PASAR RAU DAN MAULID NABI

April 15, 2008 at 4:06 pm (Memori)

 

Sudah dua hari berturut-turut di  sekitar tempat saya tinggal di Komplek Hegar Alam Banten Serang Banten di ramaikan dengan suara petasan. Bunyinya sambung-menyambung seperti suara petasan dalam alunan pesta. Meriah dan ramai sekali.  Sausana yang sama juga masih terasa pada Kamis pagi (20/11), petasana masih meletus-letus. Tentu saja aku tahu suara petasan muncul dari “pesta” masyarakat kampung yang sedang memeriahkan maulid Nabi Muhammad SAW. 

 

 

Sudah menjadi kebiasaan mayoritas masyarakat muslim Indonesia memperingati kelahiran Nabi Agung ini. Memperingati kelahiran Muhammad adalah  seperti sebuah keharusan bagi sebagai masyarakat Nahdidyin. Seperti halnya  warga muhammadiyah yang tak mau qunut. Saya yang lahir dari keluarga Nahdilin tak bisa mengelak ini. Tapi pagi itu yang  menyeruak dari perasaan saya bukan pergulatan antrara urusan  bid’ah dan tidak bid’ah. Tetapi kondisi perekonomian masyarakat Indonesia yang carut marut sejak awal 2008 ini yang menjadi perhatian.

 

“Untuk mengingat kelahiran Rosulullah.  Sekalin setahuh. Ini juga membuat kita senang. Menghibur,”  kata mang Wasi, seorang warga Ciloang  yang membuat pajangan berbentuk perahu yang dibungkus kain dan  diisi beras serta uang. Bagi Haji Wasi maulid tidak hanya menjadi ritual tahunan dengan membuat pajangan. Lebih dari itu dalam setiap maulid itu  menumbuhkan semangat kecintaan terhadap Nabi Muhammad, sang pembaca risalah. “Tapi tahun ini tapi seramai tahun-tahun yang lalu,” H Wasi mengaku. Apa sebabnya? “Barang pada mahal. Paceklik (keaadan susah),” ungkap Wasi  yang punya warung di kampung ini.  

 

 

Pasar Rau dan Pasar Bebas

 

Bila kita mengikuti respesi “pesta” maulidan yang dimeriahkan dengan pembuatan pajangan, semacam wadah berkat yang dihiasi sebagai tanda keceriaan Rosulullah,  di tempat saya tinggal, potret kelesuan perekenomian itu akan sirna. Masyarakat seolah lupa dengan beras yang mahal, harga terigu, minyak goreng dan telur yang melonjak tajam. Itu bisa saya saksikan juga di pasar-pasar tradisional. Di pasar Keragilan, daerah Serang Timur dimana pagi itu saya melewati pasar ini, saya terjebak  macet. Tak tanggung-tanggung, kemacetan ini sampai I KM lebih. Selain motor, dan mobil, manusia pun bersesakan di jalan raya menuju Jakarta ini. Para pedagang tumbuh di pinggiran jalan. Pedagang sayur, rambutan, tomat, cabe bahkan pedagang ikan. Yoki Yusanto, kameraman Metro TV yang menjadi sopir motor saya hampir saja menabrak pedagang itu menjejerkan rambutan persis di sisi jalan.

 

“Weh.. ini macet total,” katanya sambil mencari celah untuk berjalan.

 

 

Pagi itu pasar bergairah. Matahari yang menyembul dari sudut timur membuat suasana menjadi seru. Ditambah suara klakson mobil dan motor bercampur dengan suara riuh orang di pasar.

 

Wong Cilik Pasrah

 

Tapi apakah masyarakat ini memang sedang bergairah. “Lha ikimah mulud bae ding (inimah karena mulud saja),” ungkap salah satu pengunjung yang berdesak-desakan yang tak sempat saya tanya namanya. Ya, seperti sudah saya sampaikan  di atas bagi sebagian besar muslim di Banten; Tidak mengadakan selamat maulid sama saja tidak mencintai Rosulullah.

 

Nampaknya, tidak hanya pasar Kragilan yang  penuh sesak di bulan Rabiul Awal, bulan kelahiran rosul ini. Di Pasar Induk Rau Serang, suasana sesak tampak berbeda dengan hari-hari biasanya. Para pembeli, sejak pukul tiga pagi sudah berdesak-desakan berebut aneka macam barang. “Kalau siang takut sudah mahal,” kata seorang Ibu warga asal Ciomas yang mengaku membeli ikan bandeng, sayuran dan bumbu ini. Menurut Tuti, pedagang bumbu di Pasar Rau Induk (PIR) Serang,  tidak hanya terigu, minyak dan telor yang melesat harganya, bumbu-bumbu dapur pun ikut naik. Meskipun begitu, ibu ini hanya pasrah.

  

 

Pejabat Miskin Kepedulian

 

Anehnya para pejabat di negeri ini seperti tak punya telinga. Juga tak Mau melihat,  tak punya mata.  Di Banten, di tengah ricuh  kemelaratan ini pemerintah hendak menggelar acara yang menghabiskan uang negara. Mereka mengemasnya berbau agamis yaitu ajang Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional. Saya tentu sepakat dengan event ini. Saya pernah menyabet gelar harapan I Lomba MTQ Tingkat Kabupaten Serang saat saya SD dulu. Tapi amboy!! yang membuat saya terusik adalah biaya yang harus ditanggungnya begitu besar: 42 Miliar. Sekali lagi 42 Miliar saudaraku. Bayangkan uang sebanyak itu habis dalam satu minggu. Sungguh!! Terlalu. Untuk apa saja uang sebanyak itu.   

 

 

 

 

Iklan

2 Komentar

  1. edihudiata said,

    Kang Aji, gimana caranya ngusulin agar MTQ di Banten juga sebagai media memperbaiki perekonomian rakyat Banten? Lalu, apa ide yangbisa kita sumbangkan yah?

  2. setiakarya said,

    Salam Kang Edi

    Untuk saya kang. Mengirit saja sudah menjadi bagian perbaikin ekonomo. Untuk ide, bisa saja
    bisa kang. Misalnya para peserta MTQ menginap di rumah-rumah masyarakat sekitar. Selain lebih murah juga bisa melibatkan psikologis masyarakat. Dan keuntungan tidak hanya di peroleh oleh si pemilik hotel. Untuk makan pun demikian. Misalnya pemerintah tidak mengcatering pada satu atau dua perusahaan catering..

    Ada banyak Edi, jika kita mau mengirit!!

    MAkasih komentarnya
    ajie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: