DARAH SEGAR DARI ANYER DAN METRO TV
Oleh Aji Setiakarya
– Artikel ini dimuat di Banten Raya Post, Edisi Rabu, 24 April 2006–
Anak-anak adalah dunia yang membahagiakan. Masa yang penuh eskperimental dan memiliki imaginasi yang liar. Kami saksikan suasana itu pada Jum’at dan Sabtu (18-19/4) pagi lalu. Saat itu anak-anak dari TK Al-Muttaqien Keramatawatu berkunjung ke RD untuk field trip. Ada sekitar 70 orang yang datang ke RD. Dengan beragam aktivitasnya mereka menguasi RD. Kami tentu saja kerepotan, dengan ulah mereka yang penuh sensasi itu. Ajat, anak Ciloang, pengurus Jendral Kecil (JK) yang sekarang menjadi relawan sibuk menata panggung. Ia sibuk menyediakan kertas untuk anak-anak ini yang mau menggambar tentang alam. Di tengah kesibukan itu untung, RG Kedung Kabang, tutor mendongeng datang mewarnai kegiatan mereka. RG Kedung menjadi perhatian mereka. Apalagi saat ia mulai membawakan materi dongengnya, menjadikan suaranya sendiri seperti bebek dan kucing, anak-anak terbahak liar.
MENJADI SARJANA
Aji Setiakarya
Menjadi sarjana, bagi siapa saja, saya pikir adalah sesuatu yang menyenangkan. Meski, banyak krikitikus sosial menyebut dalam setiap kelulusan sarjana itu muncul pengangguran baru. Apalagi buat mereka yang berasal dari kampung seperti saya, rasa haru dan bahagia akan menjadi hiasan yang tak terlupakan saat itu. Seperti terlukis pada teman-teman saya yang merasakannya, John Bahtiar Rivai dan Susanto. Jhon dan Santo, begitu kami memanggilnya kawan dekat di komunitas film Srangenge. Di kampus bersama mereka, saya seringkali membuat film. Baik film documenter pribadi atau pun documenter pesanan sampai dengan kawinan.
UN; PERANG PSIKOLOGIS
Oleh Aji Setiakarya
Dimuat di majalah Kaibon Edis 9 Pro kontra tentang standarisasi Ujian Nasional atau disingkat UN yang rutin tiap tahunnya melemparkan ingatan saya sewaktu duduk di bangku SMA. Saat itu tahun 2003, tepat saya duduk di kelas 3 Madrasah Aliyah Negeri 2 Serang Banten. Tahun itu adalah, tahun yang mendebarkan bagi mereka yang duduk di kelas 3. Karena saat itu Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menjadikan kami semacam kelinci percobaan. Tak pernah terpikirkan di benak kami jika kondisi itu kami yang mengalami. Meskipun standarisasinya masih kecil yaitu paling kecil 3,25 namun kondisi ini membuat kami secara psikologis tertekan. Kami was-was menghadapi kondisi ini. Tapi sungguh kami tak bisa mengelak. Ketetapan menteri pendidikan nasional seperti firman tuhan yang tidak bisa disangkal.
Tentu saja tak ada jalan lain. Sekolah tentu tak mau anak didiknya tertinggal. Selain karena persoalan iba, juga citra sekolah yang buruk pada publik yang tak bisa meluluskan anak didiknya. Ini adalah persoalan urgen bagi sekolah. Apalagi sekolah saya MAN percontohan di Serang, Pandeglang dan Lebak minus Tangerang.
Sekolah sibuk mengadakan belajar tambahan. Bimbingan belajar (Bimbel) istilahnya. Setelah pelajar normal jam satu usai. Saya harus mengikuti lagi jam tambahan ini. Tentu saja dengan biaya tambahan. Saya, ah saya rasa teman-teman yang lain saat itu tidak punya pilihan lain selain mengikutinya. Karena disanalah kami bergelut dengan soal-soal, contoh-contoh ujian. Jujur, kita tidak lagi berpikir bagaimana belajar yang baik pada moment itu. Dalam benak siswa adalah bagaimana bisa menjawab soal sesimpel mungkin dan secepat mungkin. Kebetulan saya mengambil studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Materi yang diujikan adalah matematika, kimia dan fisika. Ah, lier setiap pulang sekolah harus menghapal rumus-rumus. Rumus kimia, fisika juga matematika. Tak ada hari tanpa rumus, kata anak-anak IPA. Tapi memang diakui kami giat mengerjaakan soal saat itu.
Sampai pada saat ujian, niat kami bukan untuk bersungguh-sungguh belajar. Tapi hanya menaklukan soal ujian. Dan alhamdulillah meskipun tak secerdas Einstein, matematika saya mendapatkan nilai di atas 3,00. Artinya saya lulus. Mengerjakan soal-soal ternyata tidak sia-sia. Namun ada yang membuat saya risau. Teman kami yang matematikanya lebih pandai dari saya di kelas tidak lulus. Dia harus mengulang tiga bulan kemudian. Saya kecewa waktu itu. Saya rasa, UN tidak adil. Karena itu saya berdo’a semoga UN tidak lagi menjadi penentu dalam kelulusan. Namun kenyataannya. Anak-anak SMA bahkan SD kini harus mengalami apa yang saya alami. Mengerikan!! Saya ikut bersimpati.
Aji Setiakarya, Sekjen Rumah Dunia Studi di Ilmu Komunikasi Untirta.
ROADSHOW BAJAJ, KUNJUNGAN DAN WORLD BOOKDAY
Oleh Aji Setiakarya
Siapa yang ingin sekali diluaskan rezkinya, ditambah umurnya, maka hendaklah ia menyambungkan rahimnya (menyambungkan tali persaudaraannya).” (HR.Bukhari dan Muslim).
Terinspirasi dari hadits ini, kami di Rumah Dunia (RD) yakin dengan semangat persaudaraan itu akan muncul benih kebersamaan. Mungkin RD adalah salah satu representasinya. Gola Gong (GG), yang punya banyak relasi dan teman bisa mewujudkan RD. Ingin melanjutkan tradisi baik itu, akhir tahun 2007 Firman, saya, dan beberapa relawan mulai berkunjung ke tokoh masyarakat, pejabat dan komunitas-komunitas di Banten. Saat itu kami awali dari pak Yoyo Mulyana, Rektor Untirta 2003-2007. Dari sana kami mendapatkan pengalaman berharga. Kritik dan saran yang positif untuk perbaikan RD. Namun karena berbagai kendala, akhirnya tidak berlanjut. Baca entri selengkapnya »
EIFFEL, SLANGKANGAN DAN SLANK,
Oleh Aji Setiakarya
Para wartawan memberinya inisial “Eifell”. Tentu saja nama samaran itu adalah nama menara di Paris, Prancis. Menara yang dinobatkan sebagai menara terindah. Mungkin karena kecantikannya yang membuat wanita itu di juluki Eifell. Meskipun ada indikasi “E” itu adalah Endah atau Wartawan Detik.Com menyebut Eiffel cantik, putih rambutnya panjang dan oriental. Tapi sungguh menyiksa hati, wanita ini ternyata ditangkap bersama anggota Komisi IV DPR Al Amin Nasution dari fraksi Partai Persatuaan Pembangunan (PPP), partai yang punya azas Islam. Yang lebih menyesakkan lagi, dari kabar yang saya himpun Eifell adalah PSK yang dijadikan bonus oleh Sekretaris Bintan Azirwan untuk menyuap Al-Amin. Baca entri selengkapnya »
JURNALISME SASTRAWI, MINAT BACA DAN BAJAJ
Jika ada gaya baru dalam mengolah sebuah berita maka itu adalah jurnalisme sastrawi atau sebagian yang lainnya menyebut dengan jurnalisme literer. Itulah yang disampaikan oleh Iwan Piliang, yang hadir memberikan materi Sabtu (5/04) siang di Rumah Dunia (RD) kepada kelas menulis angkatan 11. Berbeda dari pembelajaran-pembelajaran jurnalistik konvensional, gaya kepenulisan berita literer ini lebih mengedepankan pada aspek deskripsi ketimbang opini. “Dan opini hanyalah bumbu yang harus dikemas dengan ringan,” ungkap Iwan yang siang itu datang bersama Didik L Pambudi, Farhat Ali seorang wartawan dan Bowo Sangkala, kontributor Metro TV Banten. Jurnalisme literer memang mulai berkembang belakangan ini. Apa yang menjadi standarisasi jurnalisme literer?. Tak jauh berbeda dengan feature. Ia tak membosankan dan menginspirasi serta sarat dengan nilai-nilai social dan bercerita. Begitulah kira-kira, gambaran jurnalisme literer dalam persfektif Iwan Piliang, pengelola website www.presstalk.info yang juga presenter pada acara presstalk yang digelar di QTV ini.
Bagi saya, apa pun gayanya tetap saja berita senantiasa sejajar dengan frekeunsi membaca si pembuatnya. Dari sanalah, si pembuatnya banyak referensi dan kaya wawasan. Seperti halnya koki. Agar masakannya nikmat, maka ia harus memberi bumbu yang lengkap. Pun penulis, agar bisa memikat sidang pembaca maka bumbu yang dipercikannya harus lengkap dan inovatif. Hal itu diakui oleh Iwan, yang juga pernah menjadi wartawan Tempo ini. “Membaca tetap menjadi kuncinya,” ungkap Iwan lagi.
MINAT BACA
Di Indonesia, mungkin hanya beberapa koran saja yang mau mengembangkan gaya literer. Mungkin ini terkait dengan tempat yang tersedia. Dalam satu event, jika kita buat gaya literer maka tidak kurang dari 6000-7000 karakter. Jika ukuran koran Indonesia hampir setengah halaman penuh. Bayangkan, berapa banyak kertas yang dibutuhkan. Nah, ini ada urusanya dengan persoalan bisnis. Belum lagi kemampuan para si jurnalisnya yang harus pandai mengolah sebuah berita.
Seperti halnya yang saya singgung, aktivitas jurnalistik senantiasa searah dengan minat baca. Jika masyarakat itu rendah dalam mengakses media informasi melalui teks maka bisa dipastikan ia mengidap penyakit rendah baca.
BAJAJ; MOBILE LIBRARY
Erat kaitannya dengan minat baca, RD semenjak ulangtahun yang ke-enam lalu telah mempunyai bajaj yang diberinama Mobile Library. Dengan box di belakangnya Bajaj ini bakal menjadi perpustakaan keliling. Bajaj ini sudah nongkrong di beberapa tempat. Jum’at (4/4) lalu, Roy dan Ajat, relawan RD sudah nongkrong di Pesantren Al-Islam Tegal Duren. “Ini permintaan mereka supaya kita datang ke tempatnya,” kata Roy yang menjadi sopirnya. Menurut Ajat selain pesantren Al-Islam, masyarakat di Ciputat Kecamatan Cipocok juga meminta Bajaj ini rutin datang ke tempatnya setiap minggu. “Malah RT-nya menyambut kami dan mengumumkannya lewat mesjid,” cerita Ajat.
Bagi kami, ini adalah kabar gembira. Masyarakat meminta perpustakaan hadir di tempatnya. “Supaya anak-anak bisa membaca di sini,” kata Ajat menirukan pak RT. Saat ini, kita memang harus jemput bola. Supaya mereka dekat dengan bacaan. Jangan lagi kita mengatakan masyarakat malas membaca sementara ruang bagi mereka tidak ada. Jika pun ada, ruang itu tidak dikelola dengan baik. Sehingga membosankan. Pengalaman kami di RD, memang minat baca, anak-anak dan remaja di sekitar kami naik turun. Kadangkala, dalam satu pekan ini mereka rajin datang. Tapi pekan selanjutnya mereka tidak kunjung muncul. Nah, jika menghadapi kondisi ini, kami mengisinya dengan beragam kegiatan yang menarik dan menggembirakan. Karena itulah di RD ada wisata, dongeng, gambar sampai dengan ekpresi. Agar mereka tetap tertarik untuk membaca.
Bajaj yang kemudian dinamai dengan Mobile Library ini adalah hasil kerjasama Nurani Dunia Jakarta, sebuah yayasan dibawah pimpinan Imam Prasodjo, XL Care dan RD. Bajaj ini sebenarnya belum di luncurkan oleh pihak Xl Care. Tapi biarkan saja, kita sudah jalan. Toh niat awal kami adalah untuk menarik masyarakat senang membaca. Bukan seremonial peluncuran.
SENI MENGELOLA TBM
Ada pengalaman menarik saat saya mengikuti Training Of Trainer (TOT) yang digelar oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Jakarta di Bengkulu beberapa waktu lalu. Saya yang menjadi perwakilan Banten jujur saja prihatin melihat kondisi para pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) ini. Lantaran mereka masih memposisikan taman bacaan masyarakat sebagai tempat simpan-pinjam saja. Yang lebih memprihatinkan diantara 37 peserta dari wilayah Indonesia bagian barat, hanya saya yang masih mahasiswa dan berusia paling muda. Rata-rata usia mereka di atas 35 tahun. Waduh. Wajar saja kemudian minat baca bangsa ini tak beranjak meningkat. Yang perlu dikritik lagi adalah, ada peserta yang hanya mendambakan blockgrant saja. Saat saya berkunjung ke beberapa TBM di Bengkulu. Saya merasa berbahagia, meskipun tak pernah di sumbang oleh APBD, koleksi buku di RD masih jauh lebih banyak di banding TBM-TBM itu. Sementara dari kegiatan-kegiatan yang digelar RD pun mungkin nyaris tidak pernah di lakukan oleh TBM-TBM ini. Jadilah saya tempat sharing mereka. Di luar materi formal yang disampaikan oleh tutor, kami sering berdiskusi kecil tentang pengelolaan perpustakaan. Beberapa orang di antara mereka memang pernah ke RD saat TOT di Serang 2006 lalu. Dan mereka tahu kiprah RD. Sementara yang lainnya baru mengetahuinya. Muhammad Sidik, pengelola TBM dari Banjarmasin, Kalimantan Barat malah ngebet pengen ke RD. Begitu juga pengelola TBM Widexs dari Bengkulu Bu Linda. Semoga ini bukan untuk uzub tapi sebagai sebuah introspeksi buat kami. Karena prinsipnya, segala sesuatu harus dikerjakan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. RD itu sendiri tidak jadi tiba-tiba. Tapi, paling tidak membutuhkan waktu 6 tahun untuk membangunnya. Sebelum kami ada Gola Gong, Tias Tatanka, Toto St Radik, jungkir balik mengelola RD. Dibantu teman-teman percetakan seperti Suhud, dan media massa cetak dan elektronik, juga para relawan dan donator adalah kunci sukses RD saat ini. Karena itu persoalan minat baca, tidak hanya persoalan perseorangan atau komunitas semata. Tapi keseluruhan komponen. Semoga kerja kita di balas oleh Allah SWT. Amiin.
Aji Setiakarya, Sekretaris Jendral Rumah Dunia
studi pada Ilmu Komunikasi Untirta Banten
mengikuti TOT TBM Depdiknas di Bengkulu
Artikel ini dimuat di Banten Raya Post Edisi Rabu/9 April 2008 Foto: Langlang Rhandawa; Iwan Piliang saat memberikan materi
Foto: Kayanya Mas Wien Muldian neh. Soalnya Sang Kepala Perpustakaan Depdiknas ini
suka motret-motret. Dan Fotonya pakai Digital SLR lagi. Makanya bening banget.
RUMAH DUNIA JILID DUA
Oleh Aji Setiakarya
Salah satu kehancuran bangsa dan peradaban adalah karena generasi yang lemah. Atau karena generasi yang hilang. Kita bisa bercermin dari sejarah. Yang terdekat dengan kita adalah Sultan Haji, generasi Sultan Ageng Tirtayasa. Karena mental dan akhlak yang lemah ia mengingkari ayahnya yang berada pada jalur kebenaran. Bahkan ia memihak Belanda untuk meruntuhkan kekuasaan ayahnya yang melindungi rakyat Banten saat itu. Sultan Ageng Tirtayasa telah gagal mengkader anaknya. Bila kita tarik dalam konteks keiindonesiaan; kebangkrutan negeri ini pun karena persoalan regenerasi yang tiada. Pasca Presiden Soekarno nyaris pemimpin kita lekang dari kezuhudan. Bangsa ini nyaris tidak memiliki pemimpin. Dan akhirnya, seperti yang kita rasakan ini.
RD JILID DUA
Rumah Dunia (RD) pada 3 Maret 2008 lalu memperingati usianya yang keenam. Semarak ini adalah yang ke-dua sepeninggalan Gola Gong (GG), Tias Tatanka (TT) dan Toto St Radik. Firman, saya dan teman-teman di Ciloang; Deden, Royadi, Awi, Oki, Andri dan Ajat diamanahi untuk mengelolanya. GG, TT dan Toto menjadi penasehatnya. Ini sudah menjadi kewajiban kami untuk melanjutkan cita-cita mereka; menciptakan dan mencerdaskan generasi baru Banten meskipun pada kenyataannya tak mudah. Tapi kami bisa membayangkan apa yang terjadi pada saat-saat awal pendirian RD. Toto St Radik pada ulangtahun kemarin menyebut sebagai fase pertama sebagai babad hutan. “Tendang sana tendang sini,” ungkapnya. Itu dilakukan karena masyarakat saat itu masih “tertutup” dalam dunia literasi, terutama kaum birokrat yang bandul dan tidak mau peduli. Saat ini, alhamdulillah tantangan kami lebih ringan memang.
PESTA ENAM TAHUN DAN BAJAJ LIBRARY
Oleh Aji Setiakarya
Minggu (2/3) pagi hari kami terasa kosong. Gola Gong (GG), penasehat Rumah Dunia harus bergegas ke Purwakarta untuk menjalani pengobatan. Meski tampuk pimpinan sudah lama di tangan Firman Venayaksa kepergian GG yang diagendakan selama 2-3 Minggu itu tetap membuat kami agak hambar.
Tapi Rumah Dunia harus tetap berjalan tanpa Gong. RD, seperti GG bilang bukan lagi miliknya meski terletak di belakang rumahnya. RD sudah menjadi area publik, learning center yang harus menjadi tempat belajar. Karena itulah kami harus tetap bersemangat dan menggelar berbagai event yang mendidik. Senin (3/3) malam kami menggodok lagi agenda ulang tahun RD yang ke-6 yang sudah didiskusikan sebelumnya. Saya, Firman, Deden, Roy dan Awi berdiskusi sambil menyantap es campur dan martabak telor. Baca entri selengkapnya »
SEMARAK TAMAN BACAAN TBM BAITUL HAMDI
Minggu (22/3) pagi, halaman Taman Bacaan Baitul Hamdi yang terletak di Kampung Nanggorak di JL Labuan Pandeglang riuh dipadati oleh anak-anak TK dan SD yang datang dari berbagai wilayah yang ada di Pandeglang. Anak-anak TK itu ditemani oleh ibunya yang menenentang alas gambar. Wajah mereka tampak antusias dan bersemangat. Kegembiraan dan keluguan tampak terlukis di wajah anak-anak ini. Ya, anak-anak usia dini itu telah mengikuti lomba mewarnai yang digelar oleh Yayasan Baitul Hamdi, Pandeglang dalam rangka Semarak Taman Bacaan Baitul Hamdil (TBM BAHA) “Tidak kurang dari 300 anak ikut serta dalam lomba ini,” ungkap Dian yang diamanahi sebagai koordinator lomba mewarnai anak ini. 300 anak itu memadati Wisma BAHA yang dijadikan tepat lomba.
Sementara untuk anak-anak SD, TBM BAHA menggelar lomba menggambar. “Pesertanya sekiar 40 orang. Kalau kita ngadain lomba untuk mereka memang responnya cukup baik baik dari anak-anak maupun gurup dan oranguanya,” tambah Dian. Baca entri selengkapnya »
PASAR RAU DAN MAULID NABI
Sudah dua hari berturut-turut di sekitar tempat saya tinggal di Komplek Hegar Alam Banten Serang Banten di ramaikan dengan suara petasan. Bunyinya sambung-menyambung seperti suara petasan dalam alunan pesta. Meriah dan ramai sekali. Sausana yang sama juga masih terasa pada Kamis pagi (20/11), petasana masih meletus-letus. Tentu saja aku tahu suara petasan muncul dari “pesta” masyarakat kampung yang sedang memeriahkan maulid Nabi Muhammad SAW.
Sudah menjadi kebiasaan mayoritas masyarakat muslim Indonesia memperingati kelahiran Nabi Agung ini. Memperingati kelahiran Muhammad adalah seperti sebuah keharusan bagi sebagai masyarakat Nahdidyin. Seperti halnya warga muhammadiyah yang tak mau qunut. Saya yang lahir dari keluarga Nahdilin tak bisa mengelak ini. Tapi pagi itu yang menyeruak dari perasaan saya bukan pergulatan antrara urusan bid’ah dan tidak bid’ah. Tetapi kondisi perekonomian masyarakat Indonesia yang carut marut sejak awal 2008 ini yang menjadi perhatian.





