POTRET PETIR

Agustus 11, 2007 at 8:54 am (Memori)

Teman, selama satu bulan saya tidak mengakses internet, tidak membuka email juga tidak milist, koran pun saya jarang membaca. Selama satu bulan saya melaksanakan tugas sebagai mahasiswa yaitu Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM).
Almamater saya masih mengharuskan mahasiswanya untuk mengikuti KKM sebagai syarat mengikuti skripsi. Tempat KKM saya tidak jauh, hanya sekitar 20 Km dari pusat kota Serang. Atau kalau teman-teman pernah ke pusat pemerintahan provinsi di Curug, itu kurang dari 18 Km dari sini. Sekarang dinamakan dengan KP3B, sebagai kependekan dari Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B).

Daerah tempat saya KKM adalah tetangga kecamatan dimana KP3B ini berdiri yaitu Kecamatan Petir. Tepatnya di Kampung Tambiluk Desa Tambiluk. Tambiluk tidak jauh dari pusat pemerintahan Petir yang terletak di Desa Mekarabaru dimana kantor kecamatan dan instansi-instansi unit pembantu dinas itu berada seperti Kantor Urusan Agama (KUA), UPTD Pendidikan Kecamatan, Puskesmas dan lain sebagainya sebagai perangkat kelengkapan kecamatan.
Teman, selama satu bulan saya mengikuti KKM banyak kenangan yang pahit dan tidak sedikit yang indah. Hal yang pahit tentu yang berkaitan dengan sarana dan prasarana yang tersedia di tempat kami tinggal di RT/RW 01/01 Kampung Tambiluk. Saya merasa prihatin, lama tinggal di Serang telah membuat saya terlena dengan fasilitas yang ada di kota. Saya memang dari kampung, tapi sudah hampir 15 tahun saya tidak lagi menarik air di sumur dengan menggunakan tali karet. Di rumah saya sendiri, di Desa Ciomas sana, sudah menggunakan mesin air untuk menarik air dari sumur. Tentu itu kesalahan saya yang tidak lagi pandai dengan tali karet apalagi dengan kedalaman sumur yang bermeter-meter sehingga membuat tangan saya sering kaku dan pegal-pegal. Belum lagi saya harus mengangkut air dari sumur yang jauhnya sekitar 10 meter. Ini, bagi yang tidak biasa menyita waktu. Sekali lagi ini kelemahan saya yang tidak lagi terbiasa dengan mengangkut air dan tali karet tadi. Saya sudah dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas yang ada di kota.
Dan yang paling membuat saya merasa tidak nyaman adalah media informasi yang sulit. Tidak ada internet, koran pun sulit. Untuk mendapatkan koran saya harus memesan kepada warung dekat rumah Pak Sanwani, ketua pemuda di Kampung Tambiluk. Itu pun kalau si pengirim masih tersisa. Karen seringkali pengirim koran kehabisan. Sinyal hp terputus-putus. Apalagi di rumah saya tidak ada televisi. Kalau pun ada di rumah tetangga, televisi itu hanya menampilkan iklan dan infotainment yang penuh dengan gosip.
Tentu tidak ada niatan merendahkan kampung tempat saya KKM itu. Tapi saya merasa terusik dengan keadaan seperti itu. Jangan bandingkan keadaannya dengan daerah-daerah yang ada di Eropa seperti di Jerman, Italia atau pun Holland yang teman saya, Ibnu Adam sering ceritakan. Tambiluk sangat tidak layak untuk dibandingkan. Untuk menyamai Serang saja sungguh sangat tertinggal jauh. Saya sering berbicara kepada teman-teman kalau kita berada di daerah yang mundur satu langkah. Di Serang sana kita bisa menikmati beragam fasilitas seperti internet, telpon umum, penerangan jalan dan seabrek macam lainnya. Sementara di Tambiluk untuk penerangan rumah saja masih terbatas. Di sini ada sebuah kampung yang masih belum masuk aliran arus listrik. Namanya kampung Wadas Nyomplong. Sungguh luar biasa. Di sini sangat gelap jika malam. Dalam hati saya bertanya begini tinggikah disparitas pembangunan antara kampung dan kota. Siapakah yang menciptakan semua ini. Siapakah yang berulah, yang membuat kampung gelap gulita sementara kota dipadati dengan penuh cahaya?. Ah,
Teman, ditengah keterbatasan fasilitas dan prasarana Tambiluk kami mendapatkan banyak hikmah. Tambiluk, kampung itu menyimpan banyak kenangan indah bagi kelompok kami. Dengan latar belakang dan studi yang berbeda kami disatukan dalam sebuah persoalan. Ada 13 anggota ka mi yang terdiri dari seluruh fakultas yang ada. Ada Fakultas Keguruan, Fakultas Hukum, Ekonomi, Pertanian dan Sosial Politik. Dari tiga belas itu, 5 cowok sisanya adalah cewek.
Di tengah-tengah diskusi menyelesaikan persoalan kami sering terbawa oleh ego program studi. Kami sering berdebat tentang satu persoalan yang sepele. Kami harus menyelesaikan persoalan internal yang beranekaragam kebiasaan dan gayanya masing-masing kelompok dengan persoalan eksternal yang membutuhkan ketenangan. Tapi di lapangan kami menyadari jika masyarakat tidak membutuhkan latarbelakang. Mereka butuh penyelesaian. Mereka butuh problem solver yang mahir. Disanalah kami belajar tentang hidup bermasyarakat, tentang tatakrama bermasyarakat, tentang tatacara beriteraksi dengan anak-anak dan segudang persoalan kemasyarakatan lainnya. Kami diajak dewasa oleh keadaan.

Petir Gemar Membaca

Kenangan indah lainnya adalah lakon dan gosip cinta lokasi atara si A dan si B di kelompok kami. Juga gosip antara kelompok yang satu dengan yang lainnya. Dan yang tak kalah menarik dan berkesan pada KKM kami adalah agenda besar yang kami ciptakan sendiri. Sebuah event yang kami namai dengan Petir Gemar Membaca. Event ini melibatkan seluruh kelompok KKM se-Kecamatan Petir. Ada delapan kelompok yang melakukan KKM di Kecamatan Petir yang tersebar di delapan desa. Antaralain di Desa Tambiluk, Mekarbaru, Cirangkong, Kampung Baru, Negara Padang, Kadu Genep, Cirendeu dan Seat.
Petir Gemar Membaca kami gelar dalam rangka membangun psikolog masyarakat dalam dunia baca. Awalnya saya merasa waktu satu bulan tidak cukup untuk merangsang minat baca. Saya sendiri sudah hampir empat tahun bergabung dengan Rumah Dunia dan tidak semudah itu merangsang masyarakat untuk suka baca. Ini satu bulan apa yang mau diberikan? Lalu saya punya pikiran bahwa caranya adalah membangun psikologis agar para opinion leader, seperti camat, kepala desa atau tokoh-tokoh masyarakat ingat akan pentingnya gemar membaca. Dan saya punya pikiran bahwa yang lebih penting untuk dibina dan ditumbuhkan minat bacanya adalah bukan bapak/ibu yang sudah lanjut usia. Tetapi anak-anak sebagai generasi bangsa, pengganti dimasa depan. Harapannya semoga dengan acara ini, meskipun KKM sudah selesai gairah minat baca tetap ada di Petir. Kami berharap anak-anak Petir memiliki akses yang mudah dengan buku. Berdirinya perpustakaan masyarakat akan membantu mereka dalam pengetahuan.
Ide itu saya komunikasin dengan teman-teman saya di kelompok 61. Awalnya pada teman sekamarku Irfan, yang dari Fakultas Pertanian dan Radit dari Ekonomi. Keduanya merespon ide itu. Muhammad Firdaus, sebagai ketua kelompok juga tak kalah mendukung. Jadilah kepala kami banyak. Di saat kami hendak tidur dan sambil bercanda Irfan dan Radit saling memberi masukan, bertukar pikiran untuk ide ini. Ide itu semakin liar dan berkembang. Kami bertiga sepakat untuk membawa ide ini dalam evaluasi kelompok. Di saat rapat evaluasi rekan kelompok kami yang berjumlah 8 orang lainnya, terdiri dari perempuan mensapakati ide ini.

Teman, ternyata ide itu terus bergulir. Dan Kami sepakat acara ini dijadikan sebagai acara bersama yang dipersembahkan untuk masyarakat Petir. Acara ”Big Event” kata Radit. Tentu saja kami tidak ingin sendirian, karena ini untuk membangun psikolog masyarakat maka harus melibatkan stakeholder. Unsur pemuda, akademisi, tokoh masyarakat, ulama, mahasiswa harus ikut dalam event. Sebelum saya melemparkan ide itu kepada masyarakat kami mengajak teman-teman KKM Se-Kecamatan Petir untuk kerja bersama. Saya keliling ke tiap-tiap desa untuk bertukar pikiran dan sharing ide. Alhamdulillah, para ketua kelompok banyak yang merespon baik. Mereka menyumbangkan banyak ide dalam acara ini. Dari delapan kelompok pada awalnya ada beberapa kelompok yang kurang mengapresiasi acara ini. Mereka merasa acara ini hanya sebuah keegoan dari program studi tertentu. Tapi setelah melihat dilapangan mereka akhirnya memahami acara ini. Mereka ikut serta dalam a event ini. Dari delapan kelompok itu kami membuat panitia bersama. Saya ditunjuk sebagai ketua pelaksana oleh rapat para ketua.
Langkah selanjutnya adalah membuat panitia bersama Petir Gemar Membaca (PGM). Dengan panitia ini kami merumuskan formula acara. Ditengah kesibukan menjalankan program kelompok KKM. Kami harus menyisihkan waktu untuk acara ini. Di saat ada peluang istirahat kami melakukan meeting panitia. Kantor camat menjadi tempat favorit untuk berkumpul. Karena kami merasa tempat inilah yang netral sebagai pusat kota Petir yang bisa dijangkau oleh desa-desa yang lain. Dari pertemuan ke pertemuan disepakatilah formula acara PGM. Antaralain bahwa PGM ingin membangun psikologis maka harus diadakan serangkaian acara yang melibatkan banyak pihak teruatama anak-anak yang menjadi sasaran. Apalagi kami menggunakan moment Hari Anak Nasional (HAN), maka anak-anak harus menjadi objek sekaligus objek dalam PGM ini. Selain tentunya masyarakat yang lain. Dari forum itu kami sepakat mengadakan PGM selama dua hari. Hari pertama adalah berkaitan dengan aneka macam lomba. Antaralain lomba cerdas cermat, lomba membaca puisi, lomba mengarang untuk bupati dan lomba mewarnai untuk anak-anak SD.
Selain itu untuk meramaikan ibu-ibu kami membuat lomba menulis surat untuk Bupati bagi ibu-ibu yang sedang mengikuti program pemberantasan buta aksara di masing-masing desa. Selain itu kami juga membuat perlombaan membuat tumpeng. Sementara untuk hari kedua adalah acara serimonial sebagai kampanye minat baca. Kita ingin, pada hari kedua ini beragam pertunjukan dipertontonkan, juga ada orasi dari para tokoh masyarakat Petir. Di hari kedua ini juga ada pawai yang melibatkan elemen-elemen pendidikan yang ada di Petir.
Teman, ini baru persiapan, kami kaum intelektual yang tidak memiliki banyak uang. Kami harus memutar otak untuk menggolkan acara ini. Belum lagi kami harus berpikir mengajak masyarakat Petir dalam acara ini. Karena ini untuk masyarakat Petir.

Baca Edisi selanjutnya…

Aji Setiakarya, Relawan Rumah Dunia
Univeritas Sultan Ageng Tirtayasa 2007
Melaksanakan KKM di Kecamatan Petir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: