MAGELANG AKSARAVAGANZA, MENILIK BUDAYA BACA

September 18, 2007 at 2:47 pm (Memori)

Oleh Aji Setiakarya

Sabtu (1/5) pagi, Wakil Walikota Magelang Nur Muhammad membuka acara yang berbau keaksraan dan minat baca di Gedung A. Yani, milik yayasan Akademik Militer (AKMIL) Magelang. Acara itu bernama Aksaravaganza. Nama yang populis dan menarik. Beragam acara digelar dalam event untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Magelang itu, dari mulai pameran buku, bincang tentang perpustakaan, bedah buku sampai dengan nonton film bareng. Dalam pembukaan acara yang digagas oleh Unit Pelaksana Tugas Dinas (UPTD) Perpustakaan itu Wakil Walikota Magelang Nur Muhammad yang mewakili Wali Kota Fahriyanto mengakui bahwa dengan membaca itu kita bisa pintar, cerdas dan maju. ”Bapak dan ibu bisa seperti ini karena kita suka membaca,” kata Nur Muhammad yang disambut dengan tepuk tangan dari hadirin. Saya juga ikut tepuk tangan. Pernyataan Wakil Wali Kota sebenarnya bukan hal baru. Sudah semenjak awal kemerdekaan negeri Soekarno, Presiden pertama Republik ini menganjurkan agar kita gemar membaca. Begitu pun dengan presiden selanjutnya seperti Soeharto, Habibie dan Gusdur. Mereka mengungkapkan akan pentingnya minat membaca untuk bangsa ini. Pemerintah Megawati, malah membuat pencanangan Yayasan Taman Bacaan (MANCA) Indonesia pada 2004 dengan mendirikan 50 sanggar di seluruh Indonesia. Begitu pun dengan Presiden Soesilo Bambang Yhudoyono (SBY). Ia mencanangkan Gerakan Gemar Membaca. Terlepas dari tujuannya untuk meraih simpati politik atau tidak langkah mereka mengangkat isu pemberansatan buta aksara adalah hal yang terpuji. Memang tidak bisa disangkal jika membaca adalah kunci keberhasilan dalam merajut kesuksesan. Membaca itu adalah sebuah upaya mengisi pengetahuan, wawasan. Di sana terjadi transfer wacana antara si penulis dan si pembaca. Tidak hanya wacana yang ada di dalamnya, tapi juga membaca adalah celah untuk menumbuhkan ide sehingga kita bisa kreatif dan inovatif sebagai sesuatu yang langka di negeri ini. Potret orang yang membaca juga akan berbeda dengan orang yang tidak membaca. Itu bisa kita rasakan sendiri. Persoalanya kemudian adalah bagaimana cara menumbuhkan minat baca itu di tengah-tengah masyarakat? Reading HabbitBagaimana membaca itu agar bisa menjadi budaya – Reading habbit?. Ini memang pekerjaan rumah (PR) kita bersama. Masyarakat, dan pemerintah harus bersama-sama. Tapi tentu saja harus ada motor penggeraknya. Motor penggerak itu adalah perpustakaan. Perpustakaan harus ditata sebagai tempat yang menggembirakan dan menyenangkan. Persepsi perpustakaan sebagai tempat koleksi dan peminjaman buku harus dirubah. Tidak hanya tempat etalase mewah yang menampilkan buku-buku saja.  Menurut Noor Syamsudin Al- CHaesi, warga Indonesia yang menjadi dosen di Universitas Kebangsaan Malaysia, penjaga perpustakaan di Malaysia mampu menjelaskan isi buku kepada pengunjungnya. Sehingga si pengunjung dapat mendapatkan informasi buku yang sedang dicarinya. Sementara Darmono dalam bukunya Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan menjelaskan, perpustakaan harus menjadi fungsi pendidikan, yang mampu meningkatkan kesadaran diri dan merangsang kreativitas. Fungsi kebudayaan yang mampu mendorong tumbuhnya kreativitas dalam seni adalah hal lain yang harus ditunjukan oleh perpustakaan. Dari sana perpustakaan akan menjadi tempat rekreasi yang memberikan keseimbangan jasmani dan rohani. Dan yang paling ideal adalah adalah perpustakaan bisa menjadi tempat menabung. Yaitu sebagai tempat menghimpun, menyimpan, dan melestarikan karya-karya cetak dan rekaman sebuah peristiwa. Kiprah MasyarakatSekarang ini ada hal yang menggembirakan di tengah masyarakat. Banyak muncul komunitas baca yang diprakarsai baik oleh masyarakat maupun perorangan dengan swadaya mereka sendiri. Beberapa anak muda, mahasiswa juga banyak yang terjun membuat komunitas yang bergerak dibidang baca. Mereka berusaha menampilkan perpustakaan sebagaimana fungsi yang dijelaskan tadi. Sebagai sebuah potret kecil, saya bisa menyaksikannya dalam acara Magelang Aksaravaganza yang digagas oleh UPTD Perpustakaan Kota Magelang yang berlangsung 1-5 September 2007. Geliat komunitas baca itu tampak tinggi. Beberapa komunitas berperan dalam acara ini. Misalnya, Rumah Pelangi, Rumah Dunia, Komunitas Baca Ibnu Hajar, Forum Lingkar Pena dan Komunits Beber Lampah. Dalam sebuah diskusi yang berjudul Menilik Minat Baca di Magelang yang menghadirkan Kepala UPTD Perpustakaan Kota Magelang, Sugiyarti, seorang guru SMP bersemangat untuk memiliki komunitas baca tapi terbentur dengan buku. ”Saya ingin Perpustakaan Keliling datang ke sekolah saya,” kata Ibu yang bernama Hayati itu. Tapi Sugiyarti bilang jika kemampuan dan koleksi bukunya terbatas sehingga ia harus mengatur jadwalnya. “Personil saja masih kekurangan,” kata Sugiyarti. Saat mengenalkan Rumah Dunia, Senin (3/9) kemarin seorang bapak bernama Tri Yoga yang mengaku punya perpustakaan di lembaga tempat bekerjanya. ”Saya kerja di Lapas Magelang. Dengan membaca alhamdulillah banyak berubah,” kata Tri. Namun Tri mengungkapkan jika buku-buku itu kebanyakan adalah pemberian penjenguk atau droping dari perpustakaan daerah Magelang bukan dari anggaran khusus lembaganya. Fenomena ini menandakan bahwa kepedulian masyarakat terhadap minat baca sudah muncul. Mereka sudah tergerakkan. Mereka sadar akan pentingnya minat baca. Pemerintah, harus segera merespon hal ini. Tidak cukup hanya bilang ”Membaca Penting”, ”Membaca mencerdaskan,” saat prosesi pembukaan atau pertemua-pertemuan formal. Tapi pemerintah harus mengambil sikap dan kebijakan yang jelas dengan fenomena ini. *) Aji Setiakarya, Relawan Rumah Dunia, sedang mengikuti Aksaravaganza di Magelang Jawa-Tengah
*) Foto Aji Setiakarya (kiri) dan Muhzen Den (kanan) di pintu gerbang Rumah Dunia
   

Iklan

3 Komentar

  1. eko said,

    memang harus berjuang, untuk mengajak mencintai buku

  2. setiakarya said,

    iya mas eko.. kita harus berjuang memang.. gimana tuh kabar perpustakaan
    di Kota Magelang??

  3. syamsul hidayat said,

    mas aji, gimana kalau kita bentuk semacam kampung buku saya kira untuk menumbuhkan minta baca kita harus gencar bersama pemerinta daeerah membudayakan membaca dan menulis bagi anak-anak. saya ada obsesi besar untuk mengerakan magelang dengan minat baca dan menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: