HARAPAN PERUBAHAN

September 22, 2007 at 7:30 am (Artikel)

SURAT TERBUKA UNTUK REKTOR BARU UNTIRTA
Oleh Aji Setiakarya

Di harian ini, kami membaca berita jika Prof. Dr. Ir Rahman Abdullah Msc, Guru Besar Ilmu Perencanaan Wilayah Kota dana Pemukiman Universitas Tadulako dilantik menjadi Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten Periode 2007-2012 oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo pada pada Jum’at (7/9) siang di lantai III Depdiknas Jakarta (Radar Banten, 8 september 2007). Meski tidak ada perwakilan mahasiswa yang menghadiri pelantikan itu, kami tetap menyambut dengan hati gembira atas pelantikan ini. Kegembiraan itu bukan karena apa-apa, tapi karena Prof Rahman adalah calon yang mendapatkan suara paling banyak dari mahasiswa dibanding dua calon lainnya Prof Dr Hufad (UPI) dan Prof. Dr Soegianto (Unibraw). Di tingkat senat pun Prof Rahman meraih simpati yang besar mengalahkan dua kandidat lainnya. Hal ini menunjukan jika kepemimpinan Prof. Dr. Ir Rahman Msc (Prof) mendapatkan legitimasi yang kuat sehingga peluang adanya konflik itu sangat tipis.

Optimisme Perubahan

Prof, membaca statement Prof di harian ini memberikan sinyal yang cukup kuat membawa perubahan di Untirta. Dengan percaya diri Prof bilang jika Prof adalah muka lama di kampus kami sehingga bisa berbuat banyak untuk Untirta. Dengan tegas pula Prof bilang akan membawa Untirta ke taraf nasional. Bak ikut-ikutan seperti politisi, Prof juga menentukan 100 hari pertama untuk menentukan langkah dan strategi. (Radar Banten, 9 September 2007). Pernyataan itu tentu saja sudah tergores di kepala kami sehingga suatu saat kami akan menagihnya.
Prof, kami gembira sekali dengan semangat optimisme yang menggebu-gebu itu. Optimisme adalah sebuah permulaan yang baik ketimbang pesimisme yang hanya membawa kita kepada kekesalan dan kebencian. Tapi tentu saja optimisme itu harus berdasar dan realistis. Saya melihat Prof sudah mempunyai modal awal untuk mewujudkan optimisme itu yakni legitimasi yang kuat. Tapi legitimasi tanpa keberanian adalah sebuah kebisuan dan kebimbangan. Karena itu Prof harus berani mengambil kebijakan tegas tanpa terpengaruh oleh kelompok kaum oportunis yang siap bercokol dimana saja. Semoga Prof bisa jeli melihat persoalan ini.
Bagi-bagi Kue

Prof, seperti telah banyak terungkap bahwa dalam paradigma kepemimpinan saat ini, tidak ada jalan yang gratis untuk memperoleh sebuah “kekuasaan”, sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Kami tentu tidak tahu apa memang ada praktek semacam itu dibelakang layar sana terkait dengan keberhasilan Prof meraih gelar rektor. Apakah ada transaksi dalam menentukan “pasukan” sehingga nantinya ada posisi khusus untuk orang khusus?.
Sebagai mahasiswa, kami meinginkan keputusan memilih “pasukan” nanti tidak berdasarkan pada pertimbangan balas budi atau pertemanan apalagi berdasar atas sikap kedaerahan yang harusnya dihilangkan dalam dunia keintelektualan. Tapi berdasarkan kemampuan, kapabilitas dan komitmennya dalam membawa perubahan kampus. Seperti yang sering diungkapkan oleh Yoyo Mulyanan, bahwa dalam mengemban tugas kita harus memiliki 5K (Kompetensi, Kapabalitas, Kualitas, Koneksivitas, dan Komitmen)
Orang yang dipilih nanti adalah yang bisa menjunjung tinggi nilai-nilai akademik sebagai penjaga moral dan simbol perubahan masyarakat. Semoga praktek “bagi-bagi kue” tidak dilakukan oleh Prof yang tentu saja memiliki pengetahuan dan keilmuan yang jauh dari kami.

Mengenang Sejarah

Prof, seperti Bung Karno utarakan; Jangan Lupakan sejarah. Ini sebagai catatan kecil bagi Prof juga bagi kita semua; Pendahulu Prof, Yoyo Mulayan, adalah sosok yang dikenal bijak, karismatik dan tidak emosional. Ia tidak hanya beperan sebagai rektor yang birokratis dan posisinya yang strategis itu. Tetapi ia bisa menjadi pelindung, tempat mengadu dan tempat berdiskusi. Di mesjid, di auditorium bahkan dalam perjalanan sekali pun. Dalam setiap keadaan genting beliau masih bisa melemparkan senyum. Ia pandai menyembunyikan kekesalan dan rasa jengkel kepada staf dan mahasiswanya. Ia tidak suka marah di hadapan umum. Tak jarang kami duduk bersamanya, menikmati malam mingguan sambil makan kacang rebus dan nonton bareng. Ia gemar membaca puisi dalam event-event sastra jika para mahasiswa memintanya. Meski banyak yang bilang ia bimbang dan tidak tegas. Ia tetap guru terbaik di lingkungan kami. Diakui atau tidak, faktanya ia sudah membawa banyak perubahan di kampus kami. Ia sudah meletakan pondasi visi dan misi universitas di tengah transisi dari yayasan ke perguruan tinggi negeri. Kami masih bangga jika ia muncul di koran menjadi pembicara dalam sebuah seminar-seminar. Prof, menjadi dan menggantikan sosok yang lain memang tidak mudah. Tapi meniru jejak-rekam yang baik dan positif sepertinya bukan hal yang buruk.
Prof, diam-diam dalam hati kami terbersit sebuah kekhawatiran. Kami khawatir Prof tidak bisa lagi hadir di tengah-tengah kami untuk bermalam mingguan, nonton bareng apalagi membaca puisi untuk menghibur kami di panggung. Khawatir, prof tidak bisa melemparkan senyum, tegur dan sapa. Apalagi kami lihat foto Prof di koran ini berkumis tebal. Yang membuat kami lebih khawatir lagi adalah Prof berubah menjadi orang yang minder dan inferior menghadapi staf dan mitra Prof sendiri saat sudah duduk di kursi empuk sana. Apalagi Prof mengaku berasal dari kampung yang orang-orangnya noteben masih ramah sehingga tidak banyak rintangan dibanding dengan di kota ini yang sudah “ganas”
Prof, kami tentu saja menaruh harapan besar dengan optimisme yang diucapkan Prof dalam membawa perubahan kampus kami. Tentu saja mahasiswa, dosen, dan seluruh komponen Untirta punya peran. Tapi pemimpin dalam sebuah organisasi ibarat kepala dalam serangkaian tubuh manusia. Ia menentukan arah dan langkah dimana kaki berpijak dan tubuh bergerak.

Aji Setiakarya, Mahasiswa Jurnalistik Untirta
aktivis Tirtayasa Reseach and Academic Sosiety (TRAS) Untirta
Relawan Rumah Dunia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: