guru SMP bersemangat untuk memiliki komunitas baca tapi terbentur dengan buku. ”Saya ingin Perpustakaan Keliling datang ke sekolah saya,” kata Ibu yang bernama Hayati itu. Tapi Sugiyarti bilang jika kemampuan dan koleksi bukunya terbatas sehingga ia harus mengatur jadwalnya. “Personil saja masih kekurangan,” kata Sugiyarti. Saat mengenalkan Rumah Dunia, Senin (3/9) kemarin seorang bapak bernama Tri Yoga yang mengaku punya perpustakaan di lembaga tempat bekerjanya. ”Saya kerja di Lapas Magelang. Dengan membaca alhamdulillah banyak berubah,” kata Tri. Namun Tri mengungkapkan jika buku-buku itu kebanyakan adalah pemberian penjenguk atau droping dari perpustakaan daerah Magelang bukan dari anggaran khusus lembaganya. Fenomena ini menandakan bahwa kepedulian masyarakat terhadap minat baca sudah muncul. Mereka sudah tergerakkan. Mereka sadar akan pentingnya minat baca. Pemerintah, harus segera merespon hal ini. Tidak cukup hanya bilang ”Membaca Penting”, ”Membaca mencerdaskan,” saat prosesi pembukaan atau pertemua-pertemuan formal. Tapi pemerintah harus mengambil sikap dan kebijakan yang jelas dengan fenomena ini. *) Aji Setiakarya, Relawan Rumah Dunia, sedang mengikuti Aksaravaganza di Magelang Jawa-Tengah
*) Foto Aji Setiakarya (kiri) dan Muhzen Den (kanan) di pintu gerbang Rumah Dunia
   

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MENDAMBAKAN PERS YANG ETIS

Juni 26, 2007 at 2:31 pm (Uncategorized)

 oji-dkk.jpg

Oleh Aji Setiakarya

Kebebasan pers yang terjadi di Indonesia saat ini telah menarik banyak perhatian komponen masyarakat. Kiprahnya di tengah masyarakat banyak menimbulkan perdebatan. Hal itu terjadi mengingat posisi pers yang strategis di tengah pergumulan dunia globalisasi saat ini. Pers tidak hanya mempengaruhi sebuah kebijakan pemerintahan tetapi juga mempengaruhi opini dan sikap masyarakat dan kadangkala menentukannya. Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar