MELESTARIKAN ALAM KEMBALILAH KE LULUHUR

Februari 27, 2008 at 9:56 am (Artikel)

 baduy2.jpg

Oleh Aji Setiakarya 

Sekjen Rumah Dunia, Mahasiswa Komunikasi Untirta

Gunung ulah dilebur, Lebak ulah dirusak,” ungkap  Jaro Dainah, kekolot Baduy Desa Kanekes Lebak Banten. “Tilu sapamilu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh, (tiga ikut, dua sama, satu itu-itu juga, yaitu mempertahankan alam! kata  Abah Usep, Kaolotan Cisungsang Desa Cibeber, Lebak.   Ya itulah ungkapan bijak yang disampaikan oleh kedua komunitas tradisional di Banten   pada puncak acara Milangkala Seni Forum Kesenian Banten (FKB), Sawala Budaya, yang bertema  Global Warming, Berkaca Pada Tanah Leluhur pada Rabu (13/2).  

Dunia tampak sibuk dengan kondisi alam yang semakin rapuh. Lembaga swadaya masyarakat  lingkungan baik nasional dan internasional menyerukan agar masyarakat di dunia segera merubah kebiasaan merusak alam, menebang hutan, menghentikan pencemaran dan tidak memakai mesin yang bisa menambah emisi. Sebab bumi telah mengalami pemanasan global atau global warming yaitu proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.  Kenapa global warming harus dicegah karena akan berpengaruh  terhadap meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan. Tidak hanya itu pemanasan global  bisa menyebakan hasil pertanian rusak, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan. Singkat kata global warming bisa menjadikan manusia mudharat.

Berbagai konferensi digelar. Tahun 1992 sebuah Komisi PBB melakukan Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio Janeiro Brazil. Dilanjutkan dengan Protokol Kyoto pada tahun 1997.  Namun bukannya berkurang, pencemaran dan penebangan hutan semakin meningkat. Sehingga pada 4-14 Desember  menggelar The 2008 International Conference on Climate Change di Bali. Tidak kurang dari 170-an negara hadir dalam konferensi tersebut.  Mengusahakan lingkungan yang ramah dan nyaman. Mengharapkan lingkungan tidak hancur. Obrolan-obrolan tentang anggaran pun diperbincangkan.  Setiap pemerintah membugeting untuk mengatasi hal ini.

Adat dan Spirit

Di balik itu semua sebenarnya  orang-orang itu sudah lupa. Mereka lupa sesungguhnya alam adalah  satu kesatuan yang utuh dengan manusia dan tidak ada pembatasan, yang satu boleh tandus yang satu harus dihijaukan. Semuanya harus dilestarikan. Itulah yang disampaikan  Jaro Dainah, kekolot orang Baduy, masyarakat pedalaman yang mengasingkan diri. Jaro mengaku selama ini masyarakat Baduy menjaga alam dengan sederhana yaitu dengan dengan adat dan spirit. “Sang Pencipta memerintahkan kita mempertahankan alam sanajan teu kadeuleu dimanana. (walaupun tidak ditegaskan dimana letaknya-red),” ujar Jaro Dainah. Karena itulah masyarakat Baduy takut mendapatkan bala (musibah) jika tidak mematuhi peraturan tuhan tersebut.

Jaro mengaku saudara-saudaranya di Baduy memiliki aturan amin dengan alam  “Seperti Al Quran, kitab yang dijadikan ukuran. Langkah kita, perbuatan kita, ada ukurannya. Begitu juga alam, kami punya ukuran. Gunung ulah dilebur, Lebak ulah dirusak,” tegas Jaro.

Pernyataan Jaro Dainah bisa jadi adalah keliru dan lelucon bagi orang kota, tapi ia dan masyarakat  Baduy telah membuktikannya bahwa itu adalah cara yang efektif untuk menjaga alam mereka.   “Orang Baduy mah mempertahankan alam bukan untuk kepentingan tilu puluh rebu jalema (tiga puluh ribu manusia-red). Tapi untuk dunia lega (dunia luas- red).”

 Selain Baduy kita bisa bercermin kepada warga Cisungsang, Cibeber, Lebak. Abah Usep,  Kaolotan Cisungsang mengatakan bahwa mempertahankan alam adalah prinsip hidup warganya.  “Di desa kami, mempertahankan alam sudah mengakar di jiwa setiap orang. Kalau melihat perbuatan yang merusak lingkungan, menjarah hutan, mengambil hasil hutan, secara otomatis masyarakat kami akan bergerak melawannya,” tutur Abah Usep yang saat itu tampil mengenakan ikat kepala dari kain batik. Pun masyarakat Cisungsang memiliki resep yang sederhana dalam melestarikan alam, mereka taat pada aturan-aturan adat yang sudah ditentukan. Menjaga alam seperti sudah menjadi ritual yang harus dijaga. “Tidak bisa kami jelaskan kepada orang luar kenapa masyarakat tidak berani meninggalkan upacara ini sekali saja dalam hidupnya. Sebab kalau tidak ikut upacara ini, bisa mendapat celaka. Dan ini bukan hanya kabarnya, melainkan terbukti nyata,” ungkap Abah Usep yang baru berusia 34 tahun ini.

Jika di Baduy memiliki ungkapan gunung  ulah dilebur, lebak ulah di rusak warga   Cisungsang  memiliki ungkapan tilu sapamilu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh, (tiga ikut, dua sama, satu itu-itu juga. Yaitu mempertahankan alam!

Kesadaran Dan Hawa Nafsu

 Lalu apa yang  harus dilakukan orang “kota”?

Menurut  Jaro Dainah masyarakat  harus punya sikap dan prinsip hidup yang sama dalam mempertahankan alam jika alam masa dianggapa sebagai sesuatu yang penting. Saat diskusi yang dihadiri oleh mahasiswa dan pelajar itu pun Jaro juga menambahkan  agar masyarakat kota tidak perlu datang ke Baduy untuk belajar tata cara mempertahankan lingkungan. “Belajar bisa di mana saja. Belajar itu berawal dari hawa nafsu. Di mana saja, jangan biarkan hawa nafsu serakah, merusak hutan, merusak lingkungan. Kita harus bisa menjaga hawa nafsu untuk hidup sederhana. Jadi, belajar tak perlu ke mana-mana. Belajar ada pada diri kita sendiri.” Dalam  pandangan warga Baduy persoalan global warming adalah persoalan manusia yang serakah.

Tidak jauh dari Jaro Dainah, Abah Usep, sebagai Kaolotan warga Cisungsang yang mulai terbuka dengan dunia  modern menyaranakan masyarakat sadar  akan fungsi alam dan dampak kerusakan alam. “Nah untuk mengatasi pemanasan global warming kuncinya adalah menumbuhkan kesadaran pada masing-masing orang agar Mau  menjaga alam,” kata Abah Usep dengan bahasa sundanya yang kental.

      

Iklan

1 Komentar

  1. dealer pulsa said,

    bumi adalah tanggung jawab kita untuk melestarikannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: