MENGHUKUM SOEHARTO

Februari 5, 2008 at 8:03 pm (Artikel)

soeharto-copy.jpg

 

               

                                        Oleh  Aji Setiakarya   

 Tulisan ini saya buat Minggu Pagi sekitar pukul  01 sampai suara adzan subuh tiba (sebelum Soeharto wafat jam 13.10)Semoga bermanfaat.

Reformasi itu hampir sepuluh tahun berlalu? Moment yang meruntuhkan kekuasaan Orde Baru dibawah bendera Soeharto itu masih menyisakan banyak persoalan. Salah satu persoalan yang tak kunjung selesai adalah menyangkut persoalan hukum Sang Bapak Orde Baru.

Keadaan kritis  mantan Penguasa Orde Baru Soeharto kembali menimbulkan kontroversi akan perlu dan tidaknya Soeharto di bawa ke meja pengadilan. Sebagian  orang berpendapat Soeharto perlu dibebaskan karena ia teleh memberikan jasa yang banyak terhadap bangsa ini. Soeharto dianggap menjadi pemancang pembanguan Indonesia.  Pembangunan ekonomi, fisik dan budaya. Latar belakang itu di tambah dengan kondisi Soeharto yang kini terus mengalami kritis. Setelah hampir 20 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) pun Soeharto tetap dalam keadaan kritis.Amien Rais yang dianggap menjadi simbol reformasi pun ikut bicara soal ini. Ia secara tegas meminta kepada pemerintah agar memaafkan Soeharto. Mengingat jasa-jasa dan dedikasinya terhadap bangsa. Namun sebagian yang lainnya kekeh untuk terus menyeret  Soeharto ke meja pengadilan. Beragam aksi terus dilakukan dari beragam unsur yang intinnya agar Soeharto tetap diadili. Dosa Soeharto terlalu besar terhadap bangsa ini. Jendral bintang lima ini telah melakukan penganiyaan terhadap banyak orang, membuat sengsara sekelompok komponen bangsa bahkan sebenarnya Soeharto pun adalah pemicu dari kebangkrutan ekonomi Indonesia saat ini. Silang pendapat itu tentu saja harus kita hadapi dengan arif. Dua-duanya memiliki argument yang cukup kuat. Tapi ada batasan dimana kita harus mengukur apakah argumentasi dan alasan itu tepat. Alasan itu misalnya bersandar pada tatanan hukum. Sudah barang tentu hukum harus diteggakkan. Ia tidak mengenal kaya-miskin atau pejabat dan bukan pejabat. Pun dengan kasus hukum Soeharto. Hukum seharusnya dipancangkan. Ada tawaran yang menarik dari Amien Rais. Tokoh Reformasi itu menganjurkan agar Soeharto tetap di hukum atas segala kesalahan yang diperbuatnya selama ini. Setelah dihukum, lalu pemerintah harus memberikan maaf kepada Pak Harto, sebagai bentuk penghormatan kepada bapak pembangunan. Amien beralasan, Kesalahan Soeharto sebenarnya bukan kesalahan personal. Tapi kesalahan Kolektif yang diperbuat oleh anggota dan wakil anggota DPR dan DPRD selama kurang 32 tahun. Artinya jika Mau sungguh-sungguh menghukum maka seluruh anggota dan menteri yang pernah terlibat dengan Soeharto harus dihukum.  Tentu saja tawaran  Amien Rais itu bisa diterima. Tapi bagaimana dengan mereka yang ayah, keluarganya hilang karena pemerintahan Ordea Baru. Tidak sedikit, orang-orang yang merasa “gendeng” dengan Soeharto karena mereka sudah dianiaya, diasingkan bahkan diperlakukan dengan kejam. Inilah kemudian yang mendorong banyak pihak agar Soeharto harus diposisikan sebagai manusia biasa yang harus diadili. Soeharto sudah melakukan pelanggaran HAM, Seoharto sudah menyengsarakan rakyat. Soeharto sudah …. Dan banyak lagi kesalahannya.  Begitu perihnya hati mereka!!Jalan Tengah Tentu saja keinginan satu kelompok dengan kelompok lainnya tidak akan sama. Perlu adanya  aturan main untuk menserasikan keduanya. Aturan main itu adalah hukum. Di Indonesia ada pengadilan yang mengurusi hukum. Karena itulah agar keduanya tidak tersakiti, kasus Soeharto diserahkan kepada pengadilan. Politisi boleh berkomentar banyak, tapi tak boleh mencampuri hukum. Agar  adil, maka biarkan saja serahkan kepada yang berwenang. Agar semuanya, baiak pihak Soeharto atau pihak yang peranh di dzolimi oleh Soeharto,  tidak tersakiti.  Toh, kebenaran mutlak hanya ada di tang Allah.  Mahasiswa Jurnalistik Untirta, Dan Sekjen Rumah Dunia  

                      

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: