RUMAH DUNIA, LABORATORIUM KEHIDUPAN

Juni 26, 2007 at 2:20 pm (Artikel)

Oleh Aji Setiakarya 

Sudah hampir empat tahun aku menjadi relawan Rumah Dunia. Berhadapan dengan kata, kalimat, paragraf, buku, koran. Bergaul dengan anak-anak kampung dan berbincang dengan banyak golongan orang yang sengaja datang ke tempat yang terletak di antara Ciloang dan Komplek Hegar Alam ini. Tidak hanya ilmu menulis, jurnalistik, film dan sastra yang aku dapatkan. Tapi juga kebersamaan, kasih sayang, kehangatan, kemiskinan, kebencian, dan kerinduan serta romantika hidup lainnya. Jauh dari itu, aku menemukan kebahagian. Di sini aku berbahagia. Di Rumah Dunia tercinta. ***
Tulisan ini adalah renungan RD yang ditugaskan oleh Gola Gong. Karena belum dipublikasikan aku tambahi saja sebagai refleksi Rumah Dunia di usianya yang ke lima.
MENJADI RELAWAN
Aku awali dengan cerita pada malam hari.
Malam itu, bulan bergulir di langit hijau. Cahayanya menimpahi ranting-ranting pohon yang berderit karena angin. Di bawah pohon itu terdapat panggung beratap rumbia dengan lantai keramik yang dipenuhi oleh bekas kaki-kaki anak kecil. Di lantai itulah sekelompok orang membentuk lingkaran kecil berdiskusi tentang sesuatu hal. Bercakap tentang buku, sastra dan teater, seni dan mimpi-mimpi mereka. Kumpulan orang itu adalah Gola Gong yang selanjutnya aku kenal orang yang paling energik dan memberi rangsangan kepadaku untuk terus menulis dan melakukan sesuatu yang bermanfaat. Mas Toto, yang sekarang aku kenal sebagai orang yang selalu membuatku pulih dari rasa sedih saat ditimpa kegelisahan dan kecemasan jiwa yang gelap dan kemalangan hati yang beku. Deden, manusia unik yang membuatku banyak belajar padanya dan kadang membuatku jengkel dan terkekeh sendiri. Dan terakhir dari kelompok kecil itu adalah Ibnu. Sosok lelaki yang cakap berargumentasi dan senang berdiskusi. Selain itu masih ada lagi kelebihan Ibnu yang membuat aku perlu belajar darinya. Ia pandai meyakinkan wanita yang ia sukai. He…he… Pendidikan, sastra, perubahan Banten, birokasi yang bodoh, dan miskinnya kepedulian elit Banten menjadi percakapan malam itu. Aku masih diam mendengar mereka. Sampai angin mennghembus ke seluruh tubuhku, tubuh Mas Gola yang dibungkus kaos oblong. Tubuh ramping Mas Radik yang dibalut oleh jas warna hijau telur. Wajah Ibnu yang nampak lelah. Dan Deden, yang cengengesan dan lucu itu. Barulah percakapan mengarah kepadaku. Aku banyak ditanyai persepsi dan pandangan oleh Gola Gong mengenai Rumah Dunia dan buku. Aku mirip calon mentri yang ditanyai oleh Presiden. Setelah menjawab beberapa pertanyaan. Gola Gong mendaulat aku menjadi pembantu di Rumah Dunia atau dalam bahasa mereka adalah volunteer yang selanjutnya aku bawah artinya relawan. Aku diberi tugas sebagi penanggungjawab buku. Hatiku gembira ada yang mau mempercayaiku, dan aku langsung mengatakan “iya” tanpa berpikir panjang lagi. Obrolan berlanjut kepada rencana-rencana. Tapi diam-diam hatiku ragu-ragu mendapatkan tawaran itu karena waktu itu aku sedang mempersiapkan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Aku masuk Program Ronin Nurul Fikri atas bantuan kak Arzion. Ini aku lakukan untuk memenuhi tantangan kakekku yang akan membiayiku kalau aku bisa masuk kedokteran atau psikologi. Bahkan kakekku siap dan berani menngusahakan uang dengan menggadaikan sawah kalau berhasil tes masuk kedokteran. Selain dari kakekku, tantangan juga datang dari Kak Arzion kalau aku bisa lulus tes. Kak Arzion mengutarakan bisa mengusahakan beasiswa dari NF. Karena itulah, setelah diskusi usai, aku memutuskan tidak bisa langsung mukim di RD. Aku harus membagi antara menjadi relawan dan belajar. Aku harus pulang ke Rumah paman kakekku yang terletak di Cipocok, sekitar dua kilometer dari Rumah Dunia. Aku mengendarai sepeda berwarna merah yang aku beli dari tabunganku. Saat aku mau pulang itulah, aku bisa merasakan kesehajaan yang terpancar dari sosok Mas Gola dan Mas Radik. Tidak ada gaya sombong angkuh dari keduanya. Mereka menghormatiku layaknya sesama dirinya. Dia menghargaiku sebagai anak muda yang butuh penghargaan. Padahal aku tahu, mereka berdua jauh lebih tua, lebih populer, lebih berpengalaman daripada aku yang tak ada apa-apanya ini. Aku merasa dihargai waktu istu. Aku merasa menjadi manusia yang benar-benar ada. Aku merasa bernilai di dunia ini. Kedua sosok inilah yang terus menarik bagiku. Bahkan sampai sekarang. Sulit aku mengenang momen-momen bermakna itu. Dan dengan hati yang jujur aku harus bilang sebenarnya kepada mereka bahwa sampai saat ini aku belum menemukan tipe seperti mereka. Aku mengayuh sepeda untuk pulang sementara Mas Radik menemaniku dengan santai melajukan motornya yang berwarna hijau, milik dinas BKKBN agar lampunya menerangi jalan sepedaku. Dalam perjalanan itu aku tidak bisa melihat secara pasti raut wajah orangtua yang sekarang sudah dua anak ini. Yang saya rasakan adalah ia secara tulus mengantarku tanpa pamrih. Aku rasa demikian dengan Mas Radik. Hari-hari selanjutnya aku masih pulang pergi antara Cipocok dan Ciloang yang berjarak sekitar dua kilometer. Aku diperkenalkan pada Nek, Aki, Ibu Tias, Abi, Bela. Perlahan aku aku juga tahu pembantunya seperti Teh Ihat, Teh Ijah dan Teh Ulfah (Ketiganya sudah bersuami). Aku juga mengenalkan diri pada tetangga di sekitar Rumah Dunia. Yang masih melekat di otakku adalah saat aku dikenalkan oleh TT kepada anak-anak yang biasa bermain di sini yaitu kelompoknya Sauni Cs. Mereka inilah yang menginvestigasi, menanyaiku dengan gaya memakai 5 W 1 H. Waktu itu aku canggung menyebutkan nama dan tempat tinggalkku. Aku belum terbiasa. Lalu diantara mereka ada yang bilang, “jangan malu-malu kak nggak papa.” Akhirnya saya menjawab pertanyaan mereka meskipun dengan lidah yang agak berat. Itu adalah pengalamannku yang kadang membuatkan tertawa. Soalnya, sekarang bukan aku yang malu, tetapi mereka yang malu-malu kalau aku tanyai. MENJADI RELAWAN, BELAJAR KEHIDUPAN
Bergabung di Rumah Dunia tidak hanya bekerja dan menyelesaikan tugas semata. Tidak hanya sekedar menjadi relawan yang memerintah dan melaksanakannya. Juga tidak hanya belajar menulis fiksi, jurnalistik atau skenario. Di sini kami diajak untuk belajar kehidupan. Belajar untuk peduli antara sesama, belajar untuk menjadi pembantu dan pemimpin. Belajar untuk menggunakan momentum dimana kita harus diam mendengar dan dimana kita harus berbicara lantang. Jauh dari itu kami diajari untuk percaya diri seperti berbicara di depan banyak orang dan berargumen meskipun menghadapi banyak perbedaan. Mas Gola dan Kang Radik memang berkali-kali pernah mengungkapkan bahwa RD harus menjadi tempat yang mencerahkan masyarakat Banten. Mereka bilang kalau RD harus menjadi alternatif dari pendidikan negeri ini yang mahal. Seperti pada moto RD yaitu membentuk dan mencerdaskan generasi baru.
dari itu Mas Gola dan Kang Radik membawaku ke alam yang lebih keras. Ia menceburkan kami pada sebuah “konfrontasi” dengan pemerintahan yang korup. Kami diam-diam diajak untuk kritis terhadap pola pengelolaan pemerintahan, LSM yang makan uang rakyat dan lembaga-lembaga yang hanya menjadi broker masyarakat. Tidak ada teori indah yang mereka kembangkan untuk memaparkan tentang kebobrokan pemerintah. Tapi perkataan Mas Gola yang berapi-api dan Kang Radik yang perlahan tapi menusuk cukup untuk kita tangkap bahwa mereka antipati pada pemerintah yang kurang ajar ini. Mas Gong juga mengajari kami untuk menjadi “seseorang”. “Somebody,” begitu mas Gong menyebutnya. Tak bosan-bosannya ia menyerukan agar percaya diri, tidak menjadi lembek dan mudah dibohongi orang, suatu contoh misalnya dalam mengantarkan surat undangan. Kami dituntut tidak hanya memberikan surat kepada satpam atau tukang nerima surat. Tetapi kami di suruh untuk menjadi orang penting yang membawa pesan kepada orang yang kita undang. “Jangan hanya ngasih ke tukang satpam,” kata Mas Gola jika menasehati relawan. Dan doktrin itu sudah menancap pada diriku. Aku tidak canggung lagi berhadapan dengan siapa saja. Dengan pengetahuan yang aku miliki aku berani berargumen di depan banyak orang tanpa melihat di hadapanku itu siapa. Alhamdulillah aku hampir sudah tidak takut lagi dengan namanya salah. Selama referensi itu kuat dan memiliki argumen saya melontarkannya kepada forum. Saya juga merasa beruntung bisa jadi relawan RD karena selain bisa dekat dengan Mas Gola dan Kang Radik saya juga dekat dengan teman-temannya seperti Abdul Malik, Uzi dan Andi Suhud. Saya rasa nama mereka di kalangan para aktivis dan LSM tak asing lagi. Abdul Malik, adalah kepala Litbang Radar Banten, Uzi sekarang manajer Banten Raya Post sementara Andi Suhud adalah bos Suhud Mediapromo. Pada mereka saya banyak belajar. Saya sering mengunjungi mereka dan mendapatkan banyak nasehat serta masukan. Thanks for all. Selain yang disebut itu masih banyak lagi orang-orang hebat yang datang ke RD. RUMAH DUNIA RUMAH BERSAMA
Aku pikir eksistensi Rumah Dunia tidak bisa dipisahkan dari keluarga Kang Gola misalnya istrinya Tias Tatanka (TT). TT aku rasa adalah wanita yang penyabar yang akan menjadi pengingat hidupku. Mungkin terlalu subjektif, tetapi bagi mereka yang pernah tahu sosok wanita ini pasti akan menilai serupa denganku. Sikap sopan santunnya telah menginspirasiku aku untuk mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku harus mendapatkan istri melebihi Tias Tatanka yang sehari-hari aku panggil ibu ini. Aku yakin, GG tidak akan pernah menjadi Gola Gong yang aku kenal sekarang ini kalau ia dipertemukan dengan wanita yang “judes” dan gemar melapisi wajahnya dengan berbagai merk kosmetik.
 Selanjutnya adalah perempuan tua yang energik yang selalu mengingatkan aku dan teman-teman di Rumah Dunia untuk bersarapan. Makan siang atau makan malam sekalipun. Ia wanita yang aku kenal selain ibuku yang menumpahkan perhatiannya kepadaku. Jujur, aku kadang menangis kalau mengingat suaranya kalau aku sedang dilanda rasa pegal setelah merampungkan tugas misalnya. Ia mengingatkan aku dengan kata-kata yang lembut dan membahagiakan meskipun aku kadang dibuat bosan olehnya kalau sedang diterjang rasa kesal. Ia bersuara seperti ibuku, melengking dan tegas. Aku rasa teman-teman yang pernah ke Rumah Dunia bisa merasakan kelembutan perempuan ini. Dia adalah Nek Atisah. Mungkin perlakuan Nek inilah sebenarnya yang membuat hubungan kami di antara relawan seperti saudara sekandung. Kita hampir tiap hari makan bersama di dapur yang sama sambil mendengarkan Nek berceramah menasehati kami. Momentum makan itu juga seringkali kami gunakan untuk curhat sama Nek. Dari mulai kuliah, kerjaan sampai urusan wanita. Ibnu adalah yang paling rajin curhat soal wanita pada wanita. Maklum Ibnu itu banyak wanita yang naksir. Saya merasa Rumah Dunia adalah Rumah Bersama sebagai tempat laboratorium kehidupan. ROMANTISME RELAWAN
Nah, kalau misalnya ditanya apakah ada romantisme menjadi relawan Rumah Dunia. Sepertinya sampai aku sedewasa ini baru merasakannya di RD. Romantis banget maleh. Sebelum saya masuk banyak orang yang lebih dulu masuk ke RD. Katakanlah relawan senior yang membantu RD. Selain Ibnu dan Deden yang mukim bareng di RD ada juga Qizink, Firman dan Indra Kesuma yang tidak menetap di RD. Qizink waktu itu belum menjadi wartawan tidak tetap Radar. Dia masih ngekos sehingga sering datang ke RD. Sementara Firman masih menjadi mahasiswa S.2 di UI. Dia kadang bolak balik RD-Depok sambil menjinjing gitarnya. Dua-duanya masih bujangan saat itu. Nah, karena masih bujangan setiap hari Sabtu sampai Minggu ngumpul di RD. Mulai Sabtu Sore biasanya Ibnu, Aku Deden dan Rimba menyiapkan acara buat malam mingguan. Qizink yang sudah kerja kita palakin.
Setelah malam tiba kita mula gonjlengan, misalnya bakar ayam lalu makan bareng di daun. Yang gurihnya lagi, saat makan itu biasanya ada obrolan soal cewek. Misalnya Ibnu sudah mennggaet siapa, Firman sudah dapat siapa, Qizink masih bujang lapuk misalnya. Dan lain sebagainya. Mas Gong biasanya menjadi pemicu. Pergunjingan soal cewek tidak habis saat makan. Obrolan itu berlanjut sehingga muncul mimpi gila untuk hidup bersama. Misalnya membeli tanah yang ada di sekitar RD. Sehingga nanti ada komplek RD. Qizink rumahnya dekat Mang Wawi, Firman dekat dengan Bu Piah, Ibnu dengan kuburan. Masing-masing membawa istri dan anak-anaknya. Sehingga kalau GG memanggil untuk rapat bakal cepat datang. Setelah perut sakit karena tertawa baru kita tidur bergeletakan seperti ikan pindang. Bagiku ini cerita yang sulit untuk dihilangkan dari ingatanku. Firman dan Qizink sekarang sudah punya mong-mongan. Mereka sudah sibuk dengan istri dan anak mereka. Kalau rapat mereka tidak bisa sampai larut malam. Ya alasannya normatif banget sih. “Sudah malam saya punya istri dan anak,” katanya begitu. Tapi tanpa mereka sampai saat ini budaya gonjlengan di akhir pekan masih terus kita lakukan. Aku, Rimba, Deden sekarang ada Langlang, Awi dan Roy juga bareng teman-teman RD lainnya seperti Feri, Igun, Ginanjar dan Piter masih doyan ngadain gonjlengan. Kayanya ini moment yang paling romantis. Saya seh punya niatan kalau calon istri saya mau diajak hajatan di panggung RD. Saya bakal mengadakan resepsi di sini. Doakan saja. RUMAH DUNI MASA DEPAN Mas Gong pernah bercerita padaku, juga kepada banyak orang bahwa dia mengingini sebuah peradaban baru. Dimana di sebuah lingkungan itu ada mesjid, sekolah, universitas dan beragam majlis ilmu lainnya. Banyak orang berdiskusi, dan bertukar ilmu, ada transfer knowledge di tempat itu. GG mengangankan di sekitar Rumah Dunia, Ciloang, Kubil, Kesuren atau Kemang menjadi pusat pembelajaran. Tapi sejak tiga bulan yang lalu Mas Gola tak seenergik dulu. Dia memang sudah berusia kepala empat. Ia lebih banyak berbaring, saat mengobrol pun dia meminta untuk berselonjor saja. Begitu pula Mas Radik, yang usianya berpaut dua tahun dengan Gola Gong. Tias Tatanka, sang istri sekarang sudah punya jabatan baru sebagai kepala TK Jendral Kecil. Qizink telah mempersunting Sumaryanti, gadis Wonogiri yang seorang guru, kini telah melahirkan Kafka dan tinggal di komplek perumahan di Dalung Serang. Sementara Firman sudah hidup berkeluarga dengan Paramhita Gayatri, Mojang Bandung dan oleh Tuhan diamanati Sair Langit. Apalagi relawan film RD, Jacklamota alias Lawang Bagja sudah hijrah ke Abudabi di susul Ibnu Adam Aviciena yang kuliah di Leiden University. Tamatkah RD? Alhamdulillah tidak!!. Tongkat estafet sudah diberikan pada Firman. Profesi dosennya membuat ia lebih lentur untuk membagi waktu dengan RD. Ia rela membagi waktu istirahat dan liburan keluarganya bersama kami dan anak-anak kampung. Begitu pun Qizink, meskipun dia sudah beranak pinak ia masih rajin datang ke RD pada acara-acara diskusi. Saat ada meeting yang genting dia datang di tengah kesibukannya menjadi wartawan Radar Banten. Mas Gola, Bu Tias dan Kang Radik jangan diragukan lagi. Meskipun dalam keadaan sakit dan sibuk ia tetap meluangkan diri untuk RD. Sementara Ibnu dan Lawang Bagja yang nan jauh di sana masih tetap menjadi relawan yang setia dengan memberikan masukan-masukannya. Bahkan Lawang Bagja kerap mengirimkan rejekinya ke RD. Dan buktinya pada perayaan Ulangtahun yang berlangsung 3-4 Maret lalu acaranya berjalan sukses. Meskipun ada kekurang di sana-sini. Alhamdulillah semuanya masih memberi kontribusi. Dengan keikhlasan dan kebersamaan insyallah RD akan terus berkiprah dan eksis. Aku sendiri, akan tetap mencintai RD. Karena di sini Aku berbahagia. Tapi sepertinya mimpi gila untuk hidup bersama yang sering dibilang Qizink, Firman dan Ibnu untuk membuat komplek RD dulu-dulu harus gugur karena tanah di belakangan dan sebelah Rumah Dunia itu sekarang sudah di bangun rumah. Tidak ada lagi lahan kosong di samping RD, Ka Ibnu. Untuk parkir aja sekarang susah!!! Tapi dengarkanlah lirik dibawah ini kalau tak salah Dari Dewani.
Tapi perdengarkanlah lirik dibawah ini kalau tak salah Dewani
Hari Esok Kan melambai, mentari kan terbit lagi.
Semua itu tidak kekal, kan binasa akhirnya Kawan tak selamanya Kasih demikian jua Bahagia ada batasanya. Suka duka silih berganti Esok kan melambai, mentari kan terbit lagi. Yang pasti kita semua menuggu saat binasa Menunggu ajal kan tiba. Menanti ketentuannya …………… Jadi masa depan Rumah Dunia jangan dirisaukan. Seperti Kang Radik bilang pada suatu hari. “Yang penting sekarang kita nikmati dan berbahagia. Kalaulah Rumah Dunia hancur pasti akan muncul-muncul Rumah Dunia-Rumah Dunia lainnya.” Insyaallah.    

Iklan

1 Komentar

  1. don hade said,

    saya merasa hanyut dalam simfony yang bersenandung lembut dari Rumah Dunia, mungkinkah saya bisa hadir dan hidup ditengah romantika indahnya, andai saja di pelosok kampung kecil ujung selatan kota Sukabumi RD menjelma, betapa agungnya kiranya Tuhan mengukirkan taqdir-Nya, sekarang usia saya dua puluh empat, masih adakah harapan untuk mengembangkan bakat yang diberikan Tuhan, setelah saya dilanda lelah dan keputus asaan, kegemaran saya dibidang seni lukis dan seni tulis seakan karam dalam keterbatasan,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: