MEMETAKAN PERBUKUAN DI TANAH JAWARA

Oktober 27, 2007 at 7:48 pm (Jejak)

  • jak.jpg  Beberepa pekan lalu sepulang dari Jogjakarta, saya  s inggah di  Bandung mengunjungi kawan; Heru    Hikayat, perupa dan juga penulis asal Bandung. Selama dua hari berada di rumah Bang Heru saya  berdiskusi kecil tentang buku, kepenulisan, komunitas baca, seni dan budaya Bandung. Berbicara tentang buku dan komunitas baca, akhirnya kami teratrik memperbicangkan tentang toko-toko buku di Bandung.  Bang Heru bercerita mengenai toko buku alternatif yang telah menuai sukses yang sebelumnya sudah saya kenal lewat media diantaranya Tobucil, Rumah Malka dan Ultimus. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

BELI BASO OK! BELI BUKU OGAH!

Oktober 27, 2007 at 5:00 pm (Memori)

 

Setiap Minggu, ditengah-tengah kesibukan saya sebagai mahasiswa dan pengelola toko buku, saya memutuskan untuk menyempatkan diri berjualan buku di alun-alun kota Serang. Keputusan itu saya ambil dengan berbagai pertimbangan.

Pertama, tentu ada kaitannya dengan urusan bisnis, dengan konsep teori yang sederhana saya beranggapan bahwa ketika suatu tempat dikunjungi oleh  banyak orang maka kemungkinan lakunya suatu barang adalah besar sekali. Melihat potensi pasar yang begitu besar saya optimis bisa meraup keuntungan yang besar dari hasil penjualan itu. Bayangkan saja, orang-orang yang memadati alun-alun yang berada tepat di depan gedung Bupati ini tiap minggunya hampir  tiga ratus sampai lima ratus orang. Dari berbagai macam jenis kelamin dan umur.  Ini artinya bahwa lima persen saja diantara sekian banyak pengunjung membeli buku maka buku saya akan laku sekitar 10-15 exsemplar. Bila satu ekslempar saya anggap menyumbangkan provit Rp. 3000 berarti saya bisa meraup  keuntungan Rp. 15000. Itu hanya lima persen, bila sepuluh persen maka laba yang bisa bisa “gondol” sebesar  Rp.30.000.   Baca entri selengkapnya »

Permalink & Komentar

MENGENANG EMPAT TAHUN BANTEN PROVINSI

Oktober 27, 2007 at 4:24 pm (Artikel)

101b0760.jpg  

Catatan Untuk Ulang Tahun Banten 

 

  

 “Lah, apasih dadi provinsi lake

     artine, sing senang mah pak Djoko”

   

 

 

 

Dalam bahasa jawa Serang, kata-kata itu meluncur tanpa tedeng aling  ling  dari   Sakar, seorang pengayuh becak yang biasa mangkal di sekitar gedung Dewan Perwaklan Rakyat Daerah Banten tepatnya di samping DPC Golkar Serang. Seirama dengan Mang Sakar. Feisal, Mahasiswa  Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tirtayasa mengaku bahwa perubahan status Banten menjadi provinsi tidak membawa perubahan yang significant bagi  kalangan bawah apalagi daerah selatan “Lu, bisa  lihat sendiri yang banyak berubah itu cuma pejabat sama pengusaha. Masyarakat kecil mah enggak berubah-ubah terus lagi daerah gue mah terpinggirkan” ujarnnya pada saya. Baca entri selengkapnya »

Permalink & Komentar