MASYARAKAT PADARINCANG AKAN DEMO

Agustus 7, 2008 at 6:11 am (Artikel)

MASYARAKAT PADARINCANG AKAN DEMO

Oleh Aji Setiakarya

Rabu (29/7) saya berkesempatan meliput panen raya petani Rumput Laut di daerah Tenjo Ayu, Carenang, Kabupaten Serang yang dihadiri oleh Gubernur Banten Atut Chosiyah dan Bupati Serang Tauifk Nuriman (TN). Perputaran uang di daerah ini menurut salah satu pengusaha rumput laut disana sekitar 12 Miliar. Artinya masyarakat sekitar merasakan keberadaan usaha Rumput Laut ini. Hanya saja mereka mengeluhkan sikap pemerintah provinsi dan kabupaten yang tidak peduli terhadap infrastruktur (jalan) yang rusak parah. Saat audiensi, jelas petani rumput laut ini membutuhkan jalan yang bagus. Saat itu ia langsung menembak Atut Chosiyah sebagai Gubernur Banten untuk segera memperbaiki jalan. Untung, Atut bisa melemparkannya ke Bupati TN sehingga tampak wajahnya memerah. Itu terekam oleh banyak mata termasuk kamera saya.

Sepulang dari acara itu, bersama rekan wartawan lainnya, saya menyaksikan hamparan sawah yang kering kerontang. Tanah merekah, disertai pohon padi yang merah karena tak berhasil tumbuh. Saya melewati sungai terusan Ciujung yang hitam. Dan sungai durian yang tidak terurus. Rekan-rekan wartawan menertawakan kerja Bupati Serang yang kata mereka hanya bisa memberikan salam saat sambutan. Yang membuat kami tertawa yang sesungguhnnya jengkel adalah sekelompok ibu-ibu yang mandi di aliran air yang kotor, hijau, air buangan dan bercampur sampah. Kami prihatin!! Dengan masyarakat seni yang kekurangan air bersih. Seorang rekan diantara kami mengaku pernah menulis hal ini tiga kali di korannya, namun tak ada juga respon dari Pemkab.

Kemana saja Bupati Serang selama ini?? Kemana janji TN saat kampanye yang menjual kesejahterakan rakyat??

Saya teringat kawan Ubayhaqi (anggota DPRD Lampung), pada Minggu (26/7) sebelum saya ke Pontang ia bercerita tentang sistem irigasi Pontang masa lampau. Menurutnya irigasi Pontang saat itu terkenal terbaik di Banten sehingga pertanian berhasil dengan baik. Tidak ada cerita kekeringan sehingga masyarakat gontok-gontokkan seperti sekarang. Namun menurut lelaki asli Pontang lulusan Unila ini adalah pemerintah tidak mau belajar pada sejarah sehingga bukan memelihara malah menghancurkan.

Ini juga yang sedang terjadi di daerah kami di Kampung Cirahab, Desa Curugoong, Kecamatan Padarincang Serang Banten. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang tidak belajar pada pengalaman. Mereka menutup mata atas kerusakan lingkungan yang disebabakan oleh Aqua.

Sepertinya Bupati TN kalah cerdas dengan masyarakat Padarincang yang tinggal di kampung itu. Pak TN tidak bisa memisahkan antara keuntungan dan kerugian untuk masyarakat. Padahal secara kasat mata, jika eskplorasi itu terjadi akan mengeringkan 4000 ribu hektar. Belum lagi potensi kekeringan Cidano mongering. Dari aspek kekeringan ini menyebabkan kehancuran di sektor ekonomi para petani. Mana untungnya untuk rakyat?? Penyerapan Tenaga kerja?? Ehm… paling hebat masyarakat setempat menjadi komandan keamanan, yang gajinya dua jutaan. Coba lihat kerugian yang akan ditimbulkan.

Bupati Tak Kunjung Cerdas

Masyarakat Padarincang sudah cukup cerdas. Sejauh ini mereka tidak pernah melakukan aksi anarkis. Mereka selalu mengikuti aturan demokratis. Mereka menyuarakan aspirasinya dengan beraudiensi dengan wakil rakyat (Komisi D) DPRD Kabupaten Serang, pihak perusahaan dan eksekutif untuk menghentikan pembangunan pabrik Aqua yang dilakukan oleh PT Tirta Investama (TI). Mereka juga menggunakan media sebagai fasilitator dan fungsi kontrol meminta eksekutif mencabut izin pembangunan di sana. Namun, Taufik Nuriman sepertinya tak kunjung cerdas, tiga bulan isu ini bergulir Bupati belum juga punya sikap.

Sabtu (26/7) saya sempat hadir dalam musyawarah warga Padarincang di rumah H Ahsan, Kampung Cempaka Desa Ciomas, untuk penolakan Aqua ini. Pada pertemuan itu hadir beberapa intelek, aktivis beberapa partai politik, mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Palima Cinangka (HIMPALKA), pemuda, perwakilan ulama dan kaum tua. Saya agak merinding juga menyaksikan kesatuan dan kebersamaan mereka ini namun tetap bersahaja. Saya langsung ceritakan ini pada kakek saya yang sudah berusia 75-an. Kakek saya kemudian balik bercerita bahwa pasca pernyataan kemerdekaan oleh Seokarno banyak masyarakat Padarincang khususnya dari Desa Ciomas datang ke Jakarta untuk membantu tentara Indonesia melawa Belanda (NICA). Masih menurut kakek banyak orang Ciomas yang gugur disana atau kembali dengan jenazah. Itu adalah sikap patriotisme masyarakat Ciomas yang tidak dimiliki oleh masyarakat lainnya. Jika mereka punya musuh pantang menyerah.

Memang saya belum membaca fakta tertulisnya. Namun cerita kakek adalah fakta sejarah. Saya berpikir apakah ini reinkarnasi melawan penjajah (ekonomi), kakek mengiyakan. Namun kakek yang pernah menyaksikan Ahmad Chotib, residen Banten kala itu bergerilya ke Ciomas mengingatkan bahwa tantangan sekarang besar adalah duit lan wadon (uang dan perempuan). Dua inilah yang membuat masyarakat hilang keberanian, hilang rasa dan lupa diri. Taktik ini memang sedang dijalankan oleh perusahaan dengan iming-iming akan membangunkan mesjid dan CSR yang berlipat. Ia mendekati orang-orang yang lemah mental. Sampai sekarang tak dipungkiri ada beberapa orang yang masih merapat ke perusahaan. Mereka adalah calo tanah. Sisanya para jawara yang saya sebutkan pada edisi lalu, sudah sadar dengan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh pabrik Aqua ini.

Bahkan masyarakat bergerak sendiri secara ikhlas mengumpulkan dana untuk berbagai kegiatan, rapat, membuat spanduk, transportasi, konsumsi dan lain-lain. Bendahara aksi, H. Ujang berhasil menghimpun dari 10 juta dalam tiga hari.

Rekan, sepekan ini masyarakat mengambil tindakan lebih keras, memasang spanduk yang berisi penolakan keberadaan Aqua dan ledekan terhadap Bupati Serang hampir di setiap desa. Isinya menyepelekan Bupati Taufik. Tapi lacur, bupati sepertinya tak kunjung mendengar aspirasi rakyatnya. Karena itulah pada Selasa (05/8) besok mayoritas masyarakat Padarincang akan menyambut Bupati Taufik Nuriman dengan aksi demonstrasi saat kunjungan pengajian ke Padarincang. “Bupati harus mencabut izin pembangunan TI,” kata Basyit, koordinator masyarakat dengan tegas.

Jika pada Selasa ini Taufik Nuriman tidak mencabut maka hari Rabu (6/8) dipastikan seribuan orang dari perwakilan 32 desa di Padarincang datang ke Pemkab Serang meminta bupati mencabut izin. Sebenarnya masih banyak yang ingin ikut aksi namun dibatasi mengingat kemananan yang sulit dikendalikan apalagi emosi masyarakat yang memuncak. Langkah ini adalah langkah terakhir karena TN tak menghiraukan audiens, spanduk dan media. Pemirsa, rakyat semakin cerdas namun pejabat sepertinya tak lekas cerdas.

Kini saatnya rakyat bergerak sendiri tolak Aqua!!

KAMI YANG MENOLAK:

MUI PADARINCANG,  FORUM ULAMA TAMBIUL UMAH, LPM PADARINCANG, FORUM UMAT BERSATU, MASYARAKAT PETANI BANTEN, FORUM LINTAS BARAT, HIMPUNAN MAHASISWA PALIMA CINANGKA (HIMPALKA), HIMPUNAN MAHASISWA SERANG (HAMAS), MAPALA UNTIRTA (MAPALAUT), BEM UNTIRTA, FORUM KOMUNIKASI KEPALA DESA, IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH, LEMBAGA PERS SIGMA IAIN BANTEN.

Iklan

3 Komentar

  1. saudah said,

    salam mas Aji…

    ikut prihatin dengan ‘kecerdasan’ pemimpin Kab. Serang…

    eh mas, usul nih… soalnya juga jadi pengetahuan kita semua…

    gimana kalo rekan-rekan yang sedang berjuang menolak keberadaan AQUA kasih penjelasan ke mas Aji yang detail, hubungan antara sawah 4 ribu hektar – yang bener yang mana sih, 4 ribu ato seperti yang ditulis di atas, 4000 ribu hektar (yg terakhir ini dibaca 4 juta hektar ya ? kayaknya berlebihan deh…) – dengan kekeringan. Sementara yang beberapa temen bilang, kalo sistem eksploitasi itu pake air tanah dalam yang teknik pemborannya baik maka air permukaan ngga ikutan kecampur… aku pernah baca air tanah dalam Cirahab itu usianya tergolong ‘air muda’ artinya sekitar seribu tahun….

    Saya mah sekali lagi prihatin… kalo memang bisa sebabkan kekeringan lahan sebanyak itu, trus dengan tidak jadinya AQUA di sana saya juga pingin tau pendapat rekan-rekan di sana, seperti apa kondisi air persawahan di masa depan: sama saja seperti sekarang (pernah diberitakan beberapa minggu lalu oleh media lokal bahwa sudah ada 27 hektar sawah kekeringan) atau lebih buruk atau lebih baik ?

  2. aJI said,

    sALAM mbak Saudah.
    terimakasih atas atensinya.
    yang benar itu adalah 4.000 H.a (Empat Ribu Hektar Area).
    Itu kesalahan saya aja. Mohon dimaafkan..
    Jelas pendapat kami menolak karena bakal berakibat pada
    kondisi air yang ada di sekitar daerah tersebut.

    thanks
    ajie

  3. bays said,

    Dear kang Aji

    mas kalo bisa sering2 lah meliput di Kec. Padarincang, jangan cuma gara2 Aqua doang..
    terimakasih Kang Aji

    bays

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: