Pilkada dan Iklan Politik Oleh Aji Bahroji Setiakarya

Oktober 14, 2011 at 2:19 am (Artikel)

Setiap event pemilihan umum selalu ada yang menjadi bahasan yang menarik. Salah satu yang tak luput dari perbincangan adalah iklan para calon kepala daerah. Dari mulai perbincangan di warung kopi sampai di meja-meja perkantoran, iklan menjadi rujukan yang paling gampang untuk dibahas. Pasca reformasi, 1998 setelah pencabutan Surat Keputusan Menteri Penerangan nomor 012/Kep/Menpen/1997 tentang larangan kampanye di koran dan televisi, tren kampanye di dalam negeri terus berubah. Salah satunya adalah maraknya iklan politik di media massa. Dengan jargon dan tagline para kandidat yang akan maju dalam pemilihan umum menampakkan diri dalam upaya menarik simpati masyarakat. Jargon-jargon itu muncul dengan mamanfaatkan media luar ruang, (spanduk, brosur, leaflet gantungan kunci, dll) juga lewat media massa (radio, televisi dan koran).

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KABUPATEN SEMBILAN ITU… BANTEN?

September 12, 2009 at 2:54 am (Artikel)

Oleh Aji Setiakarya

Tulisan ini di muat di Banten Raya Post, 9 September 2009

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dengan Menteri Pemberdayaan Mutia Hatta

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dengan Menteri Pemberdayaan Mutia Hatta

Jum’at (28/8), bertempat di Hotel Permata Cilegon, beberapa sekretaris daerah Kota dan Kabupaten Se- Banten hadir dalam pertemuan  bernama Forum Sekda Se- Banten. Selain Sekda juga hadir beberapa kepala Badan Perencanaan Daerah.  Yang diperbincangkan  adalah  tentang komunikasi, koordinasi dan tentu saja pembagian jatah fresh money yang tidak ideal. Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

Pers Damai, Pers Akomodatif, atau apalah??

Maret 28, 2009 at 1:39 am (Artikel)

Tanggapan Aaas Budiarto Shambazi tentang pers tak boleh netral.

piter

Ikut nimrung soal pers. Karena kebetulan punya latar belakang
jurnalistik dan sekarang bekerja di pers, televisi lokal di Banten. Saya sepakat dengan mas Eko Kertajaya kepentingan warga itu sangat variatif. “A” menurut si Amir belum tentu buat si Amar. Jadi saya sepakat dengan ungkapan “pers dipuji dan pers dimaki”

Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sewindu Banten : Bernostalgia Untuk Membangun

November 15, 2008 at 11:26 am (Artikel)

Alhamdulillah, ini dapat juara tiga
lomba korya tulis yang digelar oleh Banten Raya Post
Dalam rangka Ultah Banten

***

Jika 4 Oktober 2000 dijadikan sebagai hari jadi Provinsi Banten maka 4 Oktober 2008 yang lalu Banten menginjak usianya yang ke- delapan. Pemerintah provinsi sering mengumpamakan Banten masih bayi yang hanya bisa merangkak. Kini bayi itu sudah delapan tahun, artinya sudah besar. Bagi ukuran manusia normal usia delapan tahun sudah bisa mengeja angka atau abjad. Usia delapan tahun sudah boleh masuk sekolah. Artinya ia bisa bergaul dan berinteraksi dengan oranglain.

Lalu apakah, Banten, si bayi kini sudah menunjukan perubahan?

Untuk menjawabnya memang kita tidak bisa serampangan. Penulis berpijak pada pendapat Britany Alasen Sembiring, seorang pemerhati otonomi daerah. Ia mengungkapkan ada beberapa hal yang bisa dijadikan indikasi untuk menilai keberhasilan otonomi daerah. Yang pertama adalah keberhasilan kehidupan ekonomi penduduk. Menurut Britany secara mikro itu bisa diukur dengan meningkatnya daya beli masyarakat terhadap barang-barang konsumsi. Penulis menginterpretasikan ini sebagai kekuatan ekonomi masyarakat tumbuh dengan berbagai macam fenomena yang ada. Masyarakat mampu mengelola potensi alam yang ada sehingga bisa menjadi sumber penghasilan bagi dirinya. Dengan demikian masyarakat bisa menyisihkannya penghasilannya untuk menabung.

Indikasi lainnya yang tak kalah penting adalah pendidikan yang murah dan terjangkau. Pendidikan adalah sebuah instrument untuk memberikan transfomasi nilai-nilai transedental. Pendidikan adalah tempat untuk membina mental masyarakat dan pola pikir yang lebih dinamis dan kreatif juga sebagai indikasi indeks pembangunan manusia. Selain itu indikasi lain yang tak kalah penting adalah kesehatan dan kependudukan. Kesehatan merupakan ruh sebuah kehidupan. Masyarakat yang tertata dengan baik, bersih, sehat dan berpendidikan merupakan tanda daerah yang maju.

Kesenjangan

Jika melihat hal-hal tersebut, kondisi Banten saat ini masih jauh api dari panggang. Meski sudah delapan tahun menjadi provinsi perekonomian masyarakat secara kasat mata tertinggal. Pemberdayaan ekonomi justru masih jauh dari harapan. Hampir kita saksikan setiap hari di beberapa lokasi di Serang, Pandeglang, Cilegon mengantri untuk mendapatkan minyak tanah. Mereka tak sanggup menghadapi badai perubahan ekonomi yang semakin berat. Di media massa , kita juga dapat menyaksikan masyarakat mengantri untuk membeli minyak curah bersubdisi. Ini adalah potret kecil masyarakat yang menunjukan ketidakberdayaan ekonomi.

Lemahnya ekonomi kita juga dapat kita lihat dari kesenjangan infrastruktur antara Utara dan Selatan Banten. Ini perbincangan yang tak pernah selesai semenjak Banten berdiri. Utara seolah-seolah menjadi dominasi atas selatan yang miskin fasilitas. Dari segi alat transportasi, komunikasi dan yang lainnya, Selata selalu tertinggal. Padahal pemerataan infrastruktur sebuah daerah merupakan salah satu keberhasilan dari otonomi daerah. Kesenjangan infrastrutktur ini pula telah melahirkan kesenjangan konsumerisme masyarakat Banten. Disparitas antara utara dan selatan, barat dan timur bisa menjadi perpecahan.

Pendidikan Tertinggal

Dari potret pendidikan pun Banten kalah jauh bergerak dengan propinsi-propinsi seusianya. Pekan lalu saya membaca di beberapa media massa bahwa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) belum mampu menggarap soal-soal untuk Ujian PNS. Ini, menyakitkan. Tapi kenyataan bahwa tak terjadi perubahan yang significant dalam dunia pendidikan. Keneh-keneng bae, ‘mangkonon-mangkonon bae’ Artinya, upaya untuk mendorong pembangunan sumber daya manusia Banten berjalan di tempat. Di kampus saya sering terlibat obrolan serius dengan para pengajar. Diantaranya Muhammad Jaiz, Yoki Yusanto, dan Teguh Iman Prasetya. Mereka menanyakan arah pembangunan pendidikan di Banten. Mereka mengeluh minimnya orang-orang Banten yang bisa mengakses Untirta. Yoki, mantan wartawan MetroTV asal Bandung itu mencontohkan di kelas jurnalistiknya tidak ada satu pun orang Lebak dan Pandeglang.

Padahal pada awal-awal ia bersemangat mengajar karena bisa berbagi informasi dengan orang-orang dari daerah Banten Selatan yang notabene tertinggal itu. Pun demikian dengan Muhammad Jaiz dan beberapa pengajar yang lainnya mengeluhkan hal yang serupa. Ada dua alasan yang bisa menyebabkan hal ini. Pertama mungkin karena SMA-SMA di Banten telah gagal menghasilkan lulusan yang berkualitas. Karena seperti kita ketahui Untirta telah masuk pada jajaran PTN yang mengikuti seleksi melalui ujian bersama seperti Seleksi Penerimaan Siswa Baru (SPMB) yang memungkinkan dijangkau oleh berbagai lulusan di seluruh nusantara. Kedua, bisa jadi Untirta tidak menarik lulusan SMA yang berada di Banten karena kualitasnya memang tertinggal jauh dari PTN-PTN lainnya.

Tanpa ingin memunculkan feodalisme dan definisi pendidikan yang universal, ini tentunya harus menjadi pemikiran bersama. Karena kita tahu bahwa tujuan didirikannya sebuah lembaga pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada. Jangan sampai nantinya pemerintah dareah memberikan subsidi yang besar ke Untirta tanpa memberikan output yang jelas terhadap pembangunan Banten itu sendiri.

Tak berhenti disitu, potret pendidikan juga masih diwarnai dengan masih banyaknya bangunan sekolah yang tak layak pakai. Di beberapa media sering diberitakan sekolah runtuh karena tak direnovasi.

Potret di atas adalah gambaran umum Banten delapan tahun kini. Dibalik kegagalan itu kita tidak bisa menafikan pembangunan dan perubahan yang terjadi. Namun sifatnya parsial dan hanya pada beberpa segi, dan lebih didominasi pada pembangunan fisik. Itu pun diwarnai dengan aroma tak sedap korupsi dan premanisme proyek. Toto St Radik pada refleksi Hari Ulang Tahun Banten ke – 5 pernah menyinggung hal ini. Dan kini, tiga tahun berlalu, kondisinya tak juga berubah.

Nostalgia Dan Semangat Membangun

Banten penuh Nostalgia dengan kejayaan dan heroisme. Dari sisi ekonomi Banten pernah menjadi pusat perdagangan dunia. Ini dibuktikan dengan keberadaan bandar Internasional Karangantu. Menurut Hasan Muarif Ambary (1995) yang dikutip oleh Machsus Thamrin Bandar Karangantu ini tumbuh menjadi sebuah pusat perdagangan yang besar, sehingga membawa Kejayaan Banten dalam pengaruh Islam.

Dari ketatanegaraan Banten juga pernah menorehkan sejarah. Banten telah mengirimkan duta besarnya ke Inggris pada tahun 1682. Dua utusan diplomatik itu adalah Kiai Ngabehi Wira Pradja dan Kiai Abi Yahya Sendana.

Dari dunia pendidikan dan keintelektualan, Ibnu Hamad, seorang doktor komunikasi dari Universitas Indonesia pernah menulis jika kondisi keintelektualan Banten sebenarnya sudah ada sejak dulu. Itu dibuktikan dengan Syeh Nawawi Al-Bantani yang dikenal di jagat dunia. Kemudian Hoesein Djajadiningrat, orang Banten yang menjadi orang Indonesia pertama meraih gelar doctoral di Den Haag Belanda. Dan bukti lainnya adalah sosok A Rivai yang pernah memimpin Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kiranya itu adalah sebuah semangat dan pemecut untuk kita bersama membangun kembali kejayaan Banten. Saat ini pemerintah daerah memegang peranan tinggi untuk menumbuhkan semangat masyarakat. Sebagai regulator, dan perpanjangan pemerintah pusat, pemerintah daerah harus mampu mengelola sumber-sumber yang ada yang kemudian menjadi sumber kesejahteraan untuk masyarakat Banten. Saat ini tampuk kekuasaan politik itu dipegang oleh Ratu Atut Chosiyah sebagi pemimpin pemerintahan daerah. Sebagai kepala daerah yang dipilih secara langsung, Atut memiliki legalitas yang kuat untuk menjalankan perannya melaksanakan amanat rakyat. Untuk menorehkan sejarah, membangun peradaban Banten yang jaya Atut harus mampu mengendalikan kerabat, keluarga dan kroni-kroninya untuk membangun Banten kearah kemajuan. Sementara stakeholder, masyarakat, pers dan komponen lainnya harus bersama-sama mendukung setiap langkah pemerintah yang positif dengan terus kritis tanpa sinisme.

Banten adalah sebuah anugrah dari Allah SWT. Di bumi Sultan ini terhampar laut, telah tumbuh emas, padi dan besi juga beragam potensi alam lainnya. Dari Selatan dan Utara memiliki potensi alam yang tak kalah dengan daera-daerah lainnya. Karena itu, si bayi Banten kini sudah delapan tahun. Seremonial mengenang perjuangan mewujudkan provinsi memang perlu. Agar masyarakat bisa mengingat. Tapi yang paling penting adalah bagaimana mewujudkan cita-cita perjuangan para pejuang itu untuk mewujudkan masyarakat adil sejahtera berlandaskan iman dan taqwa seperti dalam visi misi provinsi Banten.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Mahasiswa Dan Krisis Identitas

Oktober 23, 2008 at 10:44 am (Artikel)

Mahasiswa Dan Krisis Identitas

Oleh Aji Setiakarya

Kabar tawuran mahasiswa tersiar lagi di berbagai media. Kali ini yang terlibat adalah mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan Yayasan Administrasi (YAI). Menurut data yang dihimpun oleh Kompas (16/10) tawuran antara UKI dan YAI ini dalam bulan ini mencapai puluhan kali.

Kasus UKI dan YAI bukan kasus pertama. Jauh sebelumnya sering terdengar tawuran mahasiswa. Di Makassar misalnya, sering terjadi ribut antara mahasiswa, bahkan se kampus. Di televisi tampak terlihat mahasiswa sering melakukan anarkisme pada tawuran tersebut. Mahasiswa saling melemparkan batu dan kayu bahkan merusak fasilitas umum dan kampusnya sendiri. Pada kasus UKI dan YAI ini ditemukan oknum mahasiswa yang menyiapkan diri dengan senjata tajam. Bak preman mereka tampak siap untuk beradu fisik.

Kekerasan

Sepertinya bukan hanya kelompok preman yang tergolong dalam kaum anarkis. Mahasiswa kini juga identik dengan dengan anarkis karena memanfaatkan cara-cara kekerasan untuk menyuarakan jeritan hati atau ide-idenya. Selain tawuran, mahasiswa juga sering terlibat dalam aksi demonstrasi yang tidak sehat. Mereka melakukan longmarch, meneriakan yel-yel sambil menendang pot bunga atau melemparkan tomat pada beberapa bagian bangunan yang diprotes. Bahkan tak jarang membakar atau merusak fasilitas umum. Lihat kasus aksi demonstrasi kenaikan BBM pada akhir Mei 2008 lalu di depan Istana. Tragedi tersebut adalah indikasi bahwa mahasiswa tak bisa mengatur emosionalnya. Mereka terbawa pada kubangan emosi anarkis.

Di Banten, keberingasan mahasiswa juga sering terjadi. Pada sidang paripurna peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Banten ke-8 lalu misalnya, beberapa mahasiswa mencorat-coret jalan dengan pilok yang sengaja mereka bawa. Terbawa dengan emosi mereka seolah tak berpikir jika itu adalah tindakan anarkisme. Apalagi dibarengi dengan pembakaran pengrusakan pada baliho secara paksa. Tawuran sebenarnya adalah salah satu persoalan yang menjangkiti anak muda (mahasiswa) negeri ini. Selain tawuran mahasiswa juga seringkali menampilkan aktivitas yang tidak terpuji. Misalnya mereka seringkali menampilkan adegan mesum, mabuk dan aktivitas lainnya yang hanya mengedepankan hedonisme.


Krisis Identitas

Anarkisme, tawuran, demonstrasi yang anarkis jelas tidak sesuai dengan nilai-nilai kemahasiswaan yang dikenal di tengah masyarakat sebagai agen perubahan, sebagai pengemban moral. Identitas mahasiswa adalah luhur. Ia kemudian disegani ditengah masyarakat karena ia memiliki “gigi” saat kondisi social di terpa ketidakjelasanan. Karena itu setiap kali mahasiswa berteriak lantang atas sebuah penindasan, ketidakadilan, turun ke jalan maka tak sedikit masyarakat membantunya secara sukarela.

Namun era kini, identitas mahasiswa sebagai agent of change, sebagai penanngung moral luntur oleh budaya kekerasan, adegan mesum dan tingkahpolah lainnya yang tak terpuji. Jika potret tersebut terus ditampilkan mahasiswa, maka identitas mahasiswa yang luhur pastilah lenyap. Dadi Rsn, salah satu seniman asal Banten ketika melihat tawuran mahasiswa di televisi mencak-mencak agar mereka yang tawuran tidak disebut dengan mahasiswa karena telah mencederai nilai luhur mahasiwa. Dadi juga mengkritisi tindak tanduk mahasiswa saat ini yang hanya bisa berdemo namun tidak menunjukan prestasi yang bagus. Menariknya Dadi meyakini bahwa kebiasaan tawuran itu adalah kebiasaan dari SMA sejak dulu. Dia memberikan pandangan bahwa jika tidak diberikan bimbingan yang baik. Bukan tidak mungkin si mahasiswa yang kebetulan memiliki akses yang cukup key DPR misalnya, mereka akan tawuran di gedung DPR sana. Selain Dadi banyak lagi masyarakat yang mulai antipati dengan tindak tanduk mahasiswa.

Belajar Pada Laskar Pelangi

Mahasiswa idealnya adalah kelompok yang memiliki basis moral, intelektual yang tinggi. Makanya kemudian, Amien Rais menyebut mahasiswa sebagai agent of change. Hal ini mengingat mahasiswa/akademisi adalah tulung punggung masyarakat untuk sebuah perubahan Jika kini di tengah mahasiswa melakukan anarkisme, pasti ada yang salah dengan pola pendidikan kita. Tentu saja bukan kesalahan lembaga penddidikan tempat mereka berada seperti UKI atau YAI. Saya yakin benih-benih untuk berbuat kekerasan itu sudah tumbuh sejak mereka SMA. Maka itu hanya menyalahkan perguruan tinggi tidaklah tepat. Yang perlu diintrospeksi adalah sistem pendidikan dari mulai SD hingga SMA.

Menyaksikan tawuran mahasiswa itu saya teringat dengan buku dan film Laskar Pelangi yang belakangan ini sedang mewabah di nusantara. Dari sana saya dapatkan pesan bahwa ada hal yang telah dilupakan oleh segenap pengelola lembaga pendidikan atau ahli pendidikan saat ini. Juga dengan orangtua kita. Yakni semangat mengajar dengan hati. Seni mengajar yang diterapkan disekolah saat ini adalah semangat nilai yang mengedepankan otak ketimbang hati. Yang terjadi adalah kita pintar namun tak memiliki kepekaan sosial terhadap lingkungannya.

Seorang guru bernama Bu Muslimah yang tak memiliki pendidikan tinggi ternyata mampu menumbuhkan semangat kepada anak-anaknya. Semangat untuk memberikan rasa percaya diri kepada anak kampung yang tak memiliki harta untuk bersekolah hingga bisa mencapai cita-cita yang tinggi. Semangat untuk menjaga nilai moral.

Tawuran yang ditontonkan oleh mahasiswa pada beberapa televisi dan media lainnya adalah sebuah tanda telah terjadi kesalahan pola pendidikan kita. Sudah saatnya kita menata kembali pola pendidikan yang ideal yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, moral dan hati ketimbang otak atau secarik kertas yang berisi angka-angka. Pintar tapi tak bermoral.

Aji Setiakarya, Mahasiswa Untirta

Bergiat di Rumah Dunia

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

REUNI RUMAH DUNIA DAN PELUNCURAN RUMAH TUKI

Agustus 7, 2008 at 5:34 pm (Artikel)

Oleh Aji Setiakarya

Rencana reuni bagi para alumni kelas menulis Rumah Dunia (RD) akan terealisasi juga. Setelah hampir dua kali diundur, akhirnya kami menetapkan 9-10 Agustus 2008 sebagai waktu yang tepat. Sejauh ini kelas RD sudah membuka kelas menulis sebanyak 11 kali. Masing-masing angkatan diberikan pelatihan 3-5 bulan. Terdiri dari pelatihan jurnalistik, sastra. Pada 1- 7 angkatan diberikan pelatihan skenario film. Namun pada angkatan delapan, mereka pelatihan skenario film diberikan kepada mereka yang sudah lulus dalam pelatihan jurnalistik dan sastra.

Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

BUPATI AKAN CABUT IZIN PT TIRTA

Agustus 7, 2008 at 5:18 pm (Artikel)

Dari Banten Raya Post Edisi Rabu 6 Agustus 2008

SERANG – Bupati Serang Taufik Nuriman mengaku sudah mantap untuk mencabut izin PT Tirta Investama yang berniat menanamkan investasi eksploitasi air bawah tanah (ABT) di Desa Curuggoong, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang. Pernyataan itu disampaikan Taufik saat menghadiri acara penutupan pengajian ulama dan umara Kecamatan Padarincang yang dihelat di Kantor Kecamatan Padarincang, Selasa (5/8).

Bahkan ditegaskan Taufik, rencana itu sedianya dilakukan akhir Juli lalu. “Sebetulnya saya masih mempertimbangkan kebijakan aspirasi warga yang menolak dan warga lainnya yang mendukung keberadaan perusahaan (Pt Tirta –red) itu, agar satu sama lain tidak ada yang merasa dirugikan yang berakhir pada konflik horisontal,” kata Taufik di hadapan ratusan warga Padarincang. “Tetapi karena masyarakat Padarincang terus mendesak saya untuk mencabut seluruh izin yang sudah dikeluarkan, pencabutan itu akan saya lakukan.”

Menurut Taufik, keinginannya itu sudah disampaikan kepada Pimpinan DPRD Kabupaten Serang saat melakukan rapat rencana pembahasan rancangan peraturan daerah (raperda) ABPD Perubahan di Kota Bogor, Senin (4/8) lalu. Setelah itu Ketua DPRD Kabupaten Serang Hasan Maksudi, masih kata Taufik, meminta untuk tidak terburu-buru mencabut izin PT Tirta sebelum ada rekomendasi dari DPRD.

“Pencabutan izin investor tidak bisa dilakukan tanpa ada rekomendasi dari DPRD. Karena itu, kami akan melakukan pembahasan dulu untuk langkah penerbitan rekomendasi itu,” kata Taufik mengutip ungkapan Hasan Maksudi.

Dalam kesempatan itu, Taufik juga mengklarifikasi kepergiannya ke Paris Prancis tidak terkait kepentingan PT Tirta Investama, tetapi atas undangan partnership Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Serang yakni PT Sauh Bahtera Samudera.

Sebelumnya, kedatangan Taufik ke lokasi acara sempat diwarnai isu aksi unjuk rasa ratusan warga Padarincang yang ingin meminta kepastian jawaban Bupati. Ini diketahui berdasarkan informasi yang disampaikan melalui short massage service (SMS) yang diterima Baraya Post. Bunyi SMS itu antara lain “Beberapa masyarakat Padarincang akan melakukan aksi unjuk rasa menyambut Bupati Serang saat menghadiri acara pengajian.”

Tidak hanya itu, di sepanjang jalan dari arah Ciomas menuju lokasi acara terpasang puluhan spanduk yang berisi kecamatan terhadap PT Tirta Investama dan kepada Bupati Serang yang dinilai lambat dalam memberikan keputusan.

Dalam kesempatan sama, juru bicara warga Padarincang Abdul Basit mengaku menyambut keputusan Bupati tersebut. “Tadinya kami akan melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran ke Pemkab Serang. Tapi karena Bupati memberikan keputusan sesuai dengan keinginan kami, niatan itu kami urungkan,” kata Basit.

Namun begitu untuk mendorong terbitnya rekomendasi pencabutan dari DPRD, Basit mengaku akan lebih dulu melakukan pendekatan dialogis. “Tapi jika lamban, terpaksa melakukan aksi,” tukasnya.

Sementara itu, Hasan Maksudi saat dikonfirmasi melalui selulernya membenarkan apa yang disampaikan Taufik. Namun demikian Hasan mengingatkan beberapa hal yang perlu diketahui sebelum bupati melakukan pencabutan izin terhadap investor, sebab mendatangkan investor itu tidak mudah. “Jika Bupati meminta dukungan DPRD untuk mencabut izin PT Tirta, kami akan berikan rekomendasi itu selama dua perusahaan air minum yang lebih dulu melakukan eksploitasi air di Padarincang juga dicabut,” tegas Hasan.

“Kalau memang masyarakat tidak ingin ada eksploitasi air di sana (Padarincang –red), semua perusahaan air yang ada di situ izinnya harus dicabut. Kalau tidak, ada apa dengan PT Tirta? Mengapa warga bersikukuh ingin izin PT Tirta dicabut sementara yang lainnya tidak? Ini menjadi pertanyaan besar,” tandas Hasan.

Selain itu, jika hasil analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang sudah di susun tidak menyalahi aturan, pencabutan itu tidak beralasan. “Kalau dicabut justru akan menjadi masalah lantaran berbenturan dengan aturan hukum,” pungkasnya. (oji)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MASYARAKAT PADARINCANG AKAN DEMO

Agustus 7, 2008 at 6:11 am (Artikel)

MASYARAKAT PADARINCANG AKAN DEMO

Oleh Aji Setiakarya

Rabu (29/7) saya berkesempatan meliput panen raya petani Rumput Laut di daerah Tenjo Ayu, Carenang, Kabupaten Serang yang dihadiri oleh Gubernur Banten Atut Chosiyah dan Bupati Serang Tauifk Nuriman (TN). Perputaran uang di daerah ini menurut salah satu pengusaha rumput laut disana sekitar 12 Miliar. Artinya masyarakat sekitar merasakan keberadaan usaha Rumput Laut ini. Hanya saja mereka mengeluhkan sikap pemerintah provinsi dan kabupaten yang tidak peduli terhadap infrastruktur (jalan) yang rusak parah. Saat audiensi, jelas petani rumput laut ini membutuhkan jalan yang bagus. Saat itu ia langsung menembak Atut Chosiyah sebagai Gubernur Banten untuk segera memperbaiki jalan. Untung, Atut bisa melemparkannya ke Bupati TN sehingga tampak wajahnya memerah. Itu terekam oleh banyak mata termasuk kamera saya.

Sepulang dari acara itu, bersama rekan wartawan lainnya, saya menyaksikan hamparan sawah yang kering kerontang. Tanah merekah, disertai pohon padi yang merah karena tak berhasil tumbuh. Saya melewati sungai terusan Ciujung yang hitam. Dan sungai durian yang tidak terurus. Rekan-rekan wartawan menertawakan kerja Bupati Serang yang kata mereka hanya bisa memberikan salam saat sambutan. Yang membuat kami tertawa yang sesungguhnnya jengkel adalah sekelompok ibu-ibu yang mandi di aliran air yang kotor, hijau, air buangan dan bercampur sampah. Kami prihatin!! Dengan masyarakat seni yang kekurangan air bersih. Seorang rekan diantara kami mengaku pernah menulis hal ini tiga kali di korannya, namun tak ada juga respon dari Pemkab.

Kemana saja Bupati Serang selama ini?? Kemana janji TN saat kampanye yang menjual kesejahterakan rakyat??

Saya teringat kawan Ubayhaqi (anggota DPRD Lampung), pada Minggu (26/7) sebelum saya ke Pontang ia bercerita tentang sistem irigasi Pontang masa lampau. Menurutnya irigasi Pontang saat itu terkenal terbaik di Banten sehingga pertanian berhasil dengan baik. Tidak ada cerita kekeringan sehingga masyarakat gontok-gontokkan seperti sekarang. Namun menurut lelaki asli Pontang lulusan Unila ini adalah pemerintah tidak mau belajar pada sejarah sehingga bukan memelihara malah menghancurkan.

Ini juga yang sedang terjadi di daerah kami di Kampung Cirahab, Desa Curugoong, Kecamatan Padarincang Serang Banten. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang tidak belajar pada pengalaman. Mereka menutup mata atas kerusakan lingkungan yang disebabakan oleh Aqua.

Sepertinya Bupati TN kalah cerdas dengan masyarakat Padarincang yang tinggal di kampung itu. Pak TN tidak bisa memisahkan antara keuntungan dan kerugian untuk masyarakat. Padahal secara kasat mata, jika eskplorasi itu terjadi akan mengeringkan 4000 ribu hektar. Belum lagi potensi kekeringan Cidano mongering. Dari aspek kekeringan ini menyebabkan kehancuran di sektor ekonomi para petani. Mana untungnya untuk rakyat?? Penyerapan Tenaga kerja?? Ehm… paling hebat masyarakat setempat menjadi komandan keamanan, yang gajinya dua jutaan. Coba lihat kerugian yang akan ditimbulkan.

Bupati Tak Kunjung Cerdas

Masyarakat Padarincang sudah cukup cerdas. Sejauh ini mereka tidak pernah melakukan aksi anarkis. Mereka selalu mengikuti aturan demokratis. Mereka menyuarakan aspirasinya dengan beraudiensi dengan wakil rakyat (Komisi D) DPRD Kabupaten Serang, pihak perusahaan dan eksekutif untuk menghentikan pembangunan pabrik Aqua yang dilakukan oleh PT Tirta Investama (TI). Mereka juga menggunakan media sebagai fasilitator dan fungsi kontrol meminta eksekutif mencabut izin pembangunan di sana. Namun, Taufik Nuriman sepertinya tak kunjung cerdas, tiga bulan isu ini bergulir Bupati belum juga punya sikap.

Sabtu (26/7) saya sempat hadir dalam musyawarah warga Padarincang di rumah H Ahsan, Kampung Cempaka Desa Ciomas, untuk penolakan Aqua ini. Pada pertemuan itu hadir beberapa intelek, aktivis beberapa partai politik, mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Palima Cinangka (HIMPALKA), pemuda, perwakilan ulama dan kaum tua. Saya agak merinding juga menyaksikan kesatuan dan kebersamaan mereka ini namun tetap bersahaja. Saya langsung ceritakan ini pada kakek saya yang sudah berusia 75-an. Kakek saya kemudian balik bercerita bahwa pasca pernyataan kemerdekaan oleh Seokarno banyak masyarakat Padarincang khususnya dari Desa Ciomas datang ke Jakarta untuk membantu tentara Indonesia melawa Belanda (NICA). Masih menurut kakek banyak orang Ciomas yang gugur disana atau kembali dengan jenazah. Itu adalah sikap patriotisme masyarakat Ciomas yang tidak dimiliki oleh masyarakat lainnya. Jika mereka punya musuh pantang menyerah.

Memang saya belum membaca fakta tertulisnya. Namun cerita kakek adalah fakta sejarah. Saya berpikir apakah ini reinkarnasi melawan penjajah (ekonomi), kakek mengiyakan. Namun kakek yang pernah menyaksikan Ahmad Chotib, residen Banten kala itu bergerilya ke Ciomas mengingatkan bahwa tantangan sekarang besar adalah duit lan wadon (uang dan perempuan). Dua inilah yang membuat masyarakat hilang keberanian, hilang rasa dan lupa diri. Taktik ini memang sedang dijalankan oleh perusahaan dengan iming-iming akan membangunkan mesjid dan CSR yang berlipat. Ia mendekati orang-orang yang lemah mental. Sampai sekarang tak dipungkiri ada beberapa orang yang masih merapat ke perusahaan. Mereka adalah calo tanah. Sisanya para jawara yang saya sebutkan pada edisi lalu, sudah sadar dengan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh pabrik Aqua ini.

Bahkan masyarakat bergerak sendiri secara ikhlas mengumpulkan dana untuk berbagai kegiatan, rapat, membuat spanduk, transportasi, konsumsi dan lain-lain. Bendahara aksi, H. Ujang berhasil menghimpun dari 10 juta dalam tiga hari.

Rekan, sepekan ini masyarakat mengambil tindakan lebih keras, memasang spanduk yang berisi penolakan keberadaan Aqua dan ledekan terhadap Bupati Serang hampir di setiap desa. Isinya menyepelekan Bupati Taufik. Tapi lacur, bupati sepertinya tak kunjung mendengar aspirasi rakyatnya. Karena itulah pada Selasa (05/8) besok mayoritas masyarakat Padarincang akan menyambut Bupati Taufik Nuriman dengan aksi demonstrasi saat kunjungan pengajian ke Padarincang. “Bupati harus mencabut izin pembangunan TI,” kata Basyit, koordinator masyarakat dengan tegas.

Jika pada Selasa ini Taufik Nuriman tidak mencabut maka hari Rabu (6/8) dipastikan seribuan orang dari perwakilan 32 desa di Padarincang datang ke Pemkab Serang meminta bupati mencabut izin. Sebenarnya masih banyak yang ingin ikut aksi namun dibatasi mengingat kemananan yang sulit dikendalikan apalagi emosi masyarakat yang memuncak. Langkah ini adalah langkah terakhir karena TN tak menghiraukan audiens, spanduk dan media. Pemirsa, rakyat semakin cerdas namun pejabat sepertinya tak lekas cerdas.

Kini saatnya rakyat bergerak sendiri tolak Aqua!!

KAMI YANG MENOLAK:

MUI PADARINCANG,  FORUM ULAMA TAMBIUL UMAH, LPM PADARINCANG, FORUM UMAT BERSATU, MASYARAKAT PETANI BANTEN, FORUM LINTAS BARAT, HIMPUNAN MAHASISWA PALIMA CINANGKA (HIMPALKA), HIMPUNAN MAHASISWA SERANG (HAMAS), MAPALA UNTIRTA (MAPALAUT), BEM UNTIRTA, FORUM KOMUNIKASI KEPALA DESA, IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH, LEMBAGA PERS SIGMA IAIN BANTEN.

Permalink 3 Komentar

BUPATI SERANG NGELENCER KE PERANCIS

Agustus 7, 2008 at 6:06 am (Artikel)

UPDATE BERITA PADARINCANG

Salam, kawan-kawan setelah Bupati Serang Taufik Nuriman bingung. Kini ia di sogok untuk jalan-jalan ke Prancis. Meski masyarakat jelas menolak.

Jelas dan nyata para pemimpin kita memang hanya mementingkan perutnya sendiri.

***

Bupati Serang Ngelencer ke Perancis

Radar Banten Edisi 23 Juli 2008

SERANG – Bupati Serang Taufik Nuriman, Selasa (22/7), berangkat ke negara asal perusahaan air mineral merek Aqua, yaitu Perancis.

Keberangkatan kali ini untuk membicarakan masalah investasi produk air mineral yang pabriknya akan berdiri di Padarincang, Kabupaten Serang.
Sekretaris Daerah Kabupaten Serang RA Syahbandar di sela-sela sambutan pada acara sosialisasi keaksaraan fungsional di aula Setda 2, Selasa (21/7), mengatakan, keberangkatan Bupati kali ini atas undangan perusahaan asal Perancis yang akan menanamkan investasinya di Serang. “Investasi yang akan dibicarakan adalah pengadaan air bersih,” kata Syahbandar seraya menyampaikan salam dari Taufik.
Menurut Syahbandar, keberangkatan Bupati tidak perlu dicurigai, karena biaya akomodasi dan lainnya ditanggung pihak perusahaan (investor). “Semuanya ditanggung oleh pihak perusahaan,” ungkapnya.

Sayangnya, Syahbandar tidak menceritakan secara detil siapa saja yang turut serta mendampingi Taufik. Namun, menurut sejumlah sumber, ada 4 pejabat yang ikut dalam rombongan Bupati ke Perancis.

Sekadar mengingatkan, saat ini perusahaan asal Perancis sedang melaksanakan pembangunan pabrik air mineral merk Aqua, di Desa Curug Goong, Kecamatan Padarincang. PT Tirta Investama selaku perusahaan yang diberi tanggung jawab dalam pembangunan pabrik, akhirnya menghentikan sementara karena mendapat penolakan dari masyarakat setempat yang mengkhawatirkan keberadaan pabrik tersebut akan mengancam ketersediaan air bersih. Tak hanya itu, warga dan ulama setempat juga meminta agar Bupati mencabut izin lokasi yang telah dikeluarkan.
Hingga saat ini Pemkab belum memutuskan apakah izin lokasi akan dicabut atau justru dilanjutkan. Pasalnya, Pemkab masih ragu, karena khawatir akan di-PTUN-kan oleh perusahaan.

Terkait masalah PTUN pihak perusahaan, Kabag Hukum Setda Kabupaten Serang Bustomi membenarkan bahwa dalam aturannya masyarakat dalam hal ini perusahaan bisa mem-PTUN-kan Pemkab. “Kalau bicara mungkin, semua bisa terjadi, termasuk dalam masalah pembangunan pabrik Aqua ini,” kata Bustomi.
Sementara itu, sejumlah kalangan menyayangkan keberangkatan Bupati ke Perancis. Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Serang SM Hartono menegaskan, kegiatan Bupati akan menjadi catatan tersendiri bagi dewan. “Semestinya sebagai seorang pemimpin Bupati mendekat ke masyarakat. Bukan justru mendekat ke pengusaha. Ini menjadi citra buruk bagi kepemimpinannya,” kata Hartono.


Sikap sama diutarakan Abdul Basit, tokoh masyarakat Kecamatan Padarincang. Menurut dia, keberangkatan Bupati ke Perancis membuktikan bahwa Pemkab sudah tidak memiliki rasa keberpihakan kepada masyarakat. “Sudah jelas warga menolak kenapa masih dipertahankan,” ungkapnya. (Karnoto).

Radar Banten Edisi 23 Juli 2008

Permalink 1 Komentar

MOHON BANTUAN, KAMPUNGKU DI OBOK-OBOK

Juli 9, 2008 at 3:54 pm (Artikel)

Senin (7/7) DPRD Serang kembali menggelar rapat kerja membicarakan nasib investasi PT Tirta Investama, anak perusahaan Danone yang membangun pabrik Aqua di Kampung Cirahab Desa Curugoong Kecamatan Padarincang Kabupaten Serang Provinsi Banten. Kalau tak salah menghitung ini adalah kali ketiga DPRD Serang memanggil Eksekutif yang memberikan izin mendirikan bangunan. Jelas, dalam rapat itu juga dibahas tentang penolakan mayoritas warga Kecamatan Padarincang yang menolak pembangunan pabrik Aqua itu yang dianggap merugikan khalayak di Padarincang.

Warga yang terdiri dari ulama, mahasiswa, tokoh pemuda, pelajar dan forum lurah sudah tiga kali mengadakan audiensi dengan pihak DPRD Serang. Dan secara tegas mereka tidak menerima keberadaan pabrik yang bakal menguras air bawah tanah mereka. Harga Mati: Menolak

SAUDARA SETANAH AIR, PARA PEJUANG LINGKUNGAN, KAWAN-KAWAN WARTAWAN, TEMAN-TEMAN BIROKRAT, YANG SAYA MULYAKAN. TERKAIT DENGAN PENOLAKAN WARGA PADARINCANG INI INGIN RASANYA SAYA BERCERITA SEKILAS TENTANG CIRAHAB

***

Mata Air Cirahab adalah sebuah berkah buat warga kampung Sukaraja khususnya dan Padarincang umumnya. Ia menjadi mata air yang menjadi sumber penghasilan untuk orang-orang yang berada di lingkungan Cirahab. Saya memanggil kali ini dengan Air Cimami (Karena disitu ada nama yang bernama Mami. Tokoh masyarakat, anak salah satu tokoh di Padarincang).

Cirahab terletak di kaki Gunung Karang. Gunung yang terbesar di Banten. Lebih dekat lagi dengan Gunung Wangun yang merupakan gugusan Gunung Karang. Dari sebuah sudutnya terdapat mata air yang mengeluarkan air bening dan jernih. Saat saya usia SD hingga SMP ini adalah tempat favorit yang saya kunjungi. Bahkan sampai saat ini masih menjadi tempat kebanggaan saya. Saya sering mengenalkannya kepada kawan-kawan. Airnya yang bening menjadi tempat segar untuk melepaskan dahaga kawan. Rumah saya di Kampung Cisaat, sekitar tiga kilometer ke kampung Cirahab ini. Meskipun begitu saya dan kawan-kawan rela untuk berjalan. Apalagi hari minggu. Sambil olahraga. Itu tidah dilakukan oleh saya tetapi anak-anak kecil dari kampung-kampung yang lain.

Jika kemarau datang Cirahab adalah berkah buat kami. Warga yang berada di Desa Cipayung, Ciomas, Barugbug, Cisaat, Batukuwung, Curugoong, Cisaat, pasti berbondong-bondong mandi bersama, kemudian mengambil air dengan kokang sebagai oleh-oleh pulang Rumah. Indah rasanya. Tak ada beban

Saat saya masih kelas lima SD bersama kawan-kawan saya masih sering memanfaatkannya untuk bacakan, makan bersama gaya Banten, di daun dengan sambal dan ikan panggan hasil tangkapan atau ngegogo.

Namun menginjak Madrasah Tsnawiyah, sekitar 1997-an kondisinya mulai berbeda. Dari sumber utama air Cirahab dibangun sebuah pabrik air minum kemasan. Nama perusahaannya adalah PT NATURAL EKA PERKASA. Warga mulai terganggu, ada percikan kemarahan dari masyarakat. Namun masyarakat membolehkannya karena perusahaan yang konon milik Tomy ini tidak terlampau eksploitatif. Hanya dalam jumlah kecil.

Saudara setanah air

Yang lebih penting lagi sebenarnya adalah mata air Cirahab ini mengairi lebih dari 4000 hektar sawah yang tersebar di Desa Batuwung, Desa Cipayung, Desa Barugbug. Saya tahu persis. Kebetulan Dari Cirahab ini mengalir ke tempat sawah kakek saya yang letaknya sekitar satu kilo dari mata air Cirahab, persisnya di Kampung Ciwarna. Bersama keluarga, saya sering memakainya untuk mandi jika habis kotor-kotoran di sawah. Artinya air ini menghidupi tanah 4000 hektar yang menjadi sumber penghidupan langsung dari empat desa.

Namun pihak perusahaan seperti menutup mata. Diberbagai media mereka bilang tidak akan mengganngu pasokan air dengan alasan yang diambil adalah air bawah tanah.

Parmaningsih, Coorperation Secretary PT Tirta Investama, ketika dimintai tanggapannya soal desakan warga agar pembangunan tidak dilanjutkan, justru mengaku optimis pabrik aqua dapat berdiri di Serang.

Menurut wanita berkacamata ini, terkait kekhawatirkan warga soal ancaman kekeringan beberapa tahun mendatang, Parmaningsih menjelaskan, pihak perusahaan sudah memikirkan hal tersebut. (Radar Banten, 2 Juli 2008)

Mereka juga mengimingi dengan janji lapangan pekerjaan dan kesejahteraan untuk rakyat setempat.

Saya mungkin bodoh untuk persoalan perairan ini. Tapi cobalah tengok

http://www.inilah.com/berita/2008/01/03/6287/tragedi-sukabumi-duka-di-tengah-limpahan-air-(1)/ –

Coba juga klik di mesin pencari Google dan ketik akibat kerusakan AQUA.

Sungguh!!! saya tak bisa membayangkannya jika saudara-saudara kami di Padarincang seperti halnya di Sukabumi

Karena itulah Saudara Setanah Air,

saya menyampaikan pesan masyarakat Padarincang:

Masyarakat Padarincang mohon do’a dari kedzoliman

Birokrat, LSM yang nakal, dan para anggota legeslatif yang serakah. Juga dari godaan sesaat RP I Miliar uang yang akan digelontorkan Tirta Investama kepada warga, semoga terhindari dari hasutan segelintir warga Padarincang yang sudah menjadi calo tanah, dan terhindar dari orang-orang yang telah menggadaikan Cirahab. Kepada PT Tirta Investama warga padarincang memohon maaf karena anda harus keluar dari wilayah kami.

Kepada Saudara Setanah Air,

Kami membutuhkan bantuan saudara-saudara. Kepada para aktivis lingkungan dimanapun berada, teman-teman wartawan, pemerintah daerah Serang, DPRD Banten, Gubernur Banten, Menteri Lingkungan Hidup. Dan siapa saja yang memiliki peranana untuk menolaknya. 4000 ribu hektar sawah, yang selama ini menyuplai beras ke Pasar Induk Rau akan kering kerontang. Sawah yang menjadi sumber penghasilan akan terbengkalai. Para petani di lima desa ini hanya akan gigit jari. Dan tentu saja mandi bareng anak-anak riang saya dulu tidak akan ada lagi ceritanya. Karena tak ada lagi air Cirahab yang jernih itu.

Duhai Tuhan!! Negeri kami sedang di obok-obok.

Mohon Bantuan kawan-kawan. Kami rakyat tak menghendaki. Tapi-tapi tangan-tangan jahil terus mengintai.

www.setiakarya.wordpress.com

Untuk lebih jelasnya

Hubungi

Abdul Basyit (Koordinator)

081911127433

MUI PADARINCANG, FORUM LINTAS BARAT, LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (LPM) KECAMATAN PADARINCANG, FORUM PEDULI LINGKUNGAN, FORUM KOMUNIKASI KEPALA DESA (FKKD) PADARINCANG, MAPALA UNTIRTA, HIMPUNAN MAHASISWA SERANG (HAMAS), MAPALA IAIN, BEM UNTIRTA.

Permalink 14 Komentar

Next page »