Pilkada dan Iklan Politik Oleh Aji Bahroji Setiakarya

Oktober 14, 2011 at 2:19 am (Artikel)

Setiap event pemilihan umum selalu ada yang menjadi bahasan yang menarik. Salah satu yang tak luput dari perbincangan adalah iklan para calon kepala daerah. Dari mulai perbincangan di warung kopi sampai di meja-meja perkantoran, iklan menjadi rujukan yang paling gampang untuk dibahas. Pasca reformasi, 1998 setelah pencabutan Surat Keputusan Menteri Penerangan nomor 012/Kep/Menpen/1997 tentang larangan kampanye di koran dan televisi, tren kampanye di dalam negeri terus berubah. Salah satunya adalah maraknya iklan politik di media massa. Dengan jargon dan tagline para kandidat yang akan maju dalam pemilihan umum menampakkan diri dalam upaya menarik simpati masyarakat. Jargon-jargon itu muncul dengan mamanfaatkan media luar ruang, (spanduk, brosur, leaflet gantungan kunci, dll) juga lewat media massa (radio, televisi dan koran).

Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

JAYENG RANA KETUA MACAN GULING

Februari 3, 2010 at 7:41 pm (Uncategorized)

Ketua DPD Partai Demorasi Perjuangan (PDIP) Provinsi Banten  yang juga Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten  dinobatkan sebagai Ketua Dwan Pimpinan Pusat (DPP) Peguron Macan Guling, salah satu aliran persilatan yang lahir di Provinsi Banten. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KABUPATEN SEMBILAN ITU… BANTEN?

September 12, 2009 at 2:54 am (Artikel)

Oleh Aji Setiakarya

Tulisan ini di muat di Banten Raya Post, 9 September 2009

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dengan Menteri Pemberdayaan Mutia Hatta

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dengan Menteri Pemberdayaan Mutia Hatta

Jum’at (28/8), bertempat di Hotel Permata Cilegon, beberapa sekretaris daerah Kota dan Kabupaten Se- Banten hadir dalam pertemuan  bernama Forum Sekda Se- Banten. Selain Sekda juga hadir beberapa kepala Badan Perencanaan Daerah.  Yang diperbincangkan  adalah  tentang komunikasi, koordinasi dan tentu saja pembagian jatah fresh money yang tidak ideal. Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

Pers Damai, Pers Akomodatif, atau apalah??

Maret 28, 2009 at 1:39 am (Artikel)

Tanggapan Aaas Budiarto Shambazi tentang pers tak boleh netral.

piter

Ikut nimrung soal pers. Karena kebetulan punya latar belakang
jurnalistik dan sekarang bekerja di pers, televisi lokal di Banten. Saya sepakat dengan mas Eko Kertajaya kepentingan warga itu sangat variatif. “A” menurut si Amir belum tentu buat si Amar. Jadi saya sepakat dengan ungkapan “pers dipuji dan pers dimaki”

Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sewindu Banten : Bernostalgia Untuk Membangun

November 15, 2008 at 11:26 am (Artikel)

Alhamdulillah, ini dapat juara tiga
lomba korya tulis yang digelar oleh Banten Raya Post
Dalam rangka Ultah Banten

***

Jika 4 Oktober 2000 dijadikan sebagai hari jadi Provinsi Banten maka 4 Oktober 2008 yang lalu Banten menginjak usianya yang ke- delapan. Pemerintah provinsi sering mengumpamakan Banten masih bayi yang hanya bisa merangkak. Kini bayi itu sudah delapan tahun, artinya sudah besar. Bagi ukuran manusia normal usia delapan tahun sudah bisa mengeja angka atau abjad. Usia delapan tahun sudah boleh masuk sekolah. Artinya ia bisa bergaul dan berinteraksi dengan oranglain.

Lalu apakah, Banten, si bayi kini sudah menunjukan perubahan?

Untuk menjawabnya memang kita tidak bisa serampangan. Penulis berpijak pada pendapat Britany Alasen Sembiring, seorang pemerhati otonomi daerah. Ia mengungkapkan ada beberapa hal yang bisa dijadikan indikasi untuk menilai keberhasilan otonomi daerah. Yang pertama adalah keberhasilan kehidupan ekonomi penduduk. Menurut Britany secara mikro itu bisa diukur dengan meningkatnya daya beli masyarakat terhadap barang-barang konsumsi. Penulis menginterpretasikan ini sebagai kekuatan ekonomi masyarakat tumbuh dengan berbagai macam fenomena yang ada. Masyarakat mampu mengelola potensi alam yang ada sehingga bisa menjadi sumber penghasilan bagi dirinya. Dengan demikian masyarakat bisa menyisihkannya penghasilannya untuk menabung.

Indikasi lainnya yang tak kalah penting adalah pendidikan yang murah dan terjangkau. Pendidikan adalah sebuah instrument untuk memberikan transfomasi nilai-nilai transedental. Pendidikan adalah tempat untuk membina mental masyarakat dan pola pikir yang lebih dinamis dan kreatif juga sebagai indikasi indeks pembangunan manusia. Selain itu indikasi lain yang tak kalah penting adalah kesehatan dan kependudukan. Kesehatan merupakan ruh sebuah kehidupan. Masyarakat yang tertata dengan baik, bersih, sehat dan berpendidikan merupakan tanda daerah yang maju.

Kesenjangan

Jika melihat hal-hal tersebut, kondisi Banten saat ini masih jauh api dari panggang. Meski sudah delapan tahun menjadi provinsi perekonomian masyarakat secara kasat mata tertinggal. Pemberdayaan ekonomi justru masih jauh dari harapan. Hampir kita saksikan setiap hari di beberapa lokasi di Serang, Pandeglang, Cilegon mengantri untuk mendapatkan minyak tanah. Mereka tak sanggup menghadapi badai perubahan ekonomi yang semakin berat. Di media massa , kita juga dapat menyaksikan masyarakat mengantri untuk membeli minyak curah bersubdisi. Ini adalah potret kecil masyarakat yang menunjukan ketidakberdayaan ekonomi.

Lemahnya ekonomi kita juga dapat kita lihat dari kesenjangan infrastruktur antara Utara dan Selatan Banten. Ini perbincangan yang tak pernah selesai semenjak Banten berdiri. Utara seolah-seolah menjadi dominasi atas selatan yang miskin fasilitas. Dari segi alat transportasi, komunikasi dan yang lainnya, Selata selalu tertinggal. Padahal pemerataan infrastruktur sebuah daerah merupakan salah satu keberhasilan dari otonomi daerah. Kesenjangan infrastrutktur ini pula telah melahirkan kesenjangan konsumerisme masyarakat Banten. Disparitas antara utara dan selatan, barat dan timur bisa menjadi perpecahan.

Pendidikan Tertinggal

Dari potret pendidikan pun Banten kalah jauh bergerak dengan propinsi-propinsi seusianya. Pekan lalu saya membaca di beberapa media massa bahwa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) belum mampu menggarap soal-soal untuk Ujian PNS. Ini, menyakitkan. Tapi kenyataan bahwa tak terjadi perubahan yang significant dalam dunia pendidikan. Keneh-keneng bae, ‘mangkonon-mangkonon bae’ Artinya, upaya untuk mendorong pembangunan sumber daya manusia Banten berjalan di tempat. Di kampus saya sering terlibat obrolan serius dengan para pengajar. Diantaranya Muhammad Jaiz, Yoki Yusanto, dan Teguh Iman Prasetya. Mereka menanyakan arah pembangunan pendidikan di Banten. Mereka mengeluh minimnya orang-orang Banten yang bisa mengakses Untirta. Yoki, mantan wartawan MetroTV asal Bandung itu mencontohkan di kelas jurnalistiknya tidak ada satu pun orang Lebak dan Pandeglang.

Padahal pada awal-awal ia bersemangat mengajar karena bisa berbagi informasi dengan orang-orang dari daerah Banten Selatan yang notabene tertinggal itu. Pun demikian dengan Muhammad Jaiz dan beberapa pengajar yang lainnya mengeluhkan hal yang serupa. Ada dua alasan yang bisa menyebabkan hal ini. Pertama mungkin karena SMA-SMA di Banten telah gagal menghasilkan lulusan yang berkualitas. Karena seperti kita ketahui Untirta telah masuk pada jajaran PTN yang mengikuti seleksi melalui ujian bersama seperti Seleksi Penerimaan Siswa Baru (SPMB) yang memungkinkan dijangkau oleh berbagai lulusan di seluruh nusantara. Kedua, bisa jadi Untirta tidak menarik lulusan SMA yang berada di Banten karena kualitasnya memang tertinggal jauh dari PTN-PTN lainnya.

Tanpa ingin memunculkan feodalisme dan definisi pendidikan yang universal, ini tentunya harus menjadi pemikiran bersama. Karena kita tahu bahwa tujuan didirikannya sebuah lembaga pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada. Jangan sampai nantinya pemerintah dareah memberikan subsidi yang besar ke Untirta tanpa memberikan output yang jelas terhadap pembangunan Banten itu sendiri.

Tak berhenti disitu, potret pendidikan juga masih diwarnai dengan masih banyaknya bangunan sekolah yang tak layak pakai. Di beberapa media sering diberitakan sekolah runtuh karena tak direnovasi.

Potret di atas adalah gambaran umum Banten delapan tahun kini. Dibalik kegagalan itu kita tidak bisa menafikan pembangunan dan perubahan yang terjadi. Namun sifatnya parsial dan hanya pada beberpa segi, dan lebih didominasi pada pembangunan fisik. Itu pun diwarnai dengan aroma tak sedap korupsi dan premanisme proyek. Toto St Radik pada refleksi Hari Ulang Tahun Banten ke – 5 pernah menyinggung hal ini. Dan kini, tiga tahun berlalu, kondisinya tak juga berubah.

Nostalgia Dan Semangat Membangun

Banten penuh Nostalgia dengan kejayaan dan heroisme. Dari sisi ekonomi Banten pernah menjadi pusat perdagangan dunia. Ini dibuktikan dengan keberadaan bandar Internasional Karangantu. Menurut Hasan Muarif Ambary (1995) yang dikutip oleh Machsus Thamrin Bandar Karangantu ini tumbuh menjadi sebuah pusat perdagangan yang besar, sehingga membawa Kejayaan Banten dalam pengaruh Islam.

Dari ketatanegaraan Banten juga pernah menorehkan sejarah. Banten telah mengirimkan duta besarnya ke Inggris pada tahun 1682. Dua utusan diplomatik itu adalah Kiai Ngabehi Wira Pradja dan Kiai Abi Yahya Sendana.

Dari dunia pendidikan dan keintelektualan, Ibnu Hamad, seorang doktor komunikasi dari Universitas Indonesia pernah menulis jika kondisi keintelektualan Banten sebenarnya sudah ada sejak dulu. Itu dibuktikan dengan Syeh Nawawi Al-Bantani yang dikenal di jagat dunia. Kemudian Hoesein Djajadiningrat, orang Banten yang menjadi orang Indonesia pertama meraih gelar doctoral di Den Haag Belanda. Dan bukti lainnya adalah sosok A Rivai yang pernah memimpin Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kiranya itu adalah sebuah semangat dan pemecut untuk kita bersama membangun kembali kejayaan Banten. Saat ini pemerintah daerah memegang peranan tinggi untuk menumbuhkan semangat masyarakat. Sebagai regulator, dan perpanjangan pemerintah pusat, pemerintah daerah harus mampu mengelola sumber-sumber yang ada yang kemudian menjadi sumber kesejahteraan untuk masyarakat Banten. Saat ini tampuk kekuasaan politik itu dipegang oleh Ratu Atut Chosiyah sebagi pemimpin pemerintahan daerah. Sebagai kepala daerah yang dipilih secara langsung, Atut memiliki legalitas yang kuat untuk menjalankan perannya melaksanakan amanat rakyat. Untuk menorehkan sejarah, membangun peradaban Banten yang jaya Atut harus mampu mengendalikan kerabat, keluarga dan kroni-kroninya untuk membangun Banten kearah kemajuan. Sementara stakeholder, masyarakat, pers dan komponen lainnya harus bersama-sama mendukung setiap langkah pemerintah yang positif dengan terus kritis tanpa sinisme.

Banten adalah sebuah anugrah dari Allah SWT. Di bumi Sultan ini terhampar laut, telah tumbuh emas, padi dan besi juga beragam potensi alam lainnya. Dari Selatan dan Utara memiliki potensi alam yang tak kalah dengan daera-daerah lainnya. Karena itu, si bayi Banten kini sudah delapan tahun. Seremonial mengenang perjuangan mewujudkan provinsi memang perlu. Agar masyarakat bisa mengingat. Tapi yang paling penting adalah bagaimana mewujudkan cita-cita perjuangan para pejuang itu untuk mewujudkan masyarakat adil sejahtera berlandaskan iman dan taqwa seperti dalam visi misi provinsi Banten.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Mahasiswa Dan Krisis Identitas

Oktober 23, 2008 at 10:44 am (Artikel)

Mahasiswa Dan Krisis Identitas

Oleh Aji Setiakarya

Kabar tawuran mahasiswa tersiar lagi di berbagai media. Kali ini yang terlibat adalah mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan Yayasan Administrasi (YAI). Menurut data yang dihimpun oleh Kompas (16/10) tawuran antara UKI dan YAI ini dalam bulan ini mencapai puluhan kali.

Kasus UKI dan YAI bukan kasus pertama. Jauh sebelumnya sering terdengar tawuran mahasiswa. Di Makassar misalnya, sering terjadi ribut antara mahasiswa, bahkan se kampus. Di televisi tampak terlihat mahasiswa sering melakukan anarkisme pada tawuran tersebut. Mahasiswa saling melemparkan batu dan kayu bahkan merusak fasilitas umum dan kampusnya sendiri. Pada kasus UKI dan YAI ini ditemukan oknum mahasiswa yang menyiapkan diri dengan senjata tajam. Bak preman mereka tampak siap untuk beradu fisik.

Kekerasan

Sepertinya bukan hanya kelompok preman yang tergolong dalam kaum anarkis. Mahasiswa kini juga identik dengan dengan anarkis karena memanfaatkan cara-cara kekerasan untuk menyuarakan jeritan hati atau ide-idenya. Selain tawuran, mahasiswa juga sering terlibat dalam aksi demonstrasi yang tidak sehat. Mereka melakukan longmarch, meneriakan yel-yel sambil menendang pot bunga atau melemparkan tomat pada beberapa bagian bangunan yang diprotes. Bahkan tak jarang membakar atau merusak fasilitas umum. Lihat kasus aksi demonstrasi kenaikan BBM pada akhir Mei 2008 lalu di depan Istana. Tragedi tersebut adalah indikasi bahwa mahasiswa tak bisa mengatur emosionalnya. Mereka terbawa pada kubangan emosi anarkis.

Di Banten, keberingasan mahasiswa juga sering terjadi. Pada sidang paripurna peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Banten ke-8 lalu misalnya, beberapa mahasiswa mencorat-coret jalan dengan pilok yang sengaja mereka bawa. Terbawa dengan emosi mereka seolah tak berpikir jika itu adalah tindakan anarkisme. Apalagi dibarengi dengan pembakaran pengrusakan pada baliho secara paksa. Tawuran sebenarnya adalah salah satu persoalan yang menjangkiti anak muda (mahasiswa) negeri ini. Selain tawuran mahasiswa juga seringkali menampilkan aktivitas yang tidak terpuji. Misalnya mereka seringkali menampilkan adegan mesum, mabuk dan aktivitas lainnya yang hanya mengedepankan hedonisme.


Krisis Identitas

Anarkisme, tawuran, demonstrasi yang anarkis jelas tidak sesuai dengan nilai-nilai kemahasiswaan yang dikenal di tengah masyarakat sebagai agen perubahan, sebagai pengemban moral. Identitas mahasiswa adalah luhur. Ia kemudian disegani ditengah masyarakat karena ia memiliki “gigi” saat kondisi social di terpa ketidakjelasanan. Karena itu setiap kali mahasiswa berteriak lantang atas sebuah penindasan, ketidakadilan, turun ke jalan maka tak sedikit masyarakat membantunya secara sukarela.

Namun era kini, identitas mahasiswa sebagai agent of change, sebagai penanngung moral luntur oleh budaya kekerasan, adegan mesum dan tingkahpolah lainnya yang tak terpuji. Jika potret tersebut terus ditampilkan mahasiswa, maka identitas mahasiswa yang luhur pastilah lenyap. Dadi Rsn, salah satu seniman asal Banten ketika melihat tawuran mahasiswa di televisi mencak-mencak agar mereka yang tawuran tidak disebut dengan mahasiswa karena telah mencederai nilai luhur mahasiwa. Dadi juga mengkritisi tindak tanduk mahasiswa saat ini yang hanya bisa berdemo namun tidak menunjukan prestasi yang bagus. Menariknya Dadi meyakini bahwa kebiasaan tawuran itu adalah kebiasaan dari SMA sejak dulu. Dia memberikan pandangan bahwa jika tidak diberikan bimbingan yang baik. Bukan tidak mungkin si mahasiswa yang kebetulan memiliki akses yang cukup key DPR misalnya, mereka akan tawuran di gedung DPR sana. Selain Dadi banyak lagi masyarakat yang mulai antipati dengan tindak tanduk mahasiswa.

Belajar Pada Laskar Pelangi

Mahasiswa idealnya adalah kelompok yang memiliki basis moral, intelektual yang tinggi. Makanya kemudian, Amien Rais menyebut mahasiswa sebagai agent of change. Hal ini mengingat mahasiswa/akademisi adalah tulung punggung masyarakat untuk sebuah perubahan Jika kini di tengah mahasiswa melakukan anarkisme, pasti ada yang salah dengan pola pendidikan kita. Tentu saja bukan kesalahan lembaga penddidikan tempat mereka berada seperti UKI atau YAI. Saya yakin benih-benih untuk berbuat kekerasan itu sudah tumbuh sejak mereka SMA. Maka itu hanya menyalahkan perguruan tinggi tidaklah tepat. Yang perlu diintrospeksi adalah sistem pendidikan dari mulai SD hingga SMA.

Menyaksikan tawuran mahasiswa itu saya teringat dengan buku dan film Laskar Pelangi yang belakangan ini sedang mewabah di nusantara. Dari sana saya dapatkan pesan bahwa ada hal yang telah dilupakan oleh segenap pengelola lembaga pendidikan atau ahli pendidikan saat ini. Juga dengan orangtua kita. Yakni semangat mengajar dengan hati. Seni mengajar yang diterapkan disekolah saat ini adalah semangat nilai yang mengedepankan otak ketimbang hati. Yang terjadi adalah kita pintar namun tak memiliki kepekaan sosial terhadap lingkungannya.

Seorang guru bernama Bu Muslimah yang tak memiliki pendidikan tinggi ternyata mampu menumbuhkan semangat kepada anak-anaknya. Semangat untuk memberikan rasa percaya diri kepada anak kampung yang tak memiliki harta untuk bersekolah hingga bisa mencapai cita-cita yang tinggi. Semangat untuk menjaga nilai moral.

Tawuran yang ditontonkan oleh mahasiswa pada beberapa televisi dan media lainnya adalah sebuah tanda telah terjadi kesalahan pola pendidikan kita. Sudah saatnya kita menata kembali pola pendidikan yang ideal yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, moral dan hati ketimbang otak atau secarik kertas yang berisi angka-angka. Pintar tapi tak bermoral.

Aji Setiakarya, Mahasiswa Untirta

Bergiat di Rumah Dunia

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

kLIP tHE pReSIDENT

Oktober 23, 2008 at 10:26 am (DOK VIDEO)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

RBT THE PRESIDENT

Oktober 10, 2008 at 6:30 am (REPORTASE)

THE PRESIDENT EKSIS LEWAT ALBUM FENOMENA

Sebelumnya saya gak pernah pake RBT di HP saya tapi saat mendengar musik The President yang berjudul mencintai dua hati saya rela kehilangan sembilan ribu. He..he…Ini dia sedikit sejarah tentang group musik ini..

***

Kemudian beranjak ke arah serius dengan membuka privat gitar di pangkalan Andharma Bandar Lampung, tepatnya di tahun 2001. Seiring berjalannya waktu, pada 2002, The President mencoba membuat beberapa lagu yang dituangkan dari pengalaman dan kisah nyata. Seperti lirik lagu Mencintai 2 Hati, yang dibuat pada tahun 2002 dan sekarang menjadi Hit Single The President
Karena semua lagu berasal dari pengalaman dan ungkapan hati, maka album The President diberi nama Fenomena, dengan konsep musiknya bernuansa lembut atau easy listening. The President pun menyuguhkan irama dan ketukan beat yang sekarang sedang digandrungi semua kalangan, baik anak muda maupun dewasa. Formasi The President saat ini adalah Andharma alias Aan (gitar), Adhi Swing (bas), Arman (vokal), Iwan (keyboard), dan Dyan (drum). “Formasi ini terbilang cocok untuk kita,” tutur Andharma yang juga pentolan The President.

The President adalah nama pilihan dari beberapa nama yang sebelumnya sudah dipakai. Karena beberapa alasan, pada tahun 2008, sebelum masuk dapur rekaman, sudah ditetapkan sebagai nama grup band dan didaftarkan ke Direksi Haki sebagai pamegang paten. Penggarapan album Fenomena rampung pada akhir April lalu, dan mulai edar pada awal Juni 2008 dengan label Infinity dan Indomusik serta RBT digarap oleh Warner Music Indonesia.
Meskipun formasi personilnya sempat mengalami beberapa kali perubahan. Namun, sebagian pemain inti masih tetap bercokol, mereka adalah Andharma dan Adi Swing. Dari lima personil berasal dari Lampung, namun terdapat satu yang berasal dari daerah Riau yaitu Arman. Ia direkrut pada tahun 2008 melalui audisi vokal di Bandar Lampung. Audisi itu sendiri diikuti sebanyak 91 peserta dari berbagai daerah.

Beberapa event manggung baik indoor maupun di lapangan terbuka sudah dilakukan. Kota-kota besar seperti Jakarta, Cibubur, Bandung, Bogor, Malang, sampai Surabaya, pernah disambangi untuk promosi. Sampai sekarang ini, masih ada 10 kota lagi yang telah dijadwalkan untuk tour bersama-sama dengan beberapa artis papan atas. “Nah, dalam waktu dekat ini The President akan roadshow di Banten. Tunggu kedatangan kami yah,” ungkap Adi Swing.(isa/pers kampus)

Radar Banten, 28 September 2008

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

INI VIDEO PERTAMA SAYA STAND UP

Oktober 6, 2008 at 5:01 am (DOK VIDEO)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

UDIN DAN MIMPI KE ITALIA

September 24, 2008 at 12:38 pm (REPORTASE)

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Kira-kira jam sembilan Senin (22/9) malam tadi saya balik kantor. Rasa pegal dari kantor saya baringkan di lantai panggung yang dipadati oleh koran-koran bekas tadi siang. Sebentara saja membaca tak lama muncul Miftahudin. Dengan gayanya yang sembarang anak Ciloang yang lebih tua satu tahun dari saya ini mendekati saya. Ia kemudian bercerita tentang buka bersama di kantor Gong Media Cakrawala (GMC), di Jl. Bayangkara Serang yang juga markas majalah Kaibon. Ia mengungkapkan bahwa saat buka dirinya berdebat dengan para penghuni kantor (Roni Langlang dan Piter Tamba). Masalahnya adalah soal memasak nasi. Udin panggilan akrab Miftahudin yang lulusan SMP ini menanak nasi. Namun diketahui oleh salah satu rekan di GMC tidak menanak nasi semuanya. Ia menyisakan beras yang ada di karung. Kontan tindakan Udin ditegur oleh salah satu kawan saya di GMC ini. Mereka menyayangkan sikap Udin yang menyisakan beras di dalam karung tersebut. Namun Udin tak diam menerima teguran itu. Ia beralasan bahwa dirinya tidak boleh menghabiskan beras sama sekali. Karena bisa menghilangkan rezeki. He..he.. Saya pernah mendengar hal ini dari nenek saya.

Mitos

Nah, lantaran mempertahankan argumennya Udin “diserang” oleh rekan-rekan. Namun Udin tak mau kalah. Alasannya adalah itu pesan orangtuanya. Ia harus mematuhi orangtuanya.

Mirip orang Baduy yang mengatakan; Kumaha Adat! Jika ditanya sesuatu yang tidak berkenan. Namun rekan-rekan menganggapnya sikap Udin mempercayai mitos.

Miftahudin ini adalah kakaknya Royadi, relawan Rumah Dunia. Ia seringkali main ke Rumah Dunia. Di tengah kondisi ekonominya yang lemah ia tetap semangat untuk belajar. Ia pernah mengikuti kelas menulis di Rumah Dunia pada angkatan 11. Meski berprofesi pedagang gorengan ia tidak sungkan-sungkan berbaur dengan mahasiswa, pelajar dan rekan-rekan lainnya. “Kalau saya sudah kenal gak malu. Tapi saya malu kalau belum kenal dekat,” ia pernaka mengatakannya itu kepada saya.

Saya melihat ia memiliki keinginan untuk bisa menulis dan semangat ingin tahu yang tinggi. Terlihat saat malam tadi ia menanyakan soal mitos itu kepada saya. Hemhm.. tentu saya jawab dengan seadanya; mitos atau mite(myth) adalah cerita rakyat yang tidak berdasar namun dipercayai oleh masyarakat awam. Namun sepertinya ia tidak puas sehingga ia mengatakan kepada saya akan mencari referensi lain. Saya menghormati sikap Udin ini. Bagi saya ini adalah sebuah perkembangan yang maju. Ia ingin tetap belajar.

Semenjak awal September lalu, Udin saya ajak untuk menjadi messenger (Tukang mengantarkan kaset ke BantenTv). Lucu sekali. Awal-awal ia sangat malu dengan orang-orang di kantor. Ia selalu mencari saya. Padahal saya harus liputan atau ada rapat. Udin mengaku segan kalau melihat wanita yang rada cantik.. he..he.. mungkin dia juga sering menonton BantenTv sehingga tahu presenter BantenTV. Untuk menghindari rasa mindernya, Udin saya perkenalkan kepada hampir seluruh orang yang ada di ruangan. Dan Alhamdulillah Udin sekarang sudah selonong boy. Ia bisa langsung menyerahkan kaset kepada scripwriter atau sekretaris redaksi tanpa mencari saya terlebih dahulu.

Mimpi Ke Italia

Dan semoga dugaan saya tidak salah, Udin ternyata memang ingin tetap belajar. Selesai mengobrol tentang mitos. Tiba-tiba udin melemparkan pertannyaan cara menulis berita olahraga. Wow!! saya senang, saya ladeni saja. Ia kemudian menyatakan keheranannya

kenapa berita pertandingan sepakbola antara klub Torino dan Intermilan di Italia sana ada di Radar Banten. “Berarti wartawannya ada di Italia. Tapi disitu ada netnya. Kata Kang Ipit (Reporter BantenTV) itu dari internet,”

Kebetulan saya pernah mengambil mata kuliah penyutingan berita dengan pengetahuan yang saya miliki saya jelaskan proses pengambilan berita dari internet. Kebetulan di RD ada internet saya langsung saja praktekan. Udin tampak mengerti. Saya pun senang. Mungkin bagi kita informasi ini hal-hal biasa saja. Tapi bagi Udin informasi itu sepertinya berguna. Tanpa pamitan Udin pergi. Saya masih terbaring lagi. Namun tiba-tiba dia membawa kertas dengan catatan. “Saya membuat berita pertandingan antara Torino dan Intermilan,” kata Udin sambil menunjukan hasil catatannya. Saya baca, tulisan Udin. Saya takjub!! karena penuturannya yang sudah bagus, apik dan memakai bahasa-bahasa bola yang lazim di pakai di majalah-majalah olahraga. Saya yakinkan kepada Udin bahwa itu bukan contekan. Dia bilang; sumpah. Dan saya yakin itu bukan contekan saat Udin bilang bahwa dia senang membaca berita bola. Setiap ada koran yang pertama kali ia baca adalah tentang bola. Dan yang tak habis pikir. Udin selalu menuliskan pertandingan bola yang ia tonton di layar televisi terutama liga Italia. “Saya buat saja beritanya. Cuma kadang wawancaranya bohong,” ungkapnya. Seperti Ikal dalam Laskar Pelangi yang ingin ke Sorbone, Udin pun bermimpi ingin ke Italia meliput pertandingan bola.

Din!! sebagai kawan saya senang. Amat senang!!

Kita belajar bersama Din sambil bermimpi.

Saya juga sama bermimpi ingin S2 Ke Eropa.

Bravo Udin!!

Aji Setiakarya

Rumah Dunia Komplek Hegar Alam

No. 40 Ciloang Serang Banten 42118

www.setiakarya.wordpress.com

www.rumahdunia.net

081808037115

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.