UN; PERANG PSIKOLOGIS

April 20, 2008 at 3:14 am (Artikel)

 

Oleh Aji Setiakarya

Dimuat di majalah Kaibon Edis 9 Pro kontra tentang standarisasi Ujian Nasional atau disingkat UN yang rutin tiap tahunnya melemparkan ingatan saya sewaktu duduk di bangku SMA. Saat itu tahun 2003, tepat saya duduk di kelas 3 Madrasah Aliyah Negeri 2 Serang Banten. Tahun itu adalah, tahun yang mendebarkan bagi mereka yang duduk di kelas 3. Karena saat itu Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menjadikan kami semacam kelinci percobaan. Tak pernah terpikirkan di benak kami jika kondisi itu kami yang mengalami. Meskipun standarisasinya masih kecil yaitu paling kecil 3,25 namun kondisi ini membuat kami secara psikologis tertekan. Kami was-was menghadapi kondisi ini. Tapi sungguh kami tak bisa mengelak. Ketetapan menteri pendidikan nasional seperti firman tuhan yang tidak bisa disangkal.

Tentu saja tak ada jalan lain. Sekolah tentu tak mau anak didiknya tertinggal. Selain karena persoalan iba, juga citra sekolah yang buruk pada publik yang tak bisa meluluskan anak didiknya. Ini adalah persoalan urgen bagi sekolah. Apalagi sekolah saya MAN percontohan di Serang, Pandeglang dan Lebak minus Tangerang.

Sekolah sibuk mengadakan belajar tambahan. Bimbingan belajar (Bimbel) istilahnya. Setelah pelajar normal jam satu usai. Saya harus mengikuti lagi jam tambahan ini. Tentu saja dengan biaya tambahan. Saya, ah saya rasa teman-teman yang lain saat itu tidak punya pilihan lain selain mengikutinya. Karena disanalah kami bergelut dengan soal-soal, contoh-contoh ujian. Jujur, kita tidak lagi berpikir bagaimana belajar yang baik pada moment itu. Dalam benak siswa adalah bagaimana bisa menjawab soal sesimpel mungkin dan secepat mungkin. Kebetulan saya mengambil studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Materi yang diujikan adalah matematika, kimia dan fisika. Ah, lier setiap pulang sekolah harus menghapal rumus-rumus. Rumus kimia, fisika juga matematika. Tak ada hari tanpa rumus, kata anak-anak IPA. Tapi memang diakui kami giat mengerjaakan soal saat itu.

Sampai pada saat ujian, niat kami bukan untuk bersungguh-sungguh belajar. Tapi hanya menaklukan soal ujian. Dan alhamdulillah meskipun tak secerdas Einstein, matematika saya mendapatkan nilai di atas 3,00. Artinya saya lulus. Mengerjakan soal-soal ternyata tidak sia-sia. Namun ada yang membuat saya risau. Teman kami yang matematikanya lebih pandai dari saya di kelas tidak lulus. Dia harus mengulang tiga bulan kemudian. Saya kecewa waktu itu. Saya rasa, UN tidak adil. Karena itu saya berdo’a semoga UN tidak lagi menjadi penentu dalam kelulusan. Namun kenyataannya. Anak-anak SMA bahkan SD kini harus mengalami apa yang saya alami. Mengerikan!! Saya ikut bersimpati.

Aji Setiakarya, Sekjen Rumah Dunia Studi di Ilmu Komunikasi Untirta.

Iklan

3 Komentar

  1. pandi said,

    wah…. kalo seinget gw un itu pake kertas jawaban komputer yaa. 🙂 mungkin temen lo itu kertasnya lecek ji jadi jawaban dia ada yang nggak kebaca.. gw aja mesti latihan tiga hari buat ngisi lembar jawaban komputer …

  2. setiakarya said,

    Ah!! ada-ada aja kamu Di…
    nanti komentarin terus ya… tulisan-tulisanku..

    thanks
    salam semangat@!

  3. kurnia said,

    Yah, jangan salahkan UN lah! Bagaimanapun dibutuhkan standar nilai, kalau bagaimanapun lulus, orang-orang sekolah juga asal-asalan. Yang tidak bener itu sistemnya pengajarannya yang maunya cuma mencekoki rumus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: