BELI BASO OK! BELI BUKU OGAH!

Oktober 27, 2007 at 5:00 pm (Memori)

 

Setiap Minggu, ditengah-tengah kesibukan saya sebagai mahasiswa dan pengelola toko buku, saya memutuskan untuk menyempatkan diri berjualan buku di alun-alun kota Serang. Keputusan itu saya ambil dengan berbagai pertimbangan.

Pertama, tentu ada kaitannya dengan urusan bisnis, dengan konsep teori yang sederhana saya beranggapan bahwa ketika suatu tempat dikunjungi oleh  banyak orang maka kemungkinan lakunya suatu barang adalah besar sekali. Melihat potensi pasar yang begitu besar saya optimis bisa meraup keuntungan yang besar dari hasil penjualan itu. Bayangkan saja, orang-orang yang memadati alun-alun yang berada tepat di depan gedung Bupati ini tiap minggunya hampir  tiga ratus sampai lima ratus orang. Dari berbagai macam jenis kelamin dan umur.  Ini artinya bahwa lima persen saja diantara sekian banyak pengunjung membeli buku maka buku saya akan laku sekitar 10-15 exsemplar. Bila satu ekslempar saya anggap menyumbangkan provit Rp. 3000 berarti saya bisa meraup  keuntungan Rp. 15000. Itu hanya lima persen, bila sepuluh persen maka laba yang bisa bisa “gondol” sebesar  Rp.30.000.   Namun nyatanya hitungan-hitungan provit itu hanyalah sebuah utopia yang ada diawang-awang. Di antara sekian pengunjung tidak ada satupun yang membeli buku yang saya pampang dihadapan para penglepas kepenatan tersebut. Kedua, pertimbangan kedua adalah saya ingin berbagi pada para pengunjung alun-alun bahwa bermain sambil membaca buku lebih memberikan manfaat daripada nongkrong-nongkrong, ongkow-ongkow semata. Harapan saya, adanya penjualan-penjualan buku itu memberikan semangat dan menepis anggapan bahwa Banten adalah kota yang “miskin” dengan buku.  Ketiga, meski ini agak sombong; menyebarkan firus “reading habits” kepada masyarakat dan remaja seperti misi yang didengung-dengungkan oleh Ketua Rumah Dunia, GolaGong: Membaca dan Menulis adalah obat untuk memajukan bangsa. Namun ketiga pertimbangan saya tersebut semuanya meleset. Dari ratusan pengunjung hanya tiga sampai lima orang saja yang hinggap di tempat buku yang saya hampar dekat patung monumen pahlawan. Itupun hanya melihat-lihat, atau membolak-balikan halaman bukunya saja. Remaja atau pemuda lebih asyik berputar-putar “ngulon-ngetan” sambil menggoda laki-laki bagi perempuannya atau menggoda perempuan bagi laki-lakinya. Mereka sepertinya betul-betul benci dengan rentetan kata-kata yang menempel pada kertas. Mereka tidak menyadari bahwa buku-buku itu menyimpan “harta” yang tak ternilai.   Minggu pertama saya memakluminya. Kata Gola Gong, “pertama itu sebagai perkenalan saja.” Maka saya mencobanya lagi minggu selanjutnya. Dengan peralatan yang lebih lengkap, membawa spanduk dan buku-buku bekas untuk bacaan, saya menyusun buku yang sebagus-bagusnya untuk mencuri perhatian mereka. Tapi tetap hasilnya nihil. Lalu muncul pertanyaan dibenak saya. Apakah mereka tidak punya uang?Punya. Ya, mereka yang berkunjung ke alun-alun saya perhatikan memiliki money. Buktinya meraka rata-rata mengantongi duit, mereka membeli batagor, martabak bakar, sarapan bubur, teh botol dan aneka macam makanan ringan. Bahkan ada yang membuat saya mengernyitkan kening  ketika pada Minggu ketiga saya berjualan buku di alun-alun Serang ini. Seorang anak berumur tujuh tahun merapat ketempat saya berjualan dengan menarik pergelangan tangan  ibunya. Anak itu menunjukan jarinya pada buku cerita  bergambar Seri Digimont dan Dongeng Anak berjudul Kegalaun Sang Mesjid, minta dibelikan. Tapi si ibu bersikekeh tidak mau membelikan permintaan anaknya untuk membeli buku, “Berapa Mas harganya,” suara ibu itu lepas, mungkin karena jengkel kepad anaknya. “Tiga ribu lima ratus,” jawab saya seadanya. Ibu itu masih berdiri di depan saya, sambil matanya terus melototi anaknya”Sudah, Kita Belanja lainnya saja, Ari, kenapa sih kamu aleman” terang Ibu itu marah. Anak tujuh tahun yang saya ketahui namanya Ari itu menangis minta dibelikan saja. Ibunya tetap menolak. Anaknya bersikeras minta dibelikan.    Akhirnya ibu itu berhasil menarik perhatian anaknya setelah  membujuk anaknya.“Kita beli bakso aja dari pada beli itu mah. Apaan sih beli kayak gituan” Sekejap anak itu terdiam dan tanpa rengekan lagi  ibu dan anak itu masuk ke saung bakso. Perasaan saya terpukul dan sedih sekali menyaksikan kejadian itu. Sedih sebagai pedagang juga sedih sebagai orang yang mencintai buku.  Dari peristiwa tersebut saya sadar bahwa mayoritas masyarakat kita masih tidak mempedulikan peran penting menanamkan habits reading pada anak. Kasihan sekali generasi muda negri ini. Para orangtua hanya mementingkan semangkok bakso  daripada buku. Wajar saja apabila mental generasi Indonesia adalah “Mental Baso”, gampang basi, gampang “dicaplok”, gampang dibodohi.  Mental Baso, yang mementingkan semangkok baso daripada membeli buku, rupanya telah mengakar di masyarakat Indonesia. Bukan hanya ibu Ari saja,  Pejabat, pedagang, dan bahkan mahasiswa pun telah terkontaminasi mental baso ini. Banyak mahasiswa yang saya kenal enggan membeli buku dengan alasan tidak punya uang. Mereka lebih memilih, membelanjakan uangnya untuk bakso atau menghabiskan uang untuk membeli pulsa ketimbang untuk kepentingan yang berbau keilmuan.  Saya tidak  tidak bisa menyalahkan Ari, mahasiswa secara membabi buta.  Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa orangtua merupakan faktor  yang paling dominan dalam mempengaruhi minat baca seseorang. Keluarga disinyalir sebagai komponen dasar dalam peletakan minta baca. keluarga sebagai struktur sosial yang paling kecil seharusnya mampu memberikan ruang dan kesempatan dalam pengembangan minat baca pada anak. Karena usia anak adalah usia yang paling baik dalam pemberian contoh dan kebiasaan. Keluarga kadang menjadi penghalang anak dalam melejitkan keinginan untuk membaca. Salah satu buktinya adalah kasus yang saya alami tempo hari itu. Ini akibat ketidakpahaman orangtua dalam mendidik anak.  Menyalahkan orangtua sebagai penyebab rendahnya minat masyarakat kita memang tidak fair. Ada faktor lain diluar keluarga yang sangat mendukung tingakat membaca masyarakat yaitu lingkungan. Lingkungan kita belum kondusif dan menyuguhkan sikap membaca. entiasKenyataan ini menurut saya menghawatirkan dan patut mendapatkan penanganan serius dari pemerintah, LSM, masyarakat dan seluruh elemen yang menamakan diri agen pembangunan dan perubahan. Reading Habits, selama yang saya pelajari adalah kunci keberhasilan dan merupakan tolak ukur bagaimana sebuah negri mengadakan perubahan, menuju kemajuan.  Disadari, kebiasaan membaca masyarakat Idonesia sangat tertinggal jauh dibanding dengan negara tetangga lainnya. Dari beberapa penilitian terbukti bahwa minat baca bangsa Indonesia yangpaling kolep dengan bangsa-bangsa lainnya.  Kenyaatan tersebut telah mendorong berbagai pihak yang prihatin atas masa depan bangsa berusaha menyumbangkan tenaganya dengan mendirikan komunitas-komunitas baca yang menjalari setiap kota bahkan kampung. Belakangan ini banyak berdiri komunitas baca, baik dana sendiri ataupun dana hasil “nyolong”. Di wilayah saya, kecamatan Padarincang, 30 KM barat Serang telah berdiri Rumah Manca yang dulu di dengung-dengungkan oleh Megawati Soekarno Putri. Kabarnya Rumah Manca berdiri di kecamatan seluruh Indonesia. Ada juga Taman Baca dibawah bendera mantan artis cantik, Yessi Gusman. Selain yang disebutlkan tersebut banyak komunitas lainnya. Rumah Dunia adalah salah satunya. Dengan keprihatinan terhadap minat baca masyarakat Indonesia, Banten, dibawah bendera pengarang terkenal, Gola Gong Rumah Dunia berdiri.

Namun keberadaan komunitas-komunitas tersebut kurang begitu eksis. Rumah Manca yang ada di kecamatan  saya hanya berupa gedung tanpa isi. Di kecamatan Serang Rumah Manca sepi pengunjung, sedang komunitas di Kecamatan Mancak  tak ada pengurusnya meski anak-anak kadang mengunjunginya.Saya pernah menanyakan kepada anak-anak di sekitar komunitas-komunitas itu berdiri tentang kendala-kendala yang di hadapi mereka. Alasan kesemuanya hampir seragam. Orang tua, dikatakan salah seorang anak, seringkali menyuruhnya melayani warung, mengasuh adik, membantu ke sawah, main play staysion. Alasan serupa saya dengar dimana saya mukim dan menjadi volunteer, di Rumah Dunia, tempat anak-anak Ciloang, Kubil, Kesuren membaca setiap sehabis pulang sekolah. Meski fasilitas boleh dikatakan cukup, meski tidak lengkap seringkali saya temui anak-anak alfa ke Rumah Dunia dengan alasan yang saya sebutkan.

Selain orangtua seperti yang saya singgung sebelumnya, pemerintah daerah ternyata masih kering perhatian terhadap hal-hal yang berbau pendidikan. Di Banten, dimana saya menghirup udara, dinas-dinas yang berwenang dalam pemberdayaan minat baca  masih  senang menghabiskan anggaran-anggaran pemerintah untuk berdiskusi di hotel ketimbang langsung terjun kelapangan dan atau membelikan buku misalnya. Saya sendiri selama tahun 2004 sudah dua kali mengikuti seminar peningkatan minat baca,  tapi  action nya nol. Setelah diskusi urusan seperti beres.

 Reading Habit, seharusnya sudah menjadi bagian dari Masyarakat Banten masyarakat Indonesia sedang dikepung tantangan, dikerubuti oleh gunung-gunung yang menjulang yang bisa menindih, oleh lautan  yang bencananya akan lebih dahsyat dari amukan gelombang Tsunami. Bukan ratusan ribu jiwa akan dililit kemiskikan, tetapi jutaan jiwa yang akan dilanda  kelaparan. Segeralah bertingkah orangtua, segera bertindak pemerintah, segera membacalah generasi bangsa, kini kemiskinan telah berdentang. Aji Setiakarya, Mahasiswa Komunikasi Untirta.Manajer Kedai Buku Jawara Rumah Dunia.  

Iklan

2 Komentar

  1. edwin arif wibowo said,

    ok

  2. aji said,

    Yup.. terimakasih,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: