KABUPATEN SEMBILAN ITU… BANTEN?

September 12, 2009 at 2:54 am (Artikel)

Oleh Aji Setiakarya

Tulisan ini di muat di Banten Raya Post, 9 September 2009

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dengan Menteri Pemberdayaan Mutia Hatta

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dengan Menteri Pemberdayaan Mutia Hatta

Jum’at (28/8), bertempat di Hotel Permata Cilegon, beberapa sekretaris daerah Kota dan Kabupaten Se- Banten hadir dalam pertemuan  bernama Forum Sekda Se- Banten. Selain Sekda juga hadir beberapa kepala Badan Perencanaan Daerah.  Yang diperbincangkan  adalah  tentang komunikasi, koordinasi dan tentu saja pembagian jatah fresh money yang tidak ideal.

Hampir semua pemerintah  kabupaten dan kota, kecuali Tangerang Selatan setuju jika koordinasi antara provinsi dan kabupaten  tak harmonis. Bukan persoalan Fresh Money saja yang sering tidak akurat tapi juga persoalan  koordinasi dan fungsi wewenang pemerintah provinsi yang tidak efektif.

Kepala  Bappeda Pandeglang, misalnya mengeluhkan sikap pemerintah provinsi  yang seringkali membangun proyek tanpa koordinasi dengan daerah. Sementara saat proyek itu bermasalah yang menjadi soroatan adalah pemerintah kabupaten. Karena itulah ia mengisaratkan agar  pemerintah provinsi duduk  bersama menjelaskan fungsi dan wewenang antara daerah dan provinsi. Kejengkelan yang sama juga tampak tersirat di wajah Sekrtaris Daerah Cilegon Edi Ariadi dan Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang Benjamin Davnie. Pemerintah  Cilegon, menurut Edi tidak sungkan-sungkan menolak Blok Grant atas  barang  yang  tidak sesuai PAGU yang ada. Semenjak pemerintah provinsi mulai memberikan Blok Grant, menurut Edi Pemerintah Cilegon menolak  barang-barang yang tidak sesuai dengan Pagu yang ada.

Ternyata pertemuan Jum’at (28/8) lalu itu ditindaklanjuti  pertemuan para  walikota Se-Banten  yang tergabung dalam Forum Komunikasi Walikota dan Bupati Se- Banten di Ruang Pertemuan Mahagoni  Imperial Aryaduta Hotel dan Country  Club Kabupaten Tangerang. Kecuali Si Bungsu  Tangerang Selatan perrtemuan itu menolak kebijakan Gubernur Banten Rt Atut Chosiyah atas pengurangan alokasi bantuan keuangan (fresh money) untuk kota dan kabupaten yang terus menyusut (Radar Banten, Minggu 6 September). Pernyataan Walikota dan Bupati ini menegaskan  bahwa  koordinasi dan komuniaksi antara provinsi dan kabupaten terus terpuruk. Bukan bukan hanya persoalan fresh money semata namun terkait wewenang dan fungsi antara daerah dan provinsi yang belum kelar. Seperti yang diungkapkan pada pertemuan para sekda sebelumnya

Otonomi  Daerah

Kejadian hal seperti ini hampir terjadi setiap tahun saat akan pemberian fresh  money. Sikap para Sekretaris Daerah Pemkab dan Kota Se- Banten itu  adalah sikap yang tak elok yang seharusnya tidak terjadi. Namun sikap mereka tentu saja dilatarbelakangi pengalaman buruk terhadap ”penggede” provinsi yang dianggap oleh pejabat pemerintah kabupaten yang  mau  mengatur sendiri.   Bahkan berdasarkan keterangan dari Pejabat di Kabupaten Pandeglang, Satuan Kerja Daerah Provinsi seringkali menghandle pekerjaan yang harusnya bisa dilakukan oleh pemerintah kabupaten.

Jika kita kembalikan kepada Undang-Undang Otonomi Daerah No 22 tahun 1999 sebenarnya sudah  mengatur tata kelola dan kewenangannya  antara provinsi dan Kabupaten-Kota. Sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Juncto Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004  Kewenangan Pemerintah Pusat sedikit tapi mendasar dan strategis. Sedangkan kewenangan daerah lebih besar. Daerah kabupaten/kota adalah penerima kewenangan terbesar. Sedangkan daerah provinsi menerima kewenangan yang bersifat koordinatif, pengawasan, dan pembinaan. Dasar pemikirannya adalah, kabupaten/kota merupakan unit pemerintahan yang langsung melayani masyarakat. Oleh karena itu, bobot kewenangan harus dititik beratkan pada unit pemerintahan ini, bukan pada provinsi. Provinsi diberi kewenangan koordinasi antar kabupaten/kota yang berada di bawah koordinasinya.

Pembagian  Tugas

Memang dalam Undang-Undang tidak dijelaskan secara detail aturan bagaimana pengaturan pekerjaan antara provinsi dan  kabupaten. Karena itulah Gubernur  yang diberikan kewenangan pembinaan  sebagai wakil pemerintah pusat  bisa mendisksusikan dan  merumuskan dengan para bupati atau walikotanya.  Fungsi Gubernur  juga sangat   banyak pada hal koordinasi dan pembinaan daerah. Menodorong  terselenggaranya pemerintahan daerah yang bersih dan bertanggungjawab. Selain menjadi  penengah saat satu daerah berselisih dengan darah lainnya.

Namun yang terjadi  ini sebaliknya, Gubernur melakukan disharmonisasi (perselisihan ) dengan para walikotanya.  Kebijakan  Gubernur Banten Rt Atut Chosiyah seringkali menimbulkan kontroversi walikota dan Bupati. Pernyataan Taufik Nuriman dan Ismet Iskandar  yang mengusulkan Pemerintah Provinsi Banten  menjadi kabupaten yang ke 9 adalah sindiran telak untuk Gubernur Banten. Tampak terlihat komunikasi antara Gubenur dengan Walikota/ Bupati  Se-Banten  terpuruk. Namun kita tidak bisa serta merta menyalahkan Gubernur Banten. Bisa jadi Gubernur sudah  berusaha melakukan komunikasi dan mengajak berdiskusi namun para kepala daerah ini ”keras kepala” tidak mau dibina.

Gubernur  Banten, beserta jajarannya harus segera melakukan  intropeksi. Menjalin lagi  komunikasi yang lebih baik lagi dengan para walikota dan bupati untuk keberlangsungan  roda pemerintahan dan kepentingan masyarakat.

Apa jadinya jika Gubernur Banten  tak mau menyerah  dengan  kebijakannya sementara  Walikota/Bupati yang tergabung akan memboikot dan menolak segala bentuk program provinsi yang ada di kota atau kabupaten? Apakah Banten akan menjadi Kabupaten ke-9?

Aji Setiakarya, Jurnalis

Bekerja di BantenTV

Iklan

1 Komentar

  1. Agus Suhanto said,

    nuhun e atas tulisannya yg menarik…
    kenalkan sy Agus Suhanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: