Pilkada dan Iklan Politik Oleh Aji Bahroji Setiakarya

Oktober 14, 2011 at 2:19 am (Artikel)

Setiap event pemilihan umum selalu ada yang menjadi bahasan yang menarik. Salah satu yang tak luput dari perbincangan adalah iklan para calon kepala daerah. Dari mulai perbincangan di warung kopi sampai di meja-meja perkantoran, iklan menjadi rujukan yang paling gampang untuk dibahas. Pasca reformasi, 1998 setelah pencabutan Surat Keputusan Menteri Penerangan nomor 012/Kep/Menpen/1997 tentang larangan kampanye di koran dan televisi, tren kampanye di dalam negeri terus berubah. Salah satunya adalah maraknya iklan politik di media massa. Dengan jargon dan tagline para kandidat yang akan maju dalam pemilihan umum menampakkan diri dalam upaya menarik simpati masyarakat. Jargon-jargon itu muncul dengan mamanfaatkan media luar ruang, (spanduk, brosur, leaflet gantungan kunci, dll) juga lewat media massa (radio, televisi dan koran).

Semaraknya upaya untuk menarik simpatik para pemilih dengan berbagai pesan atau iklan politik, menjelang pemlihan umum tidak terlepas pilihan politik negeri ini yang memungkinkan Presiden, Kepala Daerah, atau anggota legeslatif dipilih secara langsung. Para kontestan dipaksa untuk bersinggungan dan berkenalan dengan rakyat. Selain itu mandulnya mesin politik yakni partai politik juga mendorong munculnya iklan politik semakin agresif. Kondisi ini menurut Dedy N Hidayat, akademisi komunikasi UI telah melahirkan para konsultan politik non-partisan (electioneer). Para kandidat memanfaatkan jasa pakar komunikasi, promosi, periklanan dan lembaga-lembaga penyedia jasa periklanan dan kehumasan. Pada momentum seperti itu, media massa, sebagai saluran iklan politik memiliki daya tawar yang mahal. Teori pasar terjadi. Meningkatnya permintaan tentu saja meningkatkan harga sebuah barang. Tak jarang, saat momentum pilkada, perusahaan media massa menaikkan tarif iklan untuk para kontestan yang ingin muncul melebihi iklan produk. Jadilah kemudian pemilu sebagai sebuah industri jasa. Para pengusaha media telah memanfaatkan momentum pilkada sebagai potensi bisnis yang potensial. Disinilah mungkin apa yang disebut Dedy N Hidayat sebagai penetrasi market ke ranah state dan civil society. Denny J.A, seorang pakar konsultan marketing politik, Pemilik Lingkar Survei Indonesia (LSI) sejak 1996 sebelum reformasi bergulir pernah memperjelas jika ada tiga faktor demokrasi Indonesia sangatlah mahal. Pertama, sistem pemilihan tidak lagi elitis, tetapi terletak langsung di tangan rakyat, kandidat dipaksa untuk menjangkau langsung para pemilih sebanyak mungkin. Kedua, pemanfaat iklan politik televisi untuk menjangkau sebanyak mungkin rakyat. Ketiga, Mahalnya bayaran kosultan komunikasi oleh partai politik atau kandidat untuk mempengaruhi rakyat.

Massa Yang Dibeli

Apa yang disinggung oleh Denny J.A dan Dedy N Hidayat, terangkum dalam arena Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)/Pemilihan Gubernur (Pilgub) Langsung Provinsi Banten yang akan memilih Gubernur dan Wakil Gubernur 2012-2017 saat ini. Industrialisasi telah merangsek ke ranah state dan civil society sangat tampak dari berbagai manuver politik para kandidat yang maju dalam pilgub tahun ini.

Cemerlangnya gagasan, dan bagusnya program bukanlah penentu utama. Namun mahalnya tawaran, dan tingginya reward adalah sebuah konsekwensi dari industrialisasi pilgub. Ada kandidat yang didukung oleh hampir tiga puluh partai politik. Sementara kandidat lain hanya satu partai politik.  Seperti halnya teori pasar liberal, tentu saja mereka memaduknnya dengan rasionalitas, logika dan objektivitas. Meski tak menjanjikan menang, namun pemilik modal adalah yang mengendalikan situasi. Untuk memenangkan pertarungan, para kandidat telah sejak dini menampakkan diri lewat spanduk, koran, majalah, leaflet radio dan televisi lokal juga alat peraga komunikasi lainnya. Mereka tidak menyebutnya dengan iklan politik, padahal sesungguhnya isinya membawa pesan untuk mengajak mereka mendukung kandidat. Kandidat yang memiliki modal yang besar bisa terlihat dari banyaknya spanduk yang dibuat, iklan televisi yang diciptakan dan frekeunsi atau durasi kemunculan iklan para kandidat.

Kampanye terbuka, pawai, atau pengerahan massa yang sedang berlangsung pada kampanye terbuka 6 Oktober hingga 15 Oktober nanti akan menjadi pertandingan para kandidat dalam mengerahkan massa. Semua kandidat dengan modal besar tentu , sekuat tenaga akan mengerahkan massa sebanyak mungkin untuk show of para pendukungnya. Tidaklah mustahil diantara mereka banyak massa yang dibeli. Massa yang dibayar untuk memeriahkan dan hanya mengambil bayaranya saja tanpa memahami visi-misi kandidatnya. Terlebih saat ini, masyarakat arus bawah sesungguhnya tidak lagi merasa terwakili dengan berbagai macam slogan dan janji para kandidat.

Itu saya buktikan. Pada Kamis (6/10) malam di sebuah warung kopi di Kemang- Serang. Seorang ojeg membawa brosur salah satu calon gubernur, dengan sangat terbuka dia bercerita jika dia dibayar tiga ratus ribu rupiah untuk menyebarkan brosur sebanyak hampir 2.000 eksemplar. Dia tidak peduli dengan kandidat, yang penting dia mendapatkan fee nya saja. Namun bagi para electioneer, tak jadi soal, yang terpenting saat ini para kandidat tersebut butuh citra baik, pertunjukankan yang mengagumkan, tontonan yang menghibur, kesan yang mempesona dimata para pemilih. Sehingga para pemilih jatuh cinta dan bersedia memberikan suaranya. Konklusi tentang massa yang dibeli memiliki signifikansi dengan analisis para pakar politik dan komunikasi Indonesia pasca reformasi, yakni adanya kapitalisasi politik. Pakar Komunikasi Politik Effendi Gozali dan Ramlan Surbakti, yang dikutip dalam buku tesis Akhmad Danial sepakat jika pergerakan kampanye saat ini tidak bisa dinafikan dengan banyaknya uang yang dimiliki. Money is the mother’s milk of politics (Burton, 1998)

Aji Bahroji Setiakarya Direktur Lingkar Muda Banten, Pembuat Film, Pemerhati Komunikasi Politik

Artikel Ini dimuat di Radar Banten, edisi 14 Oktober 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: