BELAJAR KEHIDUPAN DI BIS

September 18, 2007 at 2:20 pm (Jejak)

                     

 Pras, Kom 2005

Perjalanan Kecil Ke Magelang 

  Oleh Aji Setiakarya

Matahari Rabu, 29 Agustus, pukul 15.00 WIB mulai menyingsut saat serombongan orang-orang menaiki mobil patas ekonomi Sumber Alam di daerah Terminal Pakupatan Serang, persis dekat kampus Untirta. Beberapa orang berdesakan, memasukan barang-barangnya yang sudah rapi terbungkus kardus. Setelah rampung menyimpan kardus-kardus mereka beralih mencari kursi yang hendak ditumpangi. Aku bersama temanku dari Rumah Dunia, Deden dan Langlang ikut sibuk mencari bangku sesuai dengan nomor tiket.

Nomor tiket yang aku beli adalah 13, 14, 15. Ini artinya kursi yang kami duduki berdekatan. Jadilah kami duduk bergandengan sehingga memudahkan untuk kami berkomunikasi. Jam terus bergerak dan tampak terasa jarum jam sudah menunjuk ke arah setengah empat. Rupanya bisa telat dari yang dijadwalkan sebelumnya. Kebiasaan yang menggajala ini sepertinya telah merasuki kami, karena kami pun datang terlambat ke tempat transit ini. Bis yang aku tumpangi berderet dua dengan masing-masing kursi 2 buah. Kondisinya tidak terlalu kotor, tapi tidak juga bersih. Biasa-biasa saja. Suasana mobil ini terbilang nyaman. Penumpang di depan dan belakangku terlihat kondusif dan ramah. Di depan hanya seorang bapak yang tampak tenang, begitu pun penumpang yang ada di belakangku, ia tidak mengeluarkan banyak komentar apalagi membuat gaduh. Sementara di samping saya tentu saja Deden dan Langlang yang sudah nyaman dengan kursinya. Semua penumpang yang ada bis ini tujuan akhirnya adalah transit di Yoyakarta. Sampai dengan jalan tol Jakarta perjalanan berjalan santai. Para penumpang masih segar. Semburan cahaya lampu dari berbagai penjuru seperti membuat orang nyaman di dalam bus. Atau mungkin mereka terhibur dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi sebagai kemegahan sang ibu kota. Bus terus menggilas tol Jakarta. Menyambung dari pintu tol yang satu ke pintu yang lainnya. Setiap sampai gerbang tol ini perasaan saya kadang berubah sinis. Belakangan ada kabar jika tarif tol Jabotadebek akan dinaikkan hingga 25%. Kenaikan yang fantastis yang membuat masyarakat kecil, teruatama sopir semakin terjepit. Tentu saja, saya tidak menaruh rasa benci pada kolektor yang duduk bergelut dengan waktu dan harus menghadapi banyak pengguna mobil itu. Mereka hanya melakukan tugas. Yang saya kurang suka adalah para direksi BUMN ini. Mereka hanya mengeruk dana dari masyarakat tanpa dibarengi dengan pelayanan yang baik. Tentu teman-teman bisa menyaksikan keadaan tol yang ada di Jabodetabek. Kemacetan tetap menjadi pemandangan keseharian. Aku tidak yakin, kenaikan tarif itu untuk menambah baik service mereka kepada masyarakat. Itu hanya alasan untuk bagi para oportunis untuk mengisi saku mereka yang kempes. Sampai dengan tol Bekasi perjalanan masih menarik. Mataku masih semangat menoleh ke kanan dan kiri mobil untuk menghilangkan rasa kesal di mobil. Karena memang tak ada lagi yang aku bisa lakukan. Membaca buku tidak mungkin lagi, karena lampu mobil dimatikan sementara suasana di luar sudah semakin gelap. Aku pasrah saja sembari memasukan kenyataan itu dalam sebuah imajinasi yang liar. Yang mungkin bisa dijadikan sebuah cerita yang menarik nantinya. ***Suasana tangisan bayi mulai menghiasi kami saat memasuki tol Cikampek. Suara bayi itu mengingatkanku jika di bus ini ada sepsang bapak dan ibu yang sudah berumur (Sekitar 50 tahunan) membawa bayi, selain bayi-bayi dengan bapak dan ibu muda. Terhadap ibu dan bapak yang sudah mencapai umur ini, aku menaruh perhatian. Aku mengikuti gerak-gerik pasangan ini dalam menjaga bayinya. Terlihat mereka sayang betul dan hati-hati dengan bayi yang ia jaga itu. Si bapak kadang harus berpindah kursi ke belakang karena si bayi terlentang memenuhi kursi duduknya. Sementara si ibu harus tersimpuh di bawah kursi untuk memberikan kebebasan bayi laki-laki itu. Kala si bayi terbangun si ibu menenangkannya, jika tidak mampu si ibu memanggil si bapak untuk bangun dari duduknya dan memenuhi perintah si Ibu. Diam-diam aku merasa kasihan dengan pasangan tua, dugaanku ia adalah pasangan suami-istri yang setia. Aku berbisik pada Langlang, ”Report sekali bawa bayi. Enggak kebayang. Apalagi di mobil ekonomi ini.” Langlang hanya tersenyum kecil. Ya, menggunakan bis memakan waktu 12 jam untuk sampai Yogyakarta. Itu bukan waktu yang sebentar, apalagi dengan bis ekonomi yang tanpa ac dan toilet. Rasanya tidak nyaman, ditambah jika kita ingin buang kotoran, rasanya tersiksa. Bayangkan jika kita menggunakan pesawat tidak lebih dari satu jam. Begitulah jauh perbedaan antara pesawat dan bis. Tapi itulah teknologi. Hanya saja teknologi di negeri ini masih mahal. Sehingga hanya orang-orang yang berduit saja yang mampu menikmatinya. Huh!! Tapi biarlah, saat ini aku berbaur di bis ini. Banyak hal yang aku bisa dapatkan. Meski 12 jam, aku bisa belajar tentang hidup. Kembali ke si bayi. Aku sanksi jika bayi yang mereka urusi itu adalah anaknya. Perasaanku terngganjal. Dengan usia yang segitu. Aku menduga jika bayi mungil itu adalah bukan anaknya, tapi hasil hubungan gelap anaknya. Anaknya malu kemudian menyuruh orangtuanya untuk mengurusi. Oh!! Mengingat hal ini, aku terlempar pada cerita Radit, teman kelompok KKM asal Cilegon. Ia sering bercerita jika Cilegon, kota Industri itu sudah seperti surga buat para pelaku seks bebas. ”Banyak teman-temanku yang hamil di luar nikah,” kata Radit. Cilegon, katanya sudah benar-benar menjadi hedonis. Kemajuan di kota baja itu tidak mulus seperti yang tampak secara kasat mata. Dibalik kemegahan kota menyimpan kebusukan yang tertutupi. Kelebihan materi tanpa diimbangi dengan kekuatan spiritual memang bisa melahirkan kemaksiatan. Aku tak bisa membayangkan 5 atau sepuluh tahun kelak jika kita membiarkan hal itu terjadi. Membiarkan para remaja bergaul bebas tanpa ada batas-batas yang jelas. Seorang remaja pria bebas merengkuh pacarnya di tengah keramaian. Tentu saja itu hak mereka, tapi dimana sopan santun dan adat mereka simpan. Jika dibiarkan mungkin para remaja putri tak ada lagi yang perawan. Dan tak mengerti lagi arti sebuah mahalnya keperawanan. Oh!! Pikiran itu mengusik. Semoga saja sangkaanku kepada bayi kecil yang dibawa oleh sepasang bapak dan ibu itu salah. Pemandangan kanan-kiriku semakin gelap, dan hanya terhampar sawah luas. Aku tanya bapak yang ada dihadapanku, katanya memasuki daerah Karawang. Tanpa cahaya, mata tentu tidak bisa melihat jelas, sehingga pemandangan tidak lagi menarik. Mataku lelah. Aku tertidur dan terbangun sehingga tak memperhatikan betul posisinya dimana. Sementara pak sopir aku lihat terus meliuk-liuk memainkan stirnya dengan penuh konsentrasi. Bis bergegas menggilas jalanan.*** *) Aji Setiakarya, Mahasiswa Jurnalistik Untirta

 Melakukan Perjalanan ke Magelang Untuk mengikuti Aksaravaganza di Kota Harapan ini.  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: