MENGENANG EMPAT TAHUN BANTEN PROVINSI

Oktober 27, 2007 at 4:24 pm (Artikel)

101b0760.jpg  

Catatan Untuk Ulang Tahun Banten 

 

  

 “Lah, apasih dadi provinsi lake

     artine, sing senang mah pak Djoko”

   

 

 

 

Dalam bahasa jawa Serang, kata-kata itu meluncur tanpa tedeng aling  ling  dari   Sakar, seorang pengayuh becak yang biasa mangkal di sekitar gedung Dewan Perwaklan Rakyat Daerah Banten tepatnya di samping DPC Golkar Serang. Seirama dengan Mang Sakar. Feisal, Mahasiswa  Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tirtayasa mengaku bahwa perubahan status Banten menjadi provinsi tidak membawa perubahan yang significant bagi  kalangan bawah apalagi daerah selatan “Lu, bisa  lihat sendiri yang banyak berubah itu cuma pejabat sama pengusaha. Masyarakat kecil mah enggak berubah-ubah terus lagi daerah gue mah terpinggirkan” ujarnnya pada saya.

Keluhan-keluhan  Mang Sakar dan Feisal tersebut tidak berbeda dengan persepsi saya,  mungkin juga masyarakat Banten lainnya tentang kondisi Banten saat ini. Selama empat tahun menjadi provisi tidak ada perubahan yang memuaskan, stagnan. Harapan-harapan yang muncul pada saat sebelum terwujudnya Banten menjadi provinsi yakni seperti apa yang dimuat dalam Undang-undang Presiden No 23 tahun 2000 yaitu mendorong peningkatan pelayan pemerintah, pembangunan  dan kemasyarakatan serta  memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah belum juga terwujud.

 Apabila kita korek dari  Undang-undang tersebut Nyata sekali bahwa perumusan dan pembentukan  Banten merupakan usaha-usaha pemerintah pusat sebagai Publik Service untuk meratakan pembangunan dan mensejahterakan masyarakat. Bukan untuk memberikan kekuaasan kepada  satu orang atau kelompok. Public Welfare  adalah sandaran  rumusan pembentukan Provinsi Banten dalam bingkai otonomi daerah.

Namun sampai menginjak tahun yang keempat ini mayoritas masyarakat Banten  belum menikmati “madu” dari perubahan status Banten menjadi  Provinsi. Justru yang ada hanyalah apa yang dikatakan oleh ahli Tata Negara yaitu “raja-raja kecil” yang mendominasi keberlangsungan jalannya pembangunan sehingga bukan kepentingan masyarakat yang diusung tetapi kepentingan segelintir orang. Seringkali kebijakan-kebijakan pemerintah hanya mementingkan kepentingan kelompok

“Raja-raja” itu menimbulkan “lingkaran syetan”, yang menghambat lajunya pembangunan di Banten. Baik pada komponen pemerintah yang berperan dalam peningkatan kapsitas rakyat menuju masyarakat madani (civil society)., maupun dunia swasta sebagai partner pemerintah dalam mensukeskan pembangunan. Alhasil dari “lingkaran syetan” itu menimbulkan keborokan-keborokan yang diderita Banten. Dalam perjalanannya selama empat tahun ini sedikit saya ingin menguliti  “borok-borok” yang pernah  mencuat ke muka umum. Antara lain kasus pembangunan Gedung Dewan yang sampai sekarang belum terwujud, kasus Specifict Grant, sampai sekarang masih diperdebatkan.

 Kasus  Departeman Kelautan dan Perikanan, Pelabuhan Karangantu. Kasus Departemen Pendidikan, SMU Unggulan yang menelan 14,8 Miliyar, terbengkalai. Dan kasus yang masih  hangat adalah uang Perumahan anggota DPRD. Dan banyak lagi kasus-kasus lainnnya yang sulit dilacak. Pantaslah Banten dijuluki provinsi paling korup di Indonesia.

Selain “Raja-raja kecil” itu yang membuat pembangunan Banten mandeg adalah adanya sentralistik kekuasaan dari pemerintah provinsi. Gaya Orde baru ini masih kental di adopsi oleh para pemerintah provinsi. Pemerintah masih dirembesi oleh budaya-budaya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN. Hal semacam ini menimbulkan disparitas wilayah dan ketimpangan-ketimpangan sosial. Dan buktinya ada daerah-daerah yang menyatakan keinginannya memisahkan diri dengan Banten.

Faktor pentingnya lainnya yang menyebabkan Banten mengalami delayed,  keterlambatan dalam membangun adalah tidak dilibatkannya para Stakeholders. Pemerintah  seringkali melupakan peran stakeholder dalam pengambilan kebijaka-kebijakn public. Para stakeholder tersebut bisa dari penggagas, lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang independent, Mahasiswa, Cendekiawan, akedemisi, budayawan, pers dan sebagainya yang berkepentigan dalam pembangunan Banten. Saya melihat misalnya para penggagas saja, mereka menelantarkan Banten setelah terwujud menjadi provinsi.

 Banten Masa Depan

            Banten merupakan berkah yang diberikan Allah SWT kepada kita. Dengan Potensi alamnya yang melimpah, tambang emas, bijih besi terbesar di Asia Tenggara, Obyek Pariwisata yang menarik, dan letaknya yang strategis, pintu keluar masuk pulau Jawa dan Sumatra, dekat dengan Jakarta yang menurut para ahli ekonomi akan menjadi perluasan ekonomi dari Jakarta terlebih sekarang di Banten sedang dibangun Pelabuhan Internasional terbesar se Asia Tenggara, Pelabuhan Bojonegara. Potensi tersebut menjadikan Banten menarik para investor baik dalam maupun luar negri.

            Pelimpahan wewenang dari pusat kepada daerah atau di kenal dengan Desantralisasi seperti dijelaskan dalam UU 20/1999 merupakan komitmen Negara Republik Indonesisa untuk tidak lagi melakukan eksploitasi terhadap manusia dan alam untuk kepentingan kekuasaan semata. Ini merupakan peluang emas bagi pemerintah daerah untuk segera mengobati “sakit hati” masyarakat Banten dari selatan sampai utara, dengan menciptakan Good Governent. Sehingga tidak ada lagi kejadian yang dialami oleh Mang Sakar dan Feisal, teman saya yang baru semester pertama itu. Dengan mempelajari perkembangan yang terjadi seperti secuil masalah yang saya uraikan di atas, Pemerintah Provinsi harus segera mengambil tindakan tegas terhadap kelompok-kelompok yang berkepentingan (Interest Groups).  

Bagi masyarakat, dengan diterapkannya representative democrasy semakin terbuka lebar untuk menentukan pilihannya sesuai dengan kehendaknya masing-masing. Terlebih setelah disahkannya revisi UU No.22 tahun 1999 2 Oktober lalu. Dimana Kepala Daerah dipilih langsung oleh rakyat. Ini semakin memperjelas demokrasi, dari rakyat oleh rakyat untuk pejabat, seperti syair Toto St Radik akan segera tumbang. Dan dikembalikan kepada khittahnya, dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.

Banten masih “orok”. Empat Oktober 2004 lalu baru memperingati hari kelahirannya yang ke empat. Ya. Empat tahun tidak cukup untuk membangun Banten yang ber- Iman dan Taqwa. Banten membutuhkan rentang waktu panjang dan energi yang banyak untuk mewujudkan “civil society”. Banten, tapi jangan lupa!Tujuan itu tidak akan tercapai tanpa rekonsiliasi pemerintah dan masyarakat.

  

Aji Setiakarya, Mahasiswa FISIP UNTIRTA 

 

Foto : Aji dan Anto di sebuah pintu Gerbang perbatan

Baduy dan Banten. Meski sudah provinsi ternyata masyarakat Banten tidak lebih baik dari orang Baduy     

Iklan

5 Komentar

  1. izza said,

    noon sent

  2. aji said,

    salam,
    Izzah tulisan ini aku buat empat tahun yang lalu.
    sekarang sudah empat tahun berlalu.
    silahkan anda jelaskan apa yang non sent???
    korupsikah??
    pemangunankah??
    atau apa??

  3. engkus said,

    salut kepada aji yang cukup kritis didalam blog anda, teruslah suarakan kebenaran dan mari kita bentuk opini dimedia dan internet untuk menyuarakan kebenaran dalam mengoreksi ketimpangan dan penyimpangan birokrasi dan penguasa di banten ini.

  4. setiakarya said,

    Salam Pak Engkus Terimakasih atas apressiasi bapak..Sekarang Banten sudah delapan tahu. Dan aku masih melihat, pemerintah provinsi masih senang dengan acara-acara serimonial..

    tabik
    — aji —

  5. eva said,

    salam kenal……. saya orang baru, krena dari dulu cari2 blog sigma baru ketemu. ngomong2 padarincang dan permasalahannya saya teringat salah satu teman saya Acep mahmuddin atau biasa di sapa nama keren nya “chepi ” cenah! .dia sangat intens memperhatikan negerinya itu. mungkin juga sama dengan anda…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: