MIMPI ANAK- MIMPI BANGSA

Agustus 18, 2008 at 9:29 am (Memori)

Enam bulan lalu, sekitar pertengahan Maret 2008 tiba-tiba kami di RD kedatangan seorang perempuan yang menurut saya sudah mencapai usia tua ditemani oleh Ade Suhendar, angkatan kelas menulis angkatan 11, Pak Asep, Santi dan seorang sopirnya. Saat itu saya baru saja menyelesaikan berita di BantenTV. Perempuan yang kemudian saya kenal dengan Ibu Iyu itu menceritakan dorongannya untuk melihat RD setelah membaca sebuah artikel tentang RD. Karena harus menemui Teh Tias, istri Gola Gong saya menemaninya. Apalagi ada Firman Venayaksa, Presiden RD. Sebelum saya pergi saya menangkap semangat yang hebat dari Ibu Iyut. Saya berpikiran, dia sudah tua tapi masih juga bersemangat untuk mendirikan sebuah TBM. Yang membuat saya tergeltik ia adalah orang Jakarta tapi ingin mendirikan perpustakaan di Anyer. Waktu itu saya menyimpan pertanyaan. Kenapa harus di Anyer? Ibu Iyut kemudian menjawabnya Tapi saya harus pergi menemui bu Tias sehingga jawabannya tidak saya serap semuanya.

Saya masih penasaran dengan Ibu Iyut, karena itulah saya meminta nomor Pak Asep, yang membantu Ibu Iyut dari Ade. Setelah mendapatkannya saya putuskan untuk main ke Anyer. Mingg (1/6) saya ke Anyer bersama Juned, adik Ibnu Adam Aviciena. Diantar oleh Ade Suhendar saya kemudian meluncur ke Anyer. Sampai di Anyer saya disambut dengan Ibu Iyut Suharya, di villanya. Disana kami sharing pengalaman, tepatnya saya mendengarkan Ibu Iyu karena sebagai seorang yang lahir di zaman Belanda dan dididik dengan “gaya” Belanda oleh ayahnya ia memiliki wawasan dan pola pikir luas. Di salam RD, di Banten Raya Post saya tulis jika kunjungan ke Anyer itu seperti mendapatkan darah segar, kami di RD semakin banyak kawan sekarang ini. Satu hal yang sulit untuk ditemukan saat ini adalah budaya berbagi. Saya rasa semangat kami miliki yaitu berbagi dan belajar sepertinya juga dimiliki oleh Ibu Iyut.

Saya dan Juned kemudian dibawa ke tempat bakal perpustakaan yang akan didirikanyna. Selain perpustakaan ternyata Ibu Iyut dibantu dengan Pak Asep, Santi dan rekan-rekan lainnya ternyata sudah memberikan pelatihan kepada warga sekitar. Seperti pembuatan gerabah dan sablon. Namun diakui oleh Ibu Iyut ”tidak ada yang bertahan lama.” Ini karena kebanyakan masyarakat ingin mendapatkan uang secara instan, tanpa melalui proses terlebih dahulu. Itulah kelemahan masyarakat negeri ini, selalu saja ingin yang lebih gampang dan cepat. Namun untuk taman bacaan perempuan yang tinggal di Jakarta ini tidak mau mundur. Dibantu Archagela Susanti, anaknya yang bekerja di ANTV dan Asep ia bertekad untuk tetap memberikan pelatihan bagi anak-anak. Lewat taman bacaan yang kemudian diberi nama Rumah Tukik Ibu Iyut ingin melihat anak-anak Jambangan Anyer bisa maju.

POTRET MASYARAKAT

Siapapun boleh bermimpi. Termasuk anak-anak yang hidup di seberang pantai Bandulu yang berdekatan dengan Hotel Marbella ini. Dalam sebuah pementasan teater yang dipentaskan pada saat launching Rumah Tukik, terlukis jika mereka ingin menorehkan mimpi itu dalam sebuah kenyataan. ”Aku bermimpi jadi anak kreatif,” katanya. Macam-macam keinginan mereka. Tentu saja bagi mereka tak gampang. Dengan kondisi ekonomi orangtua mereka yang pas-pasan sepertinya sulit untuk menembus mimpi itu. Meskipun bukan sesuatu yang mustahil bagi mereka.

Sepatutnya pemerintah dalam hal ini berbuat untuk rakyatnya, membatu untuk anak-anak yang memiliki mimpi. Sudah lama pemerintah berbohong kepada masyarakat dengan berbagai slogan dan janji. Coba kita lihat di jalan-jalan baik Gubernur maupun Bupati selalu tebar pesona dan menjual slogan. Taufik Nuriman misalnya, dalam beberapa slogan ia menganjurkan agar masyarakat menjaga kebersihan lingkungan. Ia Juga gencar berceramah agar bisa mengikuti wajib belajar sembilan tahun. Namun mereka hampir tidak memberikan kesempatan yang maksimal. Dinas Pendidikan Kabupaten misalnya seperti tak memiliki niat memperbaiki pendidikan di Serang. Dalam masa penerimaan siswa baru 2008 ini, instansi ini tidak cukup memiliki kekuatan untuk memberikan sanksi kepada sekolah yang memungut biaya mahal. Ironis memang negeri ini. Seorang warga Indonesia yang telah lama tinggal di Belanda, Bambang Soetedjo, mengungkapkan bahwa penyakit pejabat ini adalah karena warisan Orde Baru yang mewarisi budaya korupsi dan kolusi.

Saya sepakat dengan Ibu Iyut, pendiri Rumah Tukik bahwa masyarakat sebenarnya memiliki potensi untuk maju namun kesempatan mereka yang tidak ada. Semangat ini sama dengan kami di Rumah Dunia. Gola Gong, dalam beberapa kesempatan sering menyindir jika pemerintah seperti tidak mau mencerdaskan masyarakat dengan alasan takut masyarakat cerdas sehingga nantinya melawan. Sindiran itu ada benarnya, coba kita saksikan gaya pejabat. Mereka bisa gonta-ganti mobil dalam setiap musim, padahal rakyatnya melara kelaparan.

Pada Sabtu (9/10) saya berkunjung ke Kampung Ciwarna, Desa Batukuwung untuk undangan seorang kawan yang menikah. Saat saya usia SD sampai dengan SMP saya sangat sering ke kampung ini karena bapak menggarap sawah di wilayah ini. Sehabis sekolah saya melewati Kampung Ciwarna. Saat itu Kampung Ciwarna tertinggal bila dibandingkan dengan kampung saya di Ciomas atau di Cisaat. Bangunan disini masih terbuat dari campuran tanah dan kapur. Masyarakat disini pendidikannya tidak terlampau hebat. Paling tinggi adalah SMA. Kondisi SD – nya saja Ciwarna doyong. Meski begitu suasana masih tertata bersih. Air dari sungai Cilehem, yang bermuara ke Gunung Wangun masih mengalir normal dan banyak ruang-ruang untuk bermain untuk anak-anak. Saya sendiri sering memanfaatkan sungai ini untuk mandi. Saat kecil saya bermimpi bisa membuat villa di atas tanah kakek saya ini kena keindahannya bisa menyaksikan gunung yang menjulang dan sawah yang menghampar. Ditambah dengan aliran sungai yang jernih dari matahari Cirahab.

Semenjak SMA saya hampir tak pernah lagi ke Kampung Ciwarna, artinya hampir tujuh tahun saya tak kesana. Saat saya berkunjung ke kampung ini saya berharap kampung tempat bermain saat kecil saya dulu lebih baik kondisinya. Dalam hati saya berharap-harap cemas. Tapi lacur, potret kampung yang berada di pertengahan sawah ini nyaris tak mengalami perubahan. Saya melihat lingkungan sekitarnya malah lebih kumuh dari tujuh tahun silam. Hati saya sebenarnya berkecamuk, kenapa bisa seperti ini. Sungai yang pernah dulu saya gunakan untuk mandi kini nyaris tak berair. Batu-batunya telajang kehausan air. Sementara tempat pemandian kerbau, pemandangan indah saat sore hari, tak lagi berfungsi maksimal. Saya miris melihatnya. Terutama saat melihat madrasah yang dulu saya pernah menyumbangnya kini tak terurus. Mungkin tidak hanya ustad yang tidak ada. Muridnya pun tak ada sehingga membuat madrasah ini tak ubahnya bangunan sisa perang. Naif betul negeri ini. Potret Desa Ciwarna jauh segunung dengan kondisi pejabatnya yang selalu mengumbar kemehawan. Jika kita lihat kantor Bupati Serang, misalnya, kita bisa saksikan mobil dinas mewah dari mulai dari Kijang X Trail sampai dengan Fortuna di gudangnya. Para pejabat ini seperti tak melihat sedikitpun kesedihan warga Ciwarna. Sementara kita tahu Gubenur Banten Ratu Atut Chosiyah menggunakan LANDCRUISER terbaru.

Qizink La Aziva, seorang kawan di Rumah Dunia (RD), kini redaktur di Radar Banten pernah menulis jika negeri ini seperti tak memiliki pemerintah. Seolah berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah mengeruk PAD sementara rakyat dibiarkan sengsara. Mungkin falsafah ini yang juga menginspirasi Bupati Serang Taufik Nuriman. Ia batal mencabut izin PT Tirta Investama (Aqua) yang jelas akan merugikan masyarakat sekitar. Biarkan saja rakyat merugi yang pentingan PAD nambah, mungkin begitu dalam pikirannya.

MIMPI ANAK JAMBANGAN

Terlalu berat jika memikirkan pemerintah yang belagu. Maka itu kita harus berbuat dari

diri kita untuk menanam tunas-tunas muda, anak-anak dan remaja tentu saja. Agar

mereka bisa berkarya, berwawasan dan tidak mewarisi kebodohan. Beberapa komunitas

sudah melakukan hal ini dengan mengawali diri untuk memberikan pencerahan kepada

remaja khususnya dan anak-anak. Di Banten saya mengenal Rumah Dunia, tempat saya

bergabung dan melatih diri, Lentera Kalbu di Pandeglag, Forum Lingkar Pena, Baitul

Hamdi, Lumbung Ilmu di Sepang Ciracas. Selain itu ada komunitas yang pelan-pelan muncul dari tangan masyarakat tanpa pamrih. Misalnya, pada Minggu (10/8) Rumah Tukik yang berarti anak kuya diluncurkan. Pada kesempatan itu saya menyaksikan anak-anak di sekitar kampung Jambangan Desa Bandulu Kawasan Anyer menampilkan pementasan teater yang mempresentasikan bayangan hati mereka yang ingin maju. Ingin merubah dirinya menjadi anak yang kreatif. Dalam hati saya berkata, mereka untung ada komunitas Rumah Tukik yang tidak hanya menyediakan buku bacaan gratis, namun juga memberikan pelatihan kreasi gratis. Seperti menyediakan krayon untuk berlatih menggambar atau angklung untuk berlatih membawakan lagu-lagu sunda. Anak Jambangan lewat Rumah Tukik bisa bermimpi. Bagaimana dengan anak-anak yang lainnya??

Aji Setiakarya, relawan Rumah Dunia

Saat ini bekerja di BANTENTV

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: