EIFFEL, SLANGKANGAN DAN SLANK,
Oleh Aji Setiakarya
Para wartawan memberinya inisial “Eifell”. Tentu saja nama samaran itu adalah nama menara di Paris, Prancis. Menara yang dinobatkan sebagai menara terindah. Mungkin karena kecantikannya yang membuat wanita itu di juluki Eifell. Meskipun ada indikasi “E” itu adalah Endah atau Wartawan Detik.Com menyebut Eiffel cantik, putih rambutnya panjang dan oriental. Tapi sungguh menyiksa hati, wanita ini ternyata ditangkap bersama anggota Komisi IV DPR Al Amin Nasution dari fraksi Partai Persatuaan Pembangunan (PPP), partai yang punya azas Islam. Yang lebih menyesakkan lagi, dari kabar yang saya himpun Eifell adalah PSK yang dijadikan bonus oleh Sekretaris Bintan Azirwan untuk menyuap Al-Amin.
Sebagai warga biasa muak dengan tindak tanduk para wakil rakyat. Peristiwa Al-Amin bukan kali pertama anggota DPR terlibat kasus suap dan korupsi. Sebelumnya sederet nama anggota perwakilan rakyat itu pernah menjadi tersangka penggunaan dana tak sepatutnya. Sebelumnya 2 anggota institusi yang mengaku wakil rakyat itu terlibat dalam kasus penyuapan BI. Yakni Antony Zedra Abidin dan anggota Komisi XI Hamka Yamdu. Meski pun sebenarnya diduga ada 16 orang yang terlibat dalam kasus BI ini. Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat sekitar 40-an anggota DPR RI periode 2004 – 2009 terlibat korupsi. Mereka berasal dari berbagai macam partai. Baik yang punya basis agama atau pun nasionalis. Data itu tentu saja yang nampak. Pasti banyak yang tidak terlihat
SLANGKANGAN DPR
Wanita, dunia slangkangan sepertinya memang bukan hal baru untuk menggoda pejabat menggolkan sebuah proyek. Beberapa teman seringkali berbagi cerita, jika kamu punya “gacoan” cewek cantik pasti gol. Pejabat, atau yang punya kebijakan sepertinya sangat dekat dengan slangkangan perempuan. Ya, tentu saja perbuatan ini seirama dengan moral yang mereka miliki. Bejatnya moral bisa membuat siapapun tergelincir pada kubangan nista. Dewi Persik, saat terlibat konflik dengan Wahidin Halim, Wali Kota Tangerang pernah memberikan ancaman kepada publik jika dirinya akan membuka seluruh aib para birokrat Kota Tanrgerang jika melakukan tindakan yang menyudutkan dirinya. Entah hanya gertak sambal atau ancaman itu benar, sehingga Wahidin Halim tidak mau melaporkan Dewi Persik kepada polisi.
Menurut, Syafii Maarif, Mantan Ketua Umum Muhammadiyah adalah puncak gunung es di negeri ini. Syafii yang pernah menjadi panitia seleksi pemilihan pimpinan KPK ini mengatakan tidak hanya terjadi di DPR tapi hampir di berbagai instansi. Pernyataan Syafii ini harus menjadi warning buat para penegak hukum agar labih giat lagi membongkar berbagai kasus yang merugikan dan melecehkan martabat bangsa ini. Pun, lembaga semacam Komisi Pemberentasan Korupsi (KPK). Mereka jangan tebang pilih dan harus tetap menjaga independensinya. KPK jangan menjadi mesin kepentingan pemerintah. Bisa jadi dibalik penangkapan Al-Amin, pemerintah dalam hal ini Presiden Soesilo Bambang Yhudoyono (SBY), hendak menonjolkan dirinya bahwa ia serius dalam memberantas korupsi. Ia, hendak mempermalukan DPR dan membangun citra positif pemerintah untuk meraih kedudukan kembali pada pemilu 2009 nanti.
SLANK
Kabar tertangkapnya Al-Amin harus menjadi cermin buat kita semua. Terutama mereka yang duduk di bangku DPR. Mereka harus introspeksi. Harus mau menerima kritikan dan saran dari yang diwakilinya. Saya heran dengan para anggota DPR. Seringkali mereka mengaku menjadi wakil kita, menjual nama rakyat. Tapi saat kita bersuara mengingatkan, mereka marah. Contoh yang teranyar adalah niat Badan Kehormatan (BK) DPR melalui Gayus Lumbun yang hendak melaporkan kelompok musik SLANK karena menciptakan dan melantunkan Gosip Jalanan yang di dalamnya menyebut DPR tukang buat UU dan tukang korupsi. Padahal SLANK rakyat Indonesia yang mereka wakili. Wajar apabila SLANK memberikan masukan kepada wakilnya agar tidak korupsi dan tidak hanya buat undang-undang. Bagi saya pernyataan Gayus Lumbun yang hendak melaporkan SLANK tidak logis. SLANK mengkritik dalam porsi yang wajar. Tidak membuat keonaran apalagi merusak gedung DPR. Anehnya DPR kebakaran jenggot. Padahal, jika memang tidak melakukan korupsi seharusnya anggota DPR itu tidak usah risih dengan lagunya SLANK.
Sementara cermin untuk masyarakat, kita harus selektif dalam memilih anggota legeslatif yang bakal jadi wakil rakyat ini. Masyarakat jangan tertipu dengan rayuan gombal partai yang ingin membuat kenyang kelompoknya saja. Kita harus belajar dari peristiwa SLANK, penangkapan AL-AMIN, Kasus BI dan kasus-kasus lainnya. Memang sulit untuk memilih di tengah kondisi lingkungan demokrasi yang amburadul ini. Tapi saya percaya, diantara yang hitam pasti akan hadir yang putih di sana.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untirta
Redaktur Pelaksana www.rumahdunia.net
Foto: Diambil dari situs www.profauna.or.id

rendika berkata,
September 18, 2008 pada 9:01 am
” kok nama samarannya bagus yah klo buat cewek dalam kasus ini,, “eiffel”, tapi klo buat korban pemerkosaan atau kekerasan seksual pasti cuma itu – itu aja. Kalau ngga ‘bunga’,'mawar’,'melati’.
cici / icha berkata,
Februari 11, 2009 pada 7:22 am
kakak qu th pengen bgt ktmu ????????? klo blh
kpn konser dibekasi ????
nicky berkata,
Maret 14, 2009 pada 8:15 am
mungkin pemerintah merasa tersinggung
saa merasa tidak melanggar hukum he
udh emg kenyataan juga
havidz berkata,
Juli 3, 2009 pada 1:19 pm
buat ank2 slank.. salam PLUR…. tetap bebas merdeka dlm berkarya gw dukung!!!
kpn konser ke kota kcl kmi lumajang gy????