ROADSHOW BAJAJ, KUNJUNGAN DAN WORLD BOOKDAY

April 15, 2008 at 5:57 pm (SERAMBI RD)

 

 

Oleh Aji Setiakarya

Siapa yang ingin sekali diluaskan rezkinya, ditambah umurnya, maka hendaklah ia menyambungkan rahimnya (menyambungkan tali persaudaraannya).”  (HR.Bukhari dan Muslim).

Terinspirasi dari hadits ini, kami di Rumah Dunia (RD) yakin dengan semangat persaudaraan itu akan muncul benih kebersamaan. Mungkin RD adalah salah satu representasinya. Gola Gong (GG), yang  punya banyak relasi dan  teman bisa mewujudkan RD.  Ingin melanjutkan tradisi baik itu, akhir tahun 2007 Firman, saya, dan beberapa  relawan mulai berkunjung ke tokoh masyarakat, pejabat  dan komunitas-komunitas di Banten.  Saat itu kami awali dari pak Yoyo Mulyana, Rektor Untirta 2003-2007. Dari sana kami mendapatkan pengalaman berharga. Kritik dan saran yang positif untuk perbaikan RD.   Namun karena berbagai  kendala, akhirnya tidak berlanjut.

 

Roadshow

Pada awal pekan kemarin kami memulainya lagi.  Sambil mengenalkan Bajaj; Mobile Library  kami mengunjungi Ibu Sudiyati, Kepala Perpustakaan Daerah  yang sekarang berubah menjadi Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Banten. Tujuan kami tentu saja membawa semangat  literasi. Semangat untuk menyebarkan virus baca tulis. Disini kami di sambut Ibu Sudiayati dan Sekretarinya Yaya Suhendar.  Setelah dari kantor BPAD kami melayangkan surat  permohonan audiensi kepada Dinas Pendidikan (Dindik) Banten . Ajak Muslim, yang sekarang menjadi sekretarisnya langsung merespon. “Rabu pagi di antos jam delapan,” katanya lewat pesan pendeknya. Maka, Rabu (08/4)  pagi saya, Firman dan Muhzen bergegas menuju Dindik Banten. Selain itu ada Feri Benggala dan Langlang Rhandawa, relawan RD yang sekarang sudah lulus. Langlang sekarang redaktur pelaksana Kaibon sementara Fery Benggala sudah menjadi manajer GMC.

Teman-teman menggunakan motor, sementara saya membawa bajaj. Dalam perjalan ke kantor Dindik Banten yang terletak di Jl Lingkar Selatan Kebon Jahe Serang, bajaj  menjadi pusat perhatian. Ojeg dan tukang becak yang sedang mangkal di beberapa posko melemparkan senyum dan bertepuk tangan. Mungkin karena keberadaannya baru, sehingga membuat si bajaj menjadi daya tarik. Saya hanya  mengangkat tangan sebagai tanda pertemanan sambil tersenyum kepada tukang ojeg dan becak itu.

Ternyata tidak hanya tukang ojeg dan becak yang terlihat aneh. Beberapa orang yang berada di sekitar kantor Dindik Banten langsung melemparkan pandangannya pada kendaraan beroda tiga ini saat parkir di halaman Dindik. Seperti anak kecil. Sambil tertawa, mereka berkerumun, meneliti bajaj ini. Apalagi saat mereka tahu di box yang dibawa oleh bajaj ini membaca buku-buku.  Kami tentu bahagia bisa membuat mereka bahagia.

 

Di kantor Dindik, di ruangan berukuran 3×4 meter kami disambut Ajak Muslim.  Pak Ajak yang kami kenal tahun sejak 2004 lalu itu memulai obrolan dengan perluanya minat baca dan pentingnya komunitas membaca. “Tapi saya menyayangkan komunitas yang hanya ada namanya saja,” singgungnya. Yang dimaksud Pak Ajak adalah mereka membuat komunitas membaca untuk kepentingan proyek. Sehingga niatnya tidak untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tapi hanya mendapatka uangnya saja. Firman Venayaksa, Sang Presiden RD kemudian berbagi pengalamannya sebagai tim monitoring yang ditunjuk oleh Departemen Pendidikan Nasional. Menurutnya di Banten itu ada sekitar 300 yang mengaku Taman Bacaan Masyarakat (TBM).  Namun dari jumlah itu tidak lebih dari sepuluh persen yang betul-betul ada.

 

Di tengah asyik berbincang tentang membaca. Firman nyeletuk tentang ruang pak Ajak yang sempit. “Hebat bisa bekerja di ruangan ini,” ungkap Firman. Ajak hanya tersenyum ringan. Ya, awal 2005 kita pernah beraudiensi dengan Dindik Banten, tempatnya di ruko Kota Serang Baru (KSB). Tempat itu sempit dan tidak layak untuk sebuah kantor. Kini, setelah tiga tahun  berlalu kantor Dindik provinsi masih juga menyewa  ruko sebagai kantor. Tapi Ajak dengan raut muka bahagia menceritakan jika Dindik sedang membangun kantor di Pusat Provinsi Banten. Dia berharap bisa bekerjadi ruang refresentatif.  

Puas berbincang dengan Ajak Muslim. Kami menghambur ke luar karena tidak tahan ruangan dengan yang sempit itu sementara kami berlima. Tidak lama berselang, Kadindik Banten Eko Koswara yang meminta kami menunggu  turun dari mobilnya. Lelaki gembur itu langsung melihat-lihat bajaj yang ada di depan kantornya. Eko terlihat menggeleng kepala dan dengan spontanitas Eko berucap dengan bahasa sunda. “Tah, kie. Kudu aya gawe. Ngritik jeng berbuat. Entong kaya LSM nu ngomong bae,” ungkapnya. Pak Eko mencoba menaiki bajaj ini sambil tertawa. Setelah melihat-lihat bajaj kami diajak ke kantor. Terjadilah obrolan yang kedua. Eko yang sebelumnya kepala administrasi itu memberikan apresiasi yang cukup. Ia kemudian bertanya soal operasional RD. Saya mengatakan jika RD alhamdulillah makin banyak yang simpati. Beberapa donator datang dan pergi. Hanya kebutuhan RD semakin besar semakin banyak. Melihat penjelasan kami Kadindik ini kemudian memberikan jalan keluar tentang pendanaan. Ia berniat mengaktifkan sumbangan ke RD seperti yang pernah dilakukan Kadindik Banten Didi Supriadi. Di Bantu Pak Udin, Eko akan meminta sumbangan dari 6 Kepala Bidang yang ada di lingkungan Dindik. “Setiap bulan, coba kami usahakan untuk bisa membantu,” ungkapnya sambil mnegeaskan dirinya akan membantu secara pribadi pula.

 

Setelah dari Dindik Banten, rencananya Rabu (16/4) pagi,  kami akan berkunjung ke Kantor Badan Penanaman Modal Daerah.  “Kita ingin badan ini bisa menanam modal untuk kebutuhan membaca,”  ungkap Firman sambil bercanda. Selain alasan itu Kepala BKPMD, Eneng Nurcahyati adalah salah satu pejabat yang punya kepedulian dengan minat baca. Bersama suaminya, di Menes Pandeglang ia membuat  Taman Bacaan Baitu Hamdi (TBM BAHA). Ia memanfaatkan rumahnya untuk masyarakat terutama anak-anak belajar membaca di sini.  

 

BERBAGI

 

Alhamdulillah, keberadaan RD telah menginspirasi dan memotivasi banyak orang.  Mereka datang, ke RD. Ada yang mau belajar menulis. Ada yang ingin  berkonsultasi cara pengelolaan perpustakaan. Ada  pula yang datang hanya untuk melepaskan kepenatan dan menjadikan tempat ini rekreasi. Pada Rabu (9/4) yang lalu misalnya kami kedatangan warga Jakarta yang memiliki vila di Anyer.  Ade Suhendar, anak kelas menulis angkatan 11 membawa mereka ke RD.  Rombongan ini berniaa membuat taman bacaan di villanya. “Terutama untuk anak-anak,” kata Santi yang mengaku asli Jakarta. Santi yang ditemani oleh ibu dan kedua kawannya itu mengatakan sudah membuka tempat belajar untuk keahlian. “Misalnya membuat tanaman, pot bunga. Hanya saya ingin di sana ad ataman bacaan,” ungkapnya.

 

Sebelum kedatangan tamu dari Jakarta itu, siangnya RD diserbu anak-anak kelas dua SMP 5 Cilegon. “Kita ingin mengenalkan kepada mereka bagaimana menulis, mengarang  membuat buku dan mengelola mading,” kata Ibu Sri yang memandunya. Saya dan Royadi, yang kebetulan sedang ada di RD berbagi ilmu dengan mereka. Berbagi pengalaman saat saya mengelola mading, bergabung di Radar Yunior dan mengelola Website rumahdunia.net.  Sementara pada Sabtu (12/9) teman-teman mahasiswa dari Lebak yang berasal dari STIE Latansa dan STKIP Setiabudhi berkunjung ke RD. Kedatangan mereka adalah untuk berdiskusi cara mendirikan UKM Jurnalistik. “Kami ingin belajar dari sini. Cara membuat pers kampus. Kami ingin di kampus kamu ada persnya,” kata salah satu koordinator rombongan. Gin Ginandjar, wartawan Indo Pos yang sedang ada di RD langsung berbagi pengalaman mengelola tabloid Isolapon di kampusnya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Firman dan saya menambahkan. Ah, kami berbahagi bisa berbagi dengan mereka.

 

WORL BOOK DAY III

 

Di sela-sela kesibukan yang menjadi rutinitas. RD diundang lagi untuk mengisi stand World Book Day (WBD) 3 yang bakal di gelar  di Museum Mandiri Jakarta pada 23-27 April nanti. WBD  adalah event rutin untuk digelar untuk yang  ketiga kalinya. Pada event  ini komunitas membaca, pecinta buku dari berbagai wilayah di Indonesia berkumpul  dengan menunjukan karyanya masing-masing. Sejak WBD 1, Event yang dimotori oleh Forum Indonesia Membaca (FIM), kami terus mengikutinya. “Sekarang RD dapat dua stand lagi. Jangan lupa bawa karya-karya yang menarik,” ungkap Sekar koordinator FIM.  

 

Aji Setiakarya, Sekjen Rumah Dunia

Studi di Ilmu Komunikasi Untirta

Foto: Adit/ Radar Yunior

Aku lagi ngasih materi tentang jurnalistik dan majalah dinding kepada anak-anak SMP 5 Cilegon

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: