LUMBUNG BANTEN SEBAGAI PEMANTIK

Desember 29, 2007 at 4:10 pm (Artikel)

 Oleh Aji Setiakarya

 writing-camp.jpg

Selama empat hati Kamis-Minggu (6-9/11) saya mengikuti sebuah event literasi nasional, Festival Literasi Indonesia (FLI) di Gedung Koesnadi Hardjasoemantri. Selama empat hari saya kadang iseng, keliling memutari gedung yang disebut juga Eks Purna Budaya di lingkungan UGM ini.  Dinding dan auditoriumnya sederhana tapi teksturnya depannya memikat. Terdiri dari dua gedung utama dan gedung tambahan. Gedung  Utama menjadi tempat beragam acara, seperti pementasan teater dan diskusi. Sementara gedung yang satunya lagi dapat difungsikan sebagai tempat pameran atau pelatihan-pelatihan lainnya. Banyak aktivitas di sini. Selain sebagai sudut yang bisa dimanfaatkan untuk pamer buku, tempat lainnya bisa digunakan untuk pelatihan menggambar, bikin film dan aktivitas lainny yang bisa digunakan untuk kreativitas anak-anak di sekitar Yogyakarta.

 Melihat gedung ini   saya terbang ke sebuah sudut yang ada di Rumah Dunia, berukuran kecil 3x 9 meter. Tempat ini kami sebut dengan Lumbung Banten, dimana saya sebagai penanggungjawabnya. Pada Ramadhan lalu, tepat  8 Oktober 2007 “gedung” kecil ini diluncurkan. Saat itu hadir Prof. Dr. Yoyo Mulyana, M. Ed sebagai representasi kaum akademik menjadi pembicara. Dalam paparannya Yoyo Mulyana yang pernah menjabat sebagai rektor Untirta ini menyebut Lumbung Banten ini sebagai upaya untuk merubah atau hasrat untuk berubah. “Menginspirasi dan memberi semangat,” ungkap Yoyo saat itu. Apresiasi yang begitu tinggi juga disampaikan oleh Iwan K Hamdan, Agus Faisal Karim, Nandang Aradea dan beberapa teman yang hadir dalam peluncuran itu. Tapi ada yang mengingatkan kami yaitu Pemimpin Redaksi Radar Banten yang juga menjadi pembicara Muhammad Widodo. “Dari mana Rumah Dunia  mendapatkan biaya untuk mengolah lumbung ini. Sementara pusat informasi itu butuh biaya untuk memfotokopi misalnya atau merawatnya,” kata Pak Widodo saat itu.     

MULAI DARI YANG KECIL 

 

Yang diungkapkan Pak Widodo menjadi perbincangan kami, para relawan RD jauh sebelum Lumbung Banten di tandur (Diluncurkan). Kami menyadari untuk mengelola sebuah pusat dokumentasi dan informasi membutuhkan dana dan tenaga yang tidak sedikit. Apalagi jika harus membangun sebuah bangunan besar seperti Gedung Eks Purnabudaya Koesnadi Hardjosoemantri di UGM  pasti membutuhkan dana milyaran. Dari mana RD punya uang sebanyak itu?. 

 

Kami tidak ingin berpikir besar dengan menunggu uang milyaran rupiah lalu membangun gedung untuk pusat dokumentasi. Artinya meskipun tidak mempunyai uang kami tetap ingin mewujudkannya secara realistis yaitu memulai dari yang kami mampu seperti halnya Gola Gong, Tias dan Toto membangun RD. Langkah awal yang kami lakukan adalah dengan  mendokumentasikan karya, pemikiran orang Banten atau karya tentang kebantenan berupa majalah, koran atau  buku. Di sini kami telah mengumpulan  buku-buku tentang kebantenan. Misalnya buku-buku Sejarah Banten masa lalu yang ditulis oleh Halwany Michrob. Buku tentang Pemberontakan Petani  1888 karangan sejarawan terkenal Sartono Kartodirdjo yang belum lama ini telah wafat. Buku tentang Sultan Ageng Tirtayasa. Sementara beragam majalah dan koran telah kami dokumentasikan dari mulai yang masih ada sampai yang sudah tidak ada. Misalnya Koran Radar Banten, Fajar Banten, Banten Raya Post, Banten Pos, Majalah Menara Banten, Wisata Banten dan dan lain sebagainya. Selain Buku dan koran ada juga lukisan-lukisan dan dokumentasi beragam kegiatan dari era 1980-an. Kami telah memiliki film dan beberapa lukisan tentang Banten. Selain itu, yang giat kami lakukan adalah menerbitkan buku secara indie karya-karya tentang Banten. Sampai saat ini kami telah menerbitkan 16 buku dengan beragam tema.  Agar Lumbung Banten bisa diakses secara luas kami menerbitkan website gratisan yaitu www.lumbungbanten.wordpress.com, meskipun belum sempurna. Rubrik Lumbung Banten di harian ini juga sebagai bentuk semangat kami. Semoga langkah kecil ini menjadi bermanfaat bagi oranglain. Dan menjadi  pemantik atau inspirasi bagi pemerintah provinsi sebagai pihak yang paling bertangungjawab dalam hal ini.

***

 

Saat saya menunggu stand di FLI Yogyakarta sepekan lalu, saya kedatangan pengunjung dari GreenMap sebuah LSM yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup. Ia berbincang-bincang dengan saya. Ia mengaku pernah ke Serang setelah Banten menjadi provinsi. Ia banyak bercerita mengenai dinamika pertumbuhan daerah, salahsatunya Banten.  Menurutnya Banten itu kering. Pembangunan fisik memang berjalan. Tetapi sedikit yang diperuntukkan untuk pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), gerakan sosial dan keintelektualan, membangun pusat dokumentasi smisalnya. Lelaki itu terlihat  pesimis dengan pembangunan Banten, apalagi . “Menjadi provinsi juga sama saja nggak ada pertumbuhan yang significant. Kecuali pejabatnya,” kata lelaki yang mengaku memiliki rumah di Bandung ini. 

 Saya sepakat dengan omongan lelaki itu. Tapi  tidak dengan pesimisnya. Kita harus optimis, meskipun dalam mimpi, bahwa suatu saat nanti Banten memiliki gedung sebesar Gedung Koesnadi Hardjasoemantri tempat orang-orang berdiskusi dan mangapresiasi. Di dalamnya berjejer rapi sumber-sumber tentang Banten atau karya-karya orang Banten yang menjadi pusat informasi dan dokumentasi. Membangun Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang besar dan megah saja bisa. Masa membangun pusat informasi dan dokumentasi tidak bisa?   

Aji Setiakarya, Kuncen Lumbung Banten Rumah Dunia

Masih belajar Ilmu Komunikasi di FISIP Untirta.

Foto: Dokumen Pribadi (Ka-Ki : Firman-Widodo-Aji-Yoyo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: