KAMPUS PARADOK

April 28, 2007 at 5:51 am (Artikel)

 Oleh Aji Setiakarya

Dalam sebuah sidang forum Rektor Indonesia 8 Forum Rektor Indonesia dan Konvensi Kampus ke-2 17-19 Mei 2005, Mudaham Taufik Zen, Guru Besar Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) menegaskan kembali arti dan fungsi kampus. Dalam makalahnya setebal, lelaki yang telah lama belajar di Amerika Serikat ini menuliskan agar masyarakat kampus memperlihatkan keprihatinan dan kepedulian terhadap nasib rakyat dan bangsa yang sedang ditempa kecarutmarutan “chaos”, (the concern of intellectual; we must be concerned, all of  us).

Kenyataan tidak seperti dilukiskan Pak Mudaham. Semakin hari, tampak jelas kampus seringkali menjadi komplotan yang mensukseskan kecarutmarutan bangsa. Itu seperti sebuah impian yang jauh dari realitas. Tulisan Abdul Hamid, Robohnya (Ruh) Kampus Kami (Radar Banten, edisi Senin 9 April) bisa menjadi gambaran.

Sungguh sedih membaca tulisan Pak Hamid ihwal tingkah-polah para pengajar kampusnya. Dalam tulisan itu Pak Hamid secara gamblang bercerita kebobrokan yang tengah terjadi di tengah ladang intelektual bernama kampus. Tentang struktur birokrasi yang korup, penjenjangan jabatan fungsional yang curang dan miskinnya karya ilmiah yang dihasilkan oleh pengajar. Tulisan yang menarik adalah soal penerbitan SK (Surat Keputusan), pengakuan Pak Hamid yang pernah mendapati bahwa dalam satu SK tercantum jabatan ex-officio (pelindung sampai pengarah yang dijabat oleh pimpinan kampus) lebih banyak dari pengurus sebenarnya. Atau sebuah nama merangkap sebagai ex-officio juga sebagai pelaksana.

Yang menohok dari tulisan Abdul Hamid soal “birokrat kampus” di tempatnya mengajar. Mereka seringkali menghalangi junior dalam kenaikan jabatan fungsional. Junior yang pintar, tulis Hamid dianggap saingan dalam merebut posisi-posisi “basah” di kampus. Anehnya lagi seringkali dosen yunior dibebani oleh segudang tugas oleh dosen senior. Yang lebih parah adalah mendengar pengakuan seorang mahasiswa yang karya ilmiahnya dijiplak seorang dosen senior untuk kenaikan jabatan fungsional.

Pak Hamid, kesedihan bapak mewakili kesedihan setiap kita yang memiliki kesamaan dalam berpola pikir. Tindakan yang dideskripsikan bapak di atas, tentu bukan perbuatan yang patut, apalagi itu dilakukan oleh kelompok orang yang mengaku dirinya sebagai masyarkat kampus, dosen, yang harusnya menjadi “maha guru”, yang memberikan teladan kepada masyarakat lain, menyerukan moralitas dan menjaga idealitas. Tapi sepertinya fenomena itu menjadi pemandangan yang lumrah di kampus. Tak terkecuali kampus penulis. Keadaannya tak jauh seperti digambarkan oleh bapak. Penulis ingin menguraikan fakta dari persfektif mahasiswa dalam proses belajar mengajar.

Pak Hamid, di kampus penulis, tidak sedikit para pengajar yang mengabaikan tugasnya sebagai seorang pengajar. Ia datang seenaknya tanpa waktu yang jelas. Kami sering mendapati dosen datang telat lebih dari 30 menit bahkan 60 menit. Atau yang membuat jengkel adalah dosen itu raib tanpa informasi yang jelas. Tentu saja, itu menciutkan semangat dan motivasi sebagian mahasiswa untuk belajar.

Semangat mahasiswa yang awalnya tinggi lenyap karena terlalu lama menunggu. Walhasil pada saat belajar-mengajar tidak ada proses dialog, tidak ada transfser knowledge dan tukar gagasan atau forum debat. Sepi, idem dito. Kelas tidak ubahnya kuburan. Apalagi dosen tersebut tidak memiliki metode mengajar yang jelas, miskin data, informasi dan referensi.

Padahal kita sama-sama tahu, dalam diskusi dan forum-forum debat itulah mahasiswa belajar mendengarkan pendapat orang yang berbeda, mengutarakan pendapat secara efektif, efisien, dan elegan. Mahasiswa belajar bahwa dia merupakan anggota beberapa komunitas sehingga mereka harus memulai membangun dan memupuk “Communities of Practice” agar bisa beriteraksi secara baik dan benar.

Ketiadaan wacana ilmiah itu, dialog di kampus melemahkan sikap kirtis para mahasiswa. Wajar kemudian mahasiswa tidak memiliki jiwa ilmiah, wawasan yang luas dan karya-karya yang dihasilkan dari buah pemikirannya sendiri. Mereka tidak menghargai waktu dan karya orang lain. Yang ada sikap arogan seperti premanisme. Pengrusakan beberapa fasilitas universitas oleh sekelompok mahasiswa, misalnya adalah contoh yang paling kasat mata. Dan yang paling anyar, dikampus penulis terjadi tarik ulur tentang penetapan pucuk pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Pihak universitas sudah gagal memerankan peranannya sebagai institusi sebagai pabrik intelektual.

Seorang mahasiswa, sekelas dan teman dekat, pernah berujar ke penulis, ia merasa lebih beruntung berada di rumahnya mengurusi usaha sampingan sebagai tukang desain grafis ketimbang datang ke kampus tapi tidak semangat karena sering dongkol menunggu dosen. Atau ia datang kuliah, tapi tidak mendapatkan sesuatu yang baru karena sang pengajar tidak memiliki persiapan materi untuk mengajar.

Pak Hamid, soal “birokrat kampus” sepertinya juga menjadi kesedihan buat para dosen yunior yang ada di kampus penulis. Di program studi yang saya ambil ada dosen yang memegang tiga mata kuliah sekaligus. Memprihatinkan, sebab dosen itu harus menyiapkan tiga mata kuliah sekaligus dalam setiap minggunya. Bisa dibayangkan energi yang dia keluarkan, untuk menguasai tiga mata kuliah. Tentu keadaan seperti itu bisa membuat sang dosen tidak maksimal dalam mengajar. Dengan kondisi demikian mahasiswa bisa menjadi korban.

Penulis tidak tahu apakah dikampus lain mengalami hal serupa?.

Pak Hamid, gambaran di kampus bapak juga di kampus penulis tidak pantas terjadi. Kampus harus diselamatkan dari tangan-tangan kotor. Dari orang-orang yang memiliki mental korup. Bagaimana pun kampus, seperti kata MT Zen lagi harus menjadi House of Values, sebuah institusi yang menjaga tata nilai, sebagai agen perubahan, Rumah Pembelajaran (House of Learning), Pusat Kebudayaan (House of Culture), dan Tempat Pemupukan Pemimpin Bangsa (Producers of Leaders). Dan semua itu untuk berpihak pada keadilan dan kebenaran. Maka perbaikan dan perubahan institusi kampus adalah keniscayaan. Kita harus memulainya. Hidup kampus!

 

 

Aji Setiakarya, Mahasiswa Untirta

Lulusan Sanggar Sastra Serang (S3)dan Aktif di Rumah Dunia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: