Menyambut TV Lokal

Januari 16, 2008 at 2:12 am (Artikel)

dscf2428.jpg   

Oleh Aji Setiakarya

  Kemunculan reformasi 1998 telah melahirkan eforia desentralisasi. Selain melahirkan perangkat perundang-undang yang mengatur desentralisasi politik berupa otonomi daerah juga melahirkan perundang-undangan yang meregulasi desentralisasi penyiaran. Alasannya memang tepat, untuk menumbuhkan kelokalan dan nuansa keberagaman yang selama orde baru terberangus. Karena itulah muncul Undang-Undang Penyiaran (UUP) 2002 yang mengamanatkan realisasi Sistem Stasiun Berjaringan (SSB).  

Tujuan UU Penyiaran 2002 yang mengatur tentang SSB nyata adalah untuk meletakkan pondasi bagi sistem desentralisasi penyiaran. Agar daerah dapat menikmati manfaat yang lebih baik dari ranah penyiaran, baik di wilayah isi siaran (diversity of content) maupun di wilayah bisnis ekonomi penyiaran (diversity of ownership). Maknanya dari UU ini adalah untuk memberikan keleluasaan untuk pembangunan ekonomi, kesejahteraan masyarakat di daerah. Juga Agar penyiaran tidak terkonsentrasi dipusat.

 

Namun sayang, pearaturan tidak mulus karena kalangan televisi swasta, pemilik modal besar mengaku belum mampu. Hingga muncul pasal 60 yang mengatur tentang batas akhir waktu bagi lembaga penyiaran televisi untuk bersiaran dengan SSB. Stasiun televisi nasional diberikan limit lima tahun untuk menyiapkan infrastruktur atau SDM agar bisa melaksanakan undang-undang penyiaran ini.

 

MENYAMBUT TV LOKAL

Efek dari UUP 2002  membuat televisi lokal menggeliat.  Di Bandung telah muncul 11 televisi lokal  diantaranya  Bandung Tv, Pajajaran, IM TV, Setiabudi TV, City Chanel, MQ Tv dan Ganseha TV.  Di Yogya ada  Jogja TV dan belakangan ada Indonsiar Yogya. Di Lampung ada Lampung TV (LTV) dan di Jayapura ada Televisi Orang Papua (TOP). Di Kota kecil Malang sudah ada Agropolitan TV merupakan salah satu stasiun televisi lokal di Indonesia yang menyelenggarakan siaran di Kota Malang, Jawa Timur.

Adi Wirahadi, mantan Mahasiswa Unpad yang kini bekerja di Bandung Tv mengatakan keberadaan TV lokal telah memberikan suguhan baru kepada masyarakat. “Kalau dulu hanya membaca di koran. Sekarang bisa melihat langsung peristiwanya,” katanya.

Ferdinal, kawan chatting saya yang bergiat dibidang event organizer di Lampung mengaku keberadaan Lampung Tv telah menggairahkan anak-anak muda jadi kreatif. Kegiatan-kegiatan yang ada disana bisa terdokumentasikan dan medium komunikasi visual telah melahirkan juga komunitas-komunitas seni lainnya.

Nah, lari ke Banten. Melihat geliat itu saya yakin suatu saat nanti televisi lokal akan ada di Banten. Karena itulah dengan “provokator” mas Gola Gong  saya bersama kang Jaya Komarudin dari Imagi Multimedia (relawan Rumah Dunia sekarang bekerja di Abudabi, UEA) mengadakan workshop film pendek pertama, awal 2006 lalu. Dan peminatnya lumayan, melebihi target yang kami tentukan. Dari workshop itu kemudian lahir Sineas Muda Banten (Sinten). Dan sekarang setelah kemunculan Banten TV lahir komunitas-komunitas film lainnya seperti Srangenge Film di Untirta, AlZemir dan lain sebagainya.

Di luar komunitas film, banyak lagi yang mendambakan keberadaan televisi lokal ini ada komunitas band, komunitas tari dan macam-macam komunitas lainnya. Banyak event kreativitas anak-anak muda Banten lewat begitu saja yang sebenarnya bisa memanfaatkan stasiun televisi lokal ini. Katakanlah pemilihan duta wisata yang diselenggarakan oleh daerah dan kota di Banten. Banten sendiri setiap tahun menggelar ajang Kang dan Nong Banten. Dengan keberadaan televisi gaungnya akan semakin besar. “Saya sangat berharap televisi lokal segera ada di Banten dong,” kata Anggi Rospidia, salah satu nominasi Nong Banten 2007.

BANTEN TV

Sekarang ada Banten TV yang sudah on air sehingga bisa kita manfaatkan untuk medium publikasi dan kreativitas.  Namun, saya membaca di beberapa media cetak lokal, di beberapa titik di Kota Serang  siaran Banten TV mengganggu stasiun televisi lainnya. Saya tidak percaya karena saya berada dekat dengan stasiun Banten TV, di Rumah Dunia Ciloang Serang, stasiun Banten TV dan stasiun televisi lainnya normal. Tapi informasi di media cetak itu betul. Teman saya di Bayangkara mengalami kasus ini. Toto St Radik, penyair nasional yang tinggal di Penancangan ini bercerita  stasiun nasionalnya hilang dengan keberadaan Banten TV. Ia kemudian penasaran dan naik genting untuk mencoba memperbaiki boster. Setelah memperbaiki bosternya ternyata sekarang normal. Begitu pun Ibu Safari yang berada di Komplek Taman Cimuncang  Blok F4 No.2, saya penasaran dan saya telpon ibu rumahtangga ini. Katanya setelah diperbaiki bosternya oleh pihak Banten TV sekarang normal.  Tidak cukup puas, saya konfirmasi ke Banten TV dan  menurut Hartanto, salah seorang  teknisi, sinyal Banten TV memang sangat kuat untuk radius 2 KM dari antena Banten TV. Untuk mensiasatinya masyarakat yang memakai boster untuk memutar  trhimpote,  menurunkan melalui gain control UHF-nya agar bisa normal. Hartanto mengatakan  kebanyakan masyarakat belum mengetahui soal penggunaan boster ini. Karena itu Hartanto siap datang jika ada masyarakat yang mengeluh.  

Banten sudah tertinggal jauh dengan daerah lain dalam hal televisi lokal. Semoga Banten Tv dan masyarakat yang terkena dampak siaran buruk itu bisa memakluminya. Banten TV tidak membuat berang masyarakat. Dan masyarakat yang yang terganggu tidak mengecewekan  kelompok lainnya yang menunggu keberadaan televisi lokal. Apalagi Banten Tv mengusung visi Dari Banten Untuk Nusantara. Kita harus berjalan bersama-sama tanpa ada yang disakiti.  

 Aji Setiakarya, Mahasiswa Komunikasikreatif GMC dan aktif di komunitas film Srangenge Untirta

Iklan

3 Komentar

  1. kevin said,

    asalamualaikum mas ajii…
    menarik jg nih disimak….aq sebagai perantau di banten…tp aq lg di tanah kelahiran niiih….mungkin mas mau add aq di ID ku itu…pengen curhat lebih banyak nih mas….

    sementara itu dlu mas..kita lanjut di email aja mas ato di YM…thanks

    with regard:
    kevin

  2. setiakarya said,

    Wass..

    terimakasih mas kevin bila membuat mas terinspirasi. Ya..
    mari kita berdiskusi. semoga kita bisa menjadi teman yang baik..

    thank
    ajie

  3. m.bela subakti said,

    kak aji…

    ni bela…

    nak komunukasi 2007

    kalo tau ada ajang kang nong kasi tau y…

    pengen ikutan nieh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: