JURNALISME SASTRAWI, MINAT BACA DAN BAJAJ

April 15, 2008 at 5:11 pm (SERAMBI RD)


Oleh Aji Setiakarya

Jika ada gaya baru dalam mengolah sebuah berita maka itu adalah jurnalisme sastrawi atau sebagian yang lainnya menyebut dengan jurnalisme literer. Itulah yang disampaikan oleh Iwan Piliang, yang hadir memberikan materi Sabtu (5/04) siang di Rumah Dunia (RD) kepada kelas menulis angkatan 11. Berbeda dari pembelajaran-pembelajaran jurnalistik konvensional, gaya kepenulisan berita literer ini lebih mengedepankan pada aspek deskripsi ketimbang opini. “Dan opini hanyalah bumbu yang harus dikemas dengan ringan,” ungkap Iwan yang siang itu datang bersama Didik L Pambudi, Farhat Ali seorang wartawan dan Bowo Sangkala, kontributor Metro TV Banten. Jurnalisme literer memang mulai berkembang belakangan ini. Apa yang menjadi standarisasi jurnalisme literer?. Tak jauh berbeda dengan feature. Ia tak membosankan dan menginspirasi serta sarat dengan nilai-nilai social dan bercerita. Begitulah kira-kira, gambaran jurnalisme literer dalam persfektif Iwan Piliang, pengelola website http://www.presstalk.info yang juga presenter pada acara presstalk yang digelar di QTV ini.

Bagi saya, apa pun gayanya tetap saja berita senantiasa sejajar dengan frekeunsi membaca si pembuatnya. Dari sanalah, si pembuatnya banyak referensi dan kaya wawasan. Seperti halnya koki. Agar masakannya nikmat, maka ia harus memberi bumbu yang lengkap. Pun penulis, agar bisa memikat sidang pembaca maka bumbu yang dipercikannya harus lengkap dan inovatif. Hal itu diakui oleh Iwan, yang juga pernah menjadi wartawan Tempo ini. “Membaca tetap menjadi kuncinya,” ungkap Iwan lagi.

MINAT BACA
Di Indonesia, mungkin hanya beberapa koran saja yang mau mengembangkan gaya literer. Mungkin ini terkait dengan tempat yang tersedia. Dalam satu event, jika kita buat gaya literer maka tidak kurang dari 6000-7000 karakter. Jika ukuran koran Indonesia hampir setengah halaman penuh. Bayangkan, berapa banyak kertas yang dibutuhkan. Nah, ini ada urusanya dengan persoalan bisnis. Belum lagi kemampuan para si jurnalisnya yang harus pandai mengolah sebuah berita.

Seperti halnya yang saya singgung, aktivitas jurnalistik senantiasa searah dengan minat baca. Jika masyarakat itu rendah dalam mengakses media informasi melalui teks maka bisa dipastikan ia mengidap penyakit rendah baca.

BAJAJ; MOBILE LIBRARY
Erat kaitannya dengan minat baca, RD semenjak ulangtahun yang ke-enam lalu telah mempunyai bajaj yang diberinama Mobile Library. Dengan box di belakangnya Bajaj ini bakal menjadi perpustakaan keliling. Bajaj ini sudah nongkrong di beberapa tempat. Jum’at (4/4) lalu, Roy dan Ajat, relawan RD sudah nongkrong di Pesantren Al-Islam Tegal Duren. “Ini permintaan mereka supaya kita datang ke tempatnya,” kata Roy yang menjadi sopirnya. Menurut Ajat selain pesantren Al-Islam, masyarakat di Ciputat Kecamatan Cipocok juga meminta Bajaj ini rutin datang ke tempatnya setiap minggu. “Malah RT-nya menyambut kami dan mengumumkannya lewat mesjid,” cerita Ajat.

Bagi kami, ini adalah kabar gembira. Masyarakat meminta perpustakaan hadir di tempatnya. “Supaya anak-anak bisa membaca di sini,” kata Ajat menirukan pak RT. Saat ini, kita memang harus jemput bola. Supaya mereka dekat dengan bacaan. Jangan lagi kita mengatakan masyarakat malas membaca sementara ruang bagi mereka tidak ada. Jika pun ada, ruang itu tidak dikelola dengan baik. Sehingga membosankan. Pengalaman kami di RD, memang minat baca, anak-anak dan remaja di sekitar kami naik turun. Kadangkala, dalam satu pekan ini mereka rajin datang. Tapi pekan selanjutnya mereka tidak kunjung muncul. Nah, jika menghadapi kondisi ini, kami mengisinya dengan beragam kegiatan yang menarik dan menggembirakan. Karena itulah di RD ada wisata, dongeng, gambar sampai dengan ekpresi. Agar mereka tetap tertarik untuk membaca.

Bajaj yang kemudian dinamai dengan Mobile Library ini adalah hasil kerjasama Nurani Dunia Jakarta, sebuah yayasan dibawah pimpinan Imam Prasodjo, XL Care dan RD. Bajaj ini sebenarnya belum di luncurkan oleh pihak Xl Care. Tapi biarkan saja, kita sudah jalan. Toh niat awal kami adalah untuk menarik masyarakat senang membaca. Bukan seremonial peluncuran.

SENI MENGELOLA TBM
Ada pengalaman menarik saat saya mengikuti Training Of Trainer (TOT) yang digelar oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Jakarta di Bengkulu beberapa waktu lalu. Saya yang menjadi perwakilan Banten jujur saja prihatin melihat kondisi para pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) ini. Lantaran mereka masih memposisikan taman bacaan masyarakat sebagai tempat simpan-pinjam saja. Yang lebih memprihatinkan diantara 37 peserta dari wilayah Indonesia bagian barat, hanya saya yang masih mahasiswa dan berusia paling muda. Rata-rata usia mereka di atas 35 tahun. Waduh. Wajar saja kemudian minat baca bangsa ini tak beranjak meningkat. Yang perlu dikritik lagi adalah, ada peserta yang hanya mendambakan blockgrant saja. Saat saya berkunjung ke beberapa TBM di Bengkulu. Saya merasa berbahagia, meskipun tak pernah di sumbang oleh APBD, koleksi buku di RD masih jauh lebih banyak di banding TBM-TBM itu. Sementara dari kegiatan-kegiatan yang digelar RD pun mungkin nyaris tidak pernah di lakukan oleh TBM-TBM ini. Jadilah saya tempat sharing mereka. Di luar materi formal yang disampaikan oleh tutor, kami sering berdiskusi kecil tentang pengelolaan perpustakaan. Beberapa orang di antara mereka memang pernah ke RD saat TOT di Serang 2006 lalu. Dan mereka tahu kiprah RD. Sementara yang lainnya baru mengetahuinya. Muhammad Sidik, pengelola TBM dari Banjarmasin, Kalimantan Barat malah ngebet pengen ke RD. Begitu juga pengelola TBM Widexs dari Bengkulu Bu Linda. Semoga ini bukan untuk uzub tapi sebagai sebuah introspeksi buat kami. Karena prinsipnya, segala sesuatu harus dikerjakan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. RD itu sendiri tidak jadi tiba-tiba. Tapi, paling tidak membutuhkan waktu 6 tahun untuk membangunnya. Sebelum kami ada Gola Gong, Tias Tatanka, Toto St Radik, jungkir balik mengelola RD. Dibantu teman-teman percetakan seperti Suhud, dan media massa cetak dan elektronik, juga para relawan dan donator adalah kunci sukses RD saat ini. Karena itu persoalan minat baca, tidak hanya persoalan perseorangan atau komunitas semata. Tapi keseluruhan komponen. Semoga kerja kita di balas oleh Allah SWT. Amiin.

Aji Setiakarya, Sekretaris Jendral Rumah Dunia
studi pada Ilmu Komunikasi Untirta Banten
mengikuti TOT TBM Depdiknas di Bengkulu

Artikel ini dimuat di Banten Raya Post Edisi Rabu/9 April 2008 Foto: Langlang Rhandawa; Iwan Piliang saat memberikan materi

Foto: Kayanya Mas Wien Muldian neh. Soalnya Sang Kepala Perpustakaan Depdiknas ini

suka motret-motret. Dan Fotonya pakai Digital SLR lagi. Makanya bening banget.

 

Iklan

2 Komentar

  1. Budiman S. Hartoyo said,

    Maaf, setahu saya, sdr. Iwan Piliang tidak pernah menjadi wartawan TEMPO. Tetapi ia pernah menjadi wartawan SWA (-sembada), yaitu majalah ekonomi yang satu grup dengan majalah TEMPO.

  2. setiakarya said,

    Salam,
    Pak Budiman betul. belum saya revisi.
    Mohon maaf atas kesalahan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: