UDIN DAN MIMPI KE ITALIA

September 24, 2008 at 12:38 pm (REPORTASE)

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Kira-kira jam sembilan Senin (22/9) malam tadi saya balik kantor. Rasa pegal dari kantor saya baringkan di lantai panggung yang dipadati oleh koran-koran bekas tadi siang. Sebentara saja membaca tak lama muncul Miftahudin. Dengan gayanya yang sembarang anak Ciloang yang lebih tua satu tahun dari saya ini mendekati saya. Ia kemudian bercerita tentang buka bersama di kantor Gong Media Cakrawala (GMC), di Jl. Bayangkara Serang yang juga markas majalah Kaibon. Ia mengungkapkan bahwa saat buka dirinya berdebat dengan para penghuni kantor (Roni Langlang dan Piter Tamba). Masalahnya adalah soal memasak nasi. Udin panggilan akrab Miftahudin yang lulusan SMP ini menanak nasi. Namun diketahui oleh salah satu rekan di GMC tidak menanak nasi semuanya. Ia menyisakan beras yang ada di karung. Kontan tindakan Udin ditegur oleh salah satu kawan saya di GMC ini. Mereka menyayangkan sikap Udin yang menyisakan beras di dalam karung tersebut. Namun Udin tak diam menerima teguran itu. Ia beralasan bahwa dirinya tidak boleh menghabiskan beras sama sekali. Karena bisa menghilangkan rezeki. He..he.. Saya pernah mendengar hal ini dari nenek saya.

Mitos

Nah, lantaran mempertahankan argumennya Udin “diserang” oleh rekan-rekan. Namun Udin tak mau kalah. Alasannya adalah itu pesan orangtuanya. Ia harus mematuhi orangtuanya.

Mirip orang Baduy yang mengatakan; Kumaha Adat! Jika ditanya sesuatu yang tidak berkenan. Namun rekan-rekan menganggapnya sikap Udin mempercayai mitos.

Miftahudin ini adalah kakaknya Royadi, relawan Rumah Dunia. Ia seringkali main ke Rumah Dunia. Di tengah kondisi ekonominya yang lemah ia tetap semangat untuk belajar. Ia pernah mengikuti kelas menulis di Rumah Dunia pada angkatan 11. Meski berprofesi pedagang gorengan ia tidak sungkan-sungkan berbaur dengan mahasiswa, pelajar dan rekan-rekan lainnya. “Kalau saya sudah kenal gak malu. Tapi saya malu kalau belum kenal dekat,” ia pernaka mengatakannya itu kepada saya.

Saya melihat ia memiliki keinginan untuk bisa menulis dan semangat ingin tahu yang tinggi. Terlihat saat malam tadi ia menanyakan soal mitos itu kepada saya. Hemhm.. tentu saya jawab dengan seadanya; mitos atau mite(myth) adalah cerita rakyat yang tidak berdasar namun dipercayai oleh masyarakat awam. Namun sepertinya ia tidak puas sehingga ia mengatakan kepada saya akan mencari referensi lain. Saya menghormati sikap Udin ini. Bagi saya ini adalah sebuah perkembangan yang maju. Ia ingin tetap belajar.

Semenjak awal September lalu, Udin saya ajak untuk menjadi messenger (Tukang mengantarkan kaset ke BantenTv). Lucu sekali. Awal-awal ia sangat malu dengan orang-orang di kantor. Ia selalu mencari saya. Padahal saya harus liputan atau ada rapat. Udin mengaku segan kalau melihat wanita yang rada cantik.. he..he.. mungkin dia juga sering menonton BantenTv sehingga tahu presenter BantenTV. Untuk menghindari rasa mindernya, Udin saya perkenalkan kepada hampir seluruh orang yang ada di ruangan. Dan Alhamdulillah Udin sekarang sudah selonong boy. Ia bisa langsung menyerahkan kaset kepada scripwriter atau sekretaris redaksi tanpa mencari saya terlebih dahulu.

Mimpi Ke Italia

Dan semoga dugaan saya tidak salah, Udin ternyata memang ingin tetap belajar. Selesai mengobrol tentang mitos. Tiba-tiba udin melemparkan pertannyaan cara menulis berita olahraga. Wow!! saya senang, saya ladeni saja. Ia kemudian menyatakan keheranannya

kenapa berita pertandingan sepakbola antara klub Torino dan Intermilan di Italia sana ada di Radar Banten. “Berarti wartawannya ada di Italia. Tapi disitu ada netnya. Kata Kang Ipit (Reporter BantenTV) itu dari internet,”

Kebetulan saya pernah mengambil mata kuliah penyutingan berita dengan pengetahuan yang saya miliki saya jelaskan proses pengambilan berita dari internet. Kebetulan di RD ada internet saya langsung saja praktekan. Udin tampak mengerti. Saya pun senang. Mungkin bagi kita informasi ini hal-hal biasa saja. Tapi bagi Udin informasi itu sepertinya berguna. Tanpa pamitan Udin pergi. Saya masih terbaring lagi. Namun tiba-tiba dia membawa kertas dengan catatan. “Saya membuat berita pertandingan antara Torino dan Intermilan,” kata Udin sambil menunjukan hasil catatannya. Saya baca, tulisan Udin. Saya takjub!! karena penuturannya yang sudah bagus, apik dan memakai bahasa-bahasa bola yang lazim di pakai di majalah-majalah olahraga. Saya yakinkan kepada Udin bahwa itu bukan contekan. Dia bilang; sumpah. Dan saya yakin itu bukan contekan saat Udin bilang bahwa dia senang membaca berita bola. Setiap ada koran yang pertama kali ia baca adalah tentang bola. Dan yang tak habis pikir. Udin selalu menuliskan pertandingan bola yang ia tonton di layar televisi terutama liga Italia. “Saya buat saja beritanya. Cuma kadang wawancaranya bohong,” ungkapnya. Seperti Ikal dalam Laskar Pelangi yang ingin ke Sorbone, Udin pun bermimpi ingin ke Italia meliput pertandingan bola.

Din!! sebagai kawan saya senang. Amat senang!!

Kita belajar bersama Din sambil bermimpi.

Saya juga sama bermimpi ingin S2 Ke Eropa.

Bravo Udin!!

Aji Setiakarya

Rumah Dunia Komplek Hegar Alam

No. 40 Ciloang Serang Banten 42118

www.setiakarya.wordpress.com

www.rumahdunia.net

081808037115

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

WONG BANTEN : AGENT OF CHANGE

September 18, 2008 at 5:25 pm (Memori)

Salam,

Dulur-dulur se Banten
baru saja saya datang dari Kramatwatu menghadiri
Nujulal Qur’an dengan pencermaha Ketua MUI Pusat K.H Ma’ruf Amin.
Sebelum saya menghadiri acara; sambil meliput, sebuah sms masuk
dari HALIM HD.

“aku tdk pux duit u nyumbang pendirian lembaga pendidikan
itu. Tapi aku mau nyumbang 2-3 ratus buku. Bolehkah?
(cc gg, ibnu, aji,toto)”

Ya, Allah hati saya langsung bergetar membacanya.
Saya kenal Kang Halim sekitar awal 2005. Dia datang
ke RD dengan memakai kaos oblong putih.
Berkacamata dengan tas besar dipundaknya.
Lengkap dengan anduk kecilnya. Saat itu
mirip tukang becak. Saya dikenalkan oleh
Mas Gong bahwa Kang Halim adalah
orang Royal yang malang melintang di dunia seni teataer.
Beberapa Gedung Kesenian di Indonesia dia yang mempelopori.
Kini ia menetap di Solo

Pada pertengahan 2005 di Solo saat saya berkeliling
Sragen – Solo-Yogya- Dan Bandung.
Saya menyempatkan diri  ke rumahnya.
Di Rumahnya, pojok-pojoknya hanyalah buku.
Dan ia langsung ia berbicara tentang Makodim
yang sedang diruntuhkan saat itu. Meskipun
sudah tahunan tidak pulang saya merasa
dalam garis wajahnya  mendambakan
kemajuan Banten. Keemasan Banten.
Kecemerlangan masa depan Banten.

Mungkin itu yang mendorong
ia mengirimi sms ke saya dan kawan-kawan
yang lain. Karena rasa cintanya
pada kampung halaman ia berkomitmen sebisanya
untuk membantu Banten..

Terus terang kang, saya terharu
membacanya. Semoga menjadi penggerang bagi saya
untuk berkomitmen mencintai Banten.
Karena saya pun tak punya apa-apa kang.
Saya anak petani yang diberikan akses
pendidikan di Jurnalistik  Untirta.
Dan alhamdulillah berkat pergumulan
saya di RD (((Hampir lima tahun saya disini digembleng dengan jurnalistik-film dan fiksi
bikin cerpen, puisi, novel, reportase biasa sampe dengan dept news, atau skenario film. Bikin nhouse magazine-bikin leaflet-buletin, diskusi, jadi redpel situs Rd, sampai ngegarap Radar Yunior dan Kaibon. juga bersinggungan orang-orang hebat. Dari pengarang dan sineas hebat sekelas  Helvi Tiana Ros, Taufik Ismail, K Usman, Ahmadun, Asma Nadia. Goenawan Muhammad, Gus TF, Soni Farid, Habiburrham Al-Sirozi, Hernowo, saya juga sering diajak ke RCTI, MEtorTv, untuk mengenal dunia TV Dll.. dari RD juga saya kenal  Akademisi seperti pak yoyo, Pak Tihami, penggiat pers, A Uji (BARAYA posT)  Abdul Malik..dari kalangan Seniman, dan LSM  bANTEN yang muncul di media saya pern menemuinya.)))

Dan sekarang mulai membuahkan hasil
saya dipinang sebagai news koordinator di BantenTV.
Pak Ben, GM BTV memberikan kepercayaan kepada saya.
Alhamdulillah saya punya gajih.
dan alhamdulillah bisa lepas dari BTv.
tapi alhamdulillah uang itu habis untuk  membeli buku,
apalagi belakangan ini hendak skripsi..
saya ingin segera lulus di semester delapan ini..

karena itulah saya juga gamang!!!
dengan idenya mas gong.. Apa yang hendak saya berikan??
pada perubahan Banten. tapi saya yakin, tidak harus dengan uang.
Mungkin saya hanya mampu menjadi fasiliator saja.
Menjadi penghubung.. Menjadi Kacung milis WB
Buku pun aku tak banyak
Kang Halim.. tak mencapai dua ratus..

Karena itu saya sangat berbahagia dan surprise
saat Kang Pedje berani mengawali
untuk memulainya…yang ternyata diikuti
oleh dulur-dulur yang lain..

Mas Gong sangat sering melontarkan
hal ini pada kami.
semoga dari ruang maya ini
kita bisa bersilaturrahmi intens.
saling bahu membahu.
dan milis WB menjadi Agent OF Change
menjadi komunitas paling depan
Untuk perubahan Banten lebih baik..

maka itu kita harus ririungan..
kang Halim gaduh buku mangga,
kang Ali Nurdin gaduh bata mangga,
Siapa lagi menyumbangkan apa????

semoga bermanfaat

thanks
aji setiakarya.
www.setiakarya.wordpress.com
www.rumahdunia.net
081808037115

catatan:
Untuk  lebih intens
mungkin habis lebaran harus kita gelar silaturrhmina.
kapan tanggalna?? tentukan kaya
kamari buka puasa?? Kemudian untuk keuangan  yang sudah
konfirmasi.. untuk sementara mungkin ditampug aja dulu..
di rekening siapa gitu???
Kang Muqoddas meren teu kaberatan kaya kamari??

Permalink 1 Komentar

BANTEN BERGEGAS MAJU!!!

September 16, 2008 at 1:41 pm (Memori)

Sore tadi saya baru saja datang dari Kepolisian Daerah Banten (Polda) Banten. Mengunjungi seorang Kepala Bagian yang berminat memasang video klip yang dia produseri. Bersama kawan-kawannya, Pak Komandan, saya memanggilnya telah membuat kelompok musik yang digarap dengan serius. Saat ia presentasi saya langsung kepincut dengan band yang dia gawangi ini. Ia menjadi aktor disana. Dan dia rela mengeluarkan investasi untuk keberhasilan bandnya.  “Di Pandeglang sudah laku. Itu pun belum di publikasikan,” ungkapnya.  Sebenarnya ia ingin sekali roadshow tapi saja kepontak dana. “Susah sponsornya. Apalagi band yang masih belum punya nama. Apalagi sponsor disini (Banten-red),” ungkapnya.

Potret Tak Peduli

Saya merasa keluhan Pak Komandan ini adalah keluhan saya juga. Sebagai orang yang ingin intens di dunia kreatif terutama jurnalistik dan  film  saya terus mengasah kreativitas saya. Misalnya bersama kawan-kawan di Rumah Dunia (RD), dan Kang Jaya saya menggelar workshop film dokumenter pada awal 2006. Saya bersama kang Jaya/ Lawang Bagja  mengundang beberapa pelajar, mahasiswa dan umum untuk ikut serta pada acara ini. Kami mengklaim saat itu adalah workshop yang pertama kali di Banten (mungkin minus Tangerang) setahu kami baru kali itu di Banten menggelar pelatihan  film.  Namun sayang sokongan dari sponsor  nyaris tak ada. Pemerintah dari Dinas Pendidikan Banten hanya bilang bagus. Sementara dari dunia usaha, tak ada yang merespon. Perusahaan Krakatau Steel yang besar itu tak mau memberikan CSR-nya kepada kegiatan kreatif begitu. Mungkin kami tak pandai merayunya.. he..he..

Padahal dari pelatihan itu  alhamdulillah kami berhasil menggaet kawan-kawan yang sekarang eksis di beberapa  komunitas filmmaker. Antaralain Scente 10 (Dulu kita sepakat menunjuk Risan Syahda Aulia, mahasiswa  komunikasi sebagi ketuanya). Saya dengar Ican sekarang membuat komunitas film lagi di kampusnya. Saya merasa senang sekali ada banyak komunitas kreatif disini. Sebelumnya saya dan alumni MetroTV yang sekarang menjadi dosen; Yoki Yusanto juga membuat komunitas Srangeng.

Selain Ican ada juga Yayan Hardiyanto, kawan saya juga di Komunikasi Untirta. Yang menarik Yayan awalnya susah untuk diajak workshop namun saat ini  ia sudah enjoy dengan usaha video shooting yang digarapnya. Ia memiliki camera MD-10000 yang juga sering kami sewa. Selain Yayan ada pula Nurfitri Dulhadi. Kang Ipit sekarang bareng bersama saya di BantenTV menjadi reporter dan kameraman.  Selain yang saya sebutkan masih banyak lagi kawan yang tidak sempat saya identifikasi. Seperti Di Rangkasbitung dan Cilegon.

Tidak bisa disangkal persinggungan saya dengan dunia kreatif; film dan jurnalistik tidak terlepas kiprah saya bersinggungan dengan Rumah Dunia (RD). Di sini  Gola Gong (GG) pendiri RD yang berkompeten dalam bidang itu merangsang kami untuk  bisa mewarnai Banten dengan potensi yang kami miliki yakni jurnalistik, film dan sastra.

Selain saya, masih banyak lagi kawan-kawan yang saya rasa lahir diawali dari persinggungan mereka di RD. Intinya RD bisa menggembleng SDM Banten dengan kompetensinya (Sastra, Jurnalistik dan Film).

Namun seperti keluhan Sang Komandan di atas. Saya melihat kepedulian terhadap sokongan menciptakan SDM-SDM yang berkompeten dan menciptakan dunia kreativitas nyaris tak ada. Baik dari pemerintah maupun swasta. Mungkin penilaian saya parsial. Mohon maaf jika saya salah. Sejauh yang saya ikuti pemerintah  lebih asyik mengatur dirinya sambil membuat APBD yang gegabah dan tidak efektif.  Pun dengan kondisi swasta di Banten. Beberapa tesis mengatakan bahwa ini diakibatkan oleh faktor di luar pemerintah yang mengendalikan pemerintah. Jawara??  Buktinya??

Mari Berubah

Rekan-rekan sehabis buka shaum, magrib tadi saya bersama tim produksi dan news di BantenTv menggelar rapat redaki. Kebetulan datang Miing Bagito, orang Rangkasbitung yang sukses jadi artis dan kini akan melaju ke kursi DPR RI dengan perahu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Miing menghambur bersama kami di ruang redaksi. Tanpa tedeng aling-aling mendorong keberadaan BantenTV sebagai Tv Lokal.

Yang menarik adalah ia dengan gagah bercerita tentang kiprahnya selama tiga bulan membantu warga Banten Selatan (Lebak dan Pandeglang).  Ia mengkritisi banyak persoalan di Banten. Dari mulai kemiskinan, pendidikan dan kesehatan. Juga lambang Asmaul Husna di Jalan Protokol Kota Serang yang hanya menjadi pajangan. Ia juga menyebut dirinya adalah orang yang menolak pembangunan Mall Serang. (Padahal sejauh yang saya ikuti, Miing tak pernah menyuarakan penolakan Mall Serang); Mungkin bisa di cek ke Mas Gong dan kawan-kawan yang tergabung dalam AWAK!!!; organisasi yang mewadahi penolakan atas Mall Serang. Mohon maaf jika saya salah.

Dulu-dulur, Kang  Miing menyebut Banten belum memiliki identitas (Ia menanyakan lagu daerah Banten, Makanan Khas Banten) itu yang saya ingat.  Karena itulah  ia mengaku terpanggil datang ke Banten untuk membangun. Ia menunjukkan dokumentasi dalam bentuk DVD berdurasi sekitar 20 menit yang berisi kiprahnya membantu aneka macam persoalan masyarakat di daerah Banten Selatan. Bahkan Kang Miing sudah membuat Miing Fellowship yang memberikan  beasiswa kepada masyarakat yang tidak mampu. Kang Miing sadar bahwa Banten minim SDM dan tertinggal. Dan ia menyebut salah satu nama anak Abah Chasan sebagai biang kerok dan menumpuk harta Wong Banten. Tentu saja sebagai anak muda Banten saya mengapresiasi hasil kerja Kang Miing. Semangat yang ditularkan Kang Miing untuk membantu harus dijadikan cermin. Apalagi ia memakai kalimat indah. Berbakti Untuk Banten Yang Lebih Baik. Tapi satu hal yang mengganjal  hati saya. Mengapa baru saat ini bergerak. Saat hendak mencalonkan anggota DPR-RI?

Semoga Kang Miing rela menjawab??

Eksistensi WB

Usai diskusi dengan Kang Miing saya terlempar pada Ririungan dan buka bersama milis Wong Banten Sabtu kemarin. Terus terang, kamari eta bener-bener ngeriung. Tidak ada nuansa elitis. Para anggota milis yang hadir tampak tidak malu-malu mencocol bala-bala,  melahap sawo dan mecabak ketan bintul. He…he…

Saya menyaksikan kang Muqoddas yang kesasar ke Cilowong lahap makan sate bandeng. Kang Humaedi Hasan berkeringat makan ikan asin bersama Kang Ali Nurdin. Begitupun Kang Fuad Hasyim, Kang Setiadji dan Edi Hudiata. Mereka songkol melahap sambel.. He..he.. Kang Halim HD pasti kabita..

Saya yakin makan ngampar daon dengan menu kemarin adalah hal yang sudah  jarang kita lakukan. Dan  menurut saya ririungan kemarin adalah sederhana dengan orang-orang  bagi orang yang memiliki kapasitas yang tidak sembarangan. Sekedar mengabsen ririungan kemarin ada Kang GG (pendiri RD), Kang Ali Nurdin (orok menes/politisi dan dekan), Humaedi Hasan (pengusaha), Fuad Hasyim (insinyurperminyakan), Muqoddas (Insinyur Tata ruang), Setiadji (pengusaha), Kang Uus (birokrat), Hakim (politisi), Yucca (guide wisata), Ibnu Adam Aviciena (dosen), Edi Hudiata (Alumni Mesir/Depag Banten). Kang Miftah (pegawai) kang Ana (pulukis) A Uji (Pemred Baraya Post, tapi balik). Saya sendiri dan kawan-kawan relawan RD. Selain mereka ada kawan yang  ingin hadir tapi tak sempat dan memberikan konfirmasi yakni Iif (moderator), Kang Rizaldi (pengusaha) dan Deden BKPMD

Dari ririungan kemarin saya melihat seperti halnnya wacana yang ada ada dimilis ini. Memiliki hasrat untuk berubah (bahasan pak Yoyo). Terutama lepas dari hegemoni yang menamakan jawara tapi berprilaku jiga penjahat.  Namun dulur-dulur sepertinya masih meraba bentuknya seperti apa perubahan itu akan diwujudkan. Kang Gege, Kang Hasyim, Kang Ali Nurdin dan Kang Humaedi Hasan, dan seluruh kawan-kawan yang hadir saat itu sepakat untuk membuat forum yang mewadahi dulur-dulur sedanten di milis Wong-Banten  untuk bergerak nyata. Tidak hanya nobrol di milis tanpa ada bukti dan hanya mengkrtisi. Kami yang hadir sepakat untuk membuat wadah sebagai tempat kaderisasi. “Saha wae nu arek maju memimpin Banten kudu di gembleng hela di forum eta,” begitu kata Kang GG dan Kang Humaedi juga di amini kawan-kawan. “Untuk mencari pemimpin masa depan,” tegas Kang Ali Nurdin.

Kami sepakat bahwa wadah itu adalah Wong Banten. Insyallah dulur-dulur yang hadir tentu saja dibantu dengan dulur-dulur  Banten yang ada dimana saja untuk menggelar deklarasi dan menggandeng setiap komunitas mana saja yang memiliki pemahaman yang sama. BANTEN  BERGEGAS MAJU (itu kata dari saya)… he..he..

Kami Panitia Mengucapkan Terimakasih Kepada

Para Donatur, Kang Muqoddas atas rekeningnya, Kang Setiadji/Kang Uus atas sawonya,

Kang Edi atas Ketan Bintulna. Kawan-kawan RD, kang GG dan Te Tias, Kang Rizaldi  atas barang-barag bukaan. Sirop sisana loba kang. Jeng relawan. Bu Ilah atas nasi angetnya dan sambel lekoh.. he…he..

Btw, Video kemarin sudah ada di You Tobe

Foto-foto akan saya share di  FS saya..

Nuhun

Ketuplak Ririungan

Aji Setiakarya

081808037115

www.setiakarya.wordpress.com

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar