RUMAH DUNIA JILID DUA

April 15, 2008 at 5:03 pm (Uncategorized)

Oleh Aji Setiakarya

 

Salah satu kehancuran bangsa dan peradaban adalah karena generasi yang lemah. Atau karena generasi yang hilang. Kita bisa bercermin dari sejarah. Yang terdekat dengan kita adalah Sultan Haji, generasi Sultan Ageng Tirtayasa. Karena mental dan akhlak yang lemah ia mengingkari ayahnya yang berada pada jalur kebenaran. Bahkan ia memihak Belanda untuk meruntuhkan kekuasaan ayahnya yang melindungi rakyat Banten saat itu. Sultan Ageng Tirtayasa telah gagal mengkader anaknya. Bila kita tarik dalam konteks keiindonesiaan; kebangkrutan negeri ini pun karena persoalan regenerasi yang tiada. Pasca Presiden Soekarno nyaris pemimpin kita lekang dari kezuhudan. Bangsa ini nyaris tidak memiliki pemimpin. Dan akhirnya, seperti yang kita rasakan ini.

 

RD JILID DUA

Rumah Dunia (RD) pada 3 Maret 2008 lalu memperingati usianya yang keenam. Semarak ini adalah yang ke-dua sepeninggalan Gola Gong (GG), Tias Tatanka (TT) dan Toto St Radik. Firman, saya dan teman-teman di Ciloang; Deden, Royadi, Awi, Oki, Andri dan Ajat diamanahi untuk mengelolanya. GG, TT dan Toto menjadi penasehatnya. Ini sudah menjadi kewajiban kami untuk melanjutkan cita-cita mereka; menciptakan dan mencerdaskan generasi baru Banten meskipun pada kenyataannya tak mudah. Tapi kami bisa membayangkan apa yang terjadi pada saat-saat awal pendirian RD. Toto St Radik pada ulangtahun kemarin menyebut sebagai fase pertama sebagai babad hutan. “Tendang sana tendang sini,” ungkapnya. Itu dilakukan karena masyarakat saat itu masih “tertutup” dalam dunia literasi, terutama kaum birokrat yang bandul dan tidak mau peduli. Saat ini, alhamdulillah tantangan kami lebih ringan memang.

Kami punya banyak teman, komunitas baca muncul di daerah-daerah. Ada Rumah budaya literasi di Cilegon, Lentera Kalbu di Pandeglang, TBM Saija di Rangkasbitung, Rumah Bambu di Pandeglang. Kantor Perpustakaan Daerah sudah ada. Bahkan naik tingkat, berubah menjadi Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD). Ibu Sudiyati sebagai kepalanya sering menjadi tempat sharing kami. Pun Dinas Pendidikan Provinsi Banten sudah mengerti “gaya” kami. Bahkan Ajak Muslim, pegawai Dindik Banten yang hadir pada saat diskusi literasi mengutarakan niatnya untuk melakukan iuran kembali dari para kepala bidang untuk menyumbang RD yang sempat terhenti pada saat Muhammad Widodo menjabat. Sementara para donatur mulai muncul memberikan perhatian. Ada kang Fuad Hasyim yang mulai rutin menyumbang RD, Ahmad Muslich, wong Banteng yang jadi direktur utama Antara dan beberapa donatur yang insidental. Banten Raya Post yang menyediakan halaman khusus untuk kami. Di satu sisi ini adalah kebahagian bagi kami. Di sisi lainnya ini tantangan karena harus amanah ini. Karena itulah agar kami tidak tergelincir, kami tetap membutuhkan masukan dari teman-teman. Para donatur juga para alumni RD lainnya untuk tetap konsisten dalam dunia kami; menciptakan dan mencerdaskan generasi baru tadi. Kami sebut ini sebagai Rumah Dunia Jilid Dua.

 

Semarak Baitul Hamdi

 

Dus, dalam rangka belajar dan berbagi pada Sabtu (22/3) kemarin saya, Deden dan Indra Kesuma meluncur ke Baitul Hamdi yang sedang menggelar semarak Taman Bacaan Masyarakat. Sebagai sesama komunitas yang bergerak dalam bidang literasi tentu saja kami harus saling memberikan semangat dan pengalaman kami masing-masing. “Harus membantu kamu dengan kata,” ungkap Eneng Nurcahyati pimpinan Baitul Hamdi yang hadir pada acara ini. Kemarin saya dan Deden didaulat untuk menjadi dewan juri lomba baca cerita rakyat dan kreasi majalah dinding. Sementara Indra Kesuma, relawan yang juga guru di SMA Islam Al-Azhar ini membantu untuk menilai karya-karya anak-anak yang mengikuti lomba mewarnai dan menggambar. Di TBM Baitul Hamdi sendiri ada Ogi Irawan, Jamjuri, Anto, Itoh dan teman-teman yang lainnya yang sibuk mengatur acara. “Acara ini digelar supaya anak-anak Pandeglang melek dalam literasi,” kata Ogi Ketua Pelaksana.

 

Menulis Di Alun-Alun

Sementara kegiatan lainnya adalah kelas menulis angkatan ke-11. Yang tercatat mendaftar sebenarnya ada 23 orang. Namun yang eksis sampai pertemuan ke-lima kemarin ada 14 orang. Untuk pertemuan kelima Minggu, (22/12) kemarin, kami ajak mereka ke alun-alun Serang Banten. Ini erat kaitannya dengan pembahasan materi yaitu penulisan feature. Belajar di areal terbuka adalah yang pertama untuk kelas menulis angkatan ke-11 ini. Awi bergegas membawa whiteboardnya ke alun-alun dari RD. Sementara Deden sibuk membidik handycam kepada anak-anak yang serius mengikuti materi. Saya sendiri yang memberikan materinya. Selain menyampaikan teknik-teknik baku penulisan feature saya menginformasikan sumber-sumber untuk belajar feature. Sebenarnya tidak ada standar baku untuk penulisan feature seperti halnya definisi berita itu sendiri. Setiap koran atau media punya defini sendiri tentang feature ini. Karena itu saya hanya berbagi pengalaman dan memberikan contoh-contoh future yang bisa mereka jadikan referensi. Standar saya adalah future tidak bosan dibaca, inspiratif dan memberikan informasi yang tak terduga dengan mata kepala kita. Setelah mendapatkan pemaparan tentang future, anak kelas menulis yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar itu langsung mempraktekannya. Dalam waktu satu jam mereka harus mengumpulkan tulisannya masing-masing. Cara begitu sepertinya efektif karena hasilnya ternyata memuaskan kami. Karya mereka akan kami terbitkan di website RD dan akan kami bukukan dalam bentuk buku.

 

“Susah memang. Harus berpikir keras. Tapi buat kami cepat bisa,” ungkap Tursi salah satu peserta kelas menulis. Session pertama kelas menulis adalah jurnalistik. Sebelum belajar future, mereka telah belajar tentang berita, news value dan penulisan hardnews. Dengan begitu, paling tidak mereka mengerti dan bisa menggali informasi yang bisa diangkat berita dan mana yang hanya bisa untuk gosip. Redaktur Pelaksana Langlang Rhandawa, Zee Ahmadi sudah memberikannya pada session sebelumnya.

Selanjutnya pada pertemuan pekan depan, Sabtu (29/3) Muhammad Wahid Fauzi atau yang akrab disapa si Uzi akan berbagi pengalaman tentang proses meliput sampai dengan pengelolaan media massa koran. Uzi mengawali jurnalistik dari yang paling bawah. Dari mulai penulis freelance, wartawan biasa, redaktur sampai sekarang menjadi pemimpin redaksi sekaligus general manager Banten Raya Post. Semoga kedatangan Si Uzi, bisa menambah semangat dan motivasi yang kuat dengan angkatan kelas menulis sebelas ini.

Fiksi

Setelah sesi jurnalistik peserta kelas menulis ini akan belajar fiksi. Firman Venayaksa sudah membuat silabusnya. “Para pembicaranya sudah dihubungi,” ungkap Presiden Rumah Dunia. Dalam fiksi ini Toto St Radik akan menggawangi materi puisi sementara Prosa akan digawangi oleh Firman. Diantara peserta ada yang menanyakan kapan bisa di ajar oleh Gola Gong. Dengan mohon maaf kami harus sampaikan bahwa Gola Gong tak bisa mengisi materi peserta kelas menulis angkatan 11 ini. Ia harus terapi intensif di Purwakarta. Kami itu kami memohon do’a agar mas Gong segera diberikan kesembuhan dan bisa memberikan materi fiksi.

 

Aji Setiakarya, sekretaris jendral Rumah Dunia
Masih studi di Ilmu Komunikasi Untirta

Dimuat di Banten Raya Post, 26 Maret 2008
Kini Salam Rumah Dunia terbit setiap Rabu di Baraya Post

Foto anak-anak saat mengikuti lomba tradisional. Saya suka banget..

Saya lupa yang moto. Entah Royadi Awi atau Deden

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: