JALAN YANG MEMBAHAGIAKAN
Ada sejumput kenangan yang membayang di benak saya saat bercerita tentang jalan.
Waktu saya masih kelas empat SD saya sering diajak berkunjug ke sawah oleh bapak saya yang seorang petani. Jarak dari rumah saya ke sawah sekitar dua kilometer. Satu kilomerer bisa dilalui oleh jalan beraspal. Satu kilometer lagi harus ditempuh dengan muka masam karena jalan ini berbatu dan kondisi tanahnya becek. Setiap saya hendak ke sawah seringkali kakak saya yang menyetir motor berucap, “Kita berperang dengan jalan.” Berperang dalam arti kata harus hati-hati karena tidak jarang bapak atau kakak saya jatuh lantaran jalannya yang becek dan berbatu ini. Bahkan saya punya pengalaman buruk yang tidak pernah saya lupakan.
Sore hari, saat itu musim hujan, saya bersama kakak saya Oman pulang dari sawah membonceng mobil kol buntung yang membawa hasil panen timun bapak. Dengan kakak saya “nangkring” di belakang. Rasanya bahagia bisa naik mobil dari sawah, sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga kampung Ciwarna, kampung yang dekat dengan sawah saya. Di tengah perjalanan kebahagian itu terenggut tiba-tiba, mobil yang kami tunggangi harus berhenti dan kami harus turun. Setelah dilihat ternyata mobil tidak bisa bergerak lantaran bannya tenggelam dalam kubangan jalan tanah yang cukup dalam. Tentu saja kamu turun dan berusaha membantu si sopir untuk bisa berjalan normal. Kami bersama-sama berssama-sama mendorongnya. Namun kejadian yang tidak terduga menimpa saya. Ban mobil itu menyemburkan tanah dan mengenai seluruh wajah, rambut dan pakaian saya. Sekujur tubuh saya terkena tanah. Oman dan orang-orang yang melihat tertawa senang tapi saya menangis karena baju saya kotor, dan mata saya pun sakit. Sejak saat itu saya seringkali malas-malasan jika diajak ke sawah oleh bapak. Mungkin, bapak saya belum tahu sampai sekarang alasan ini, saya mau diajak ke sawah jika hendak memanen timun.
Namun kebehagiaan membuncah di hati saya muncul, mungkin juga di benak kakak, bapak dan warga Kampung Ciwarna, saat kami tahu Kepala Desa Batu Kuwung membangun jalan yang berbatu dan becak itu. Meskipun kami bukan warga di situ, bapak atau ibu seringkali memberi para pekerja yang sedang membuat jalan itu rokok atau timun hasil panen kami. Begitu berharganya jalan bagi kami. Keberadaan jalan membahagiakan hati kami, warga Siwarna dan melewatinya. Tentu saja itu tidak memiliki arti bagi orang-orang yang tidak melaluinya.
Inilah yang saya lihat saat pembangunan jembatan yang menghubungkan jalan alternatif Kampung Ciloang dengan sebuah komplek di Jl Bayangkara. Para orangtua bergegas untuk bekerjasama. Wajah mereka bercahaya penuh warna. Tidak ada rasa pamrih untuk melakukan pekerjaan itu meskipun tidak di bayar. Masing-masing bekerja dengan giat. Masing-masing ingin menyumbangkan tenaganya meski dengan sedikit. Solideritas dan kebersamaan begitu tinggi diantara mereka. Tentu saja karena mereka mengharapkan jalan yang bagus. Jalan yang bisa mereka nikmati dengan nyaman.
Pun wajah riang yang terpantul dari anak-anak yang berkumpul menyaksikan orangtuanya bekerja. Benak mereka pasti berkata; kalau pergi sekolah mereka tidak becek lagi. Mereka bisa berlari-lari seperti halnya anak-anak komplek yang jalannya lebih mulus.
Selama ini bagi warga Ciloang terlalu jauh untuk menembus sampai Jalan Bhayangkara. Mereka harus lewat Kampung Kubil yang memutar. Dengan menggunakan jalan alternatif ini jalan ke Jl Bhayangkara lebih dekat. Ah, pasti anak-anak yang masih usia SD itu senang. Seperti halnya saya kecil dulu saat menemui jalan yang menghubungkan ke areal sawah saya di Desa Suarna sana. Lebih gembira lagi, karena pembangunan jalan Ciloang ini hasil swadaya masyarakat itu sendiri dan bantuan donatur. Jadi warga bisa nyombong ke pemerintah.
gus adhim berkata,
April 14, 2008 pada 4:10 am
jalan pencerahan. menemukenali tujuan hidup melalui pembelajaran yang terus menerus. Mari bersama saya, menyebarkan kabar gembira 3 Proyek Besar Umat Manusia: (1) Mengenal Allah Secara Mendekata dan Mendasar. (2) Mengetahui Musuh Ghaib Syetan. (3)Menanam Keyakinan Dunia Akhirat.
Syukur. saya melihat blog ini cukup “Aji” lathi dan memiliki artistik rogo busono. Semoga tetap Setia ber Karya manfaat untuk sesama.
Gus Adhim
setiakarya berkata,
April 18, 2008 pada 7:57 am
gus adhim… aku bersyukur bisa kenal sampean
salam dari aku yang sedang belajar
deka berkata,
Maret 27, 2009 pada 11:22 am
ok boy