HARAPAN PERUBAHAN
SURAT TERBUKA UNTUK REKTOR BARU UNTIRTA
Oleh Aji Setiakarya
Di harian ini, kami membaca berita jika Prof. Dr. Ir Rahman Abdullah Msc, Guru Besar Ilmu Perencanaan Wilayah Kota dana Pemukiman Universitas Tadulako dilantik menjadi Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten Periode 2007-2012 oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo pada pada Jum’at (7/9) siang di lantai III Depdiknas Jakarta (Radar Banten, 8 september 2007). Meski tidak ada perwakilan mahasiswa yang menghadiri pelantikan itu, kami tetap menyambut dengan hati gembira atas pelantikan ini. Kegembiraan itu bukan karena apa-apa, tapi karena Prof Rahman adalah calon yang mendapatkan suara paling banyak dari mahasiswa dibanding dua calon lainnya Prof Dr Hufad (UPI) dan Prof. Dr Soegianto (Unibraw). Di tingkat senat pun Prof Rahman meraih simpati yang besar mengalahkan dua kandidat lainnya. Hal ini menunjukan jika kepemimpinan Prof. Dr. Ir Rahman Msc (Prof) mendapatkan legitimasi yang kuat sehingga peluang adanya konflik itu sangat tipis.
Optimisme Perubahan
Prof, membaca statement Prof di harian ini memberikan sinyal yang cukup kuat membawa perubahan di Untirta. Dengan percaya diri Prof bilang jika Prof adalah muka lama di kampus kami sehingga bisa berbuat banyak untuk Untirta. Dengan tegas pula Prof bilang akan membawa Untirta ke taraf nasional. Bak ikut-ikutan seperti politisi, Prof juga menentukan 100 hari pertama untuk menentukan langkah dan strategi. (Radar Banten, 9 September 2007). Pernyataan itu tentu saja sudah tergores di kepala kami sehingga suatu saat kami akan menagihnya.
Prof, kami gembira sekali dengan semangat optimisme yang menggebu-gebu itu. Optimisme adalah sebuah permulaan yang baik ketimbang pesimisme yang hanya membawa kita kepada kekesalan dan kebencian. Tapi tentu saja optimisme itu harus berdasar dan realistis. Saya melihat Prof sudah mempunyai modal awal untuk mewujudkan optimisme itu yakni legitimasi yang kuat. Tapi legitimasi tanpa keberanian adalah sebuah kebisuan dan kebimbangan. Karena itu Prof harus berani mengambil kebijakan tegas tanpa terpengaruh oleh kelompok kaum oportunis yang siap bercokol dimana saja. Semoga Prof bisa jeli melihat persoalan ini.
Bagi-bagi Kue
Prof, seperti telah banyak terungkap bahwa dalam paradigma kepemimpinan saat ini, tidak ada jalan yang gratis untuk memperoleh sebuah “kekuasaan”, sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Kami tentu tidak tahu apa memang ada praktek semacam itu dibelakang layar sana terkait dengan keberhasilan Prof meraih gelar rektor. Apakah ada transaksi dalam menentukan “pasukan” sehingga nantinya ada posisi khusus untuk orang khusus?.
Sebagai mahasiswa, kami meinginkan keputusan memilih “pasukan” nanti tidak berdasarkan pada pertimbangan balas budi atau pertemanan apalagi berdasar atas sikap kedaerahan yang harusnya dihilangkan dalam dunia keintelektualan. Tapi berdasarkan kemampuan, kapabilitas dan komitmennya dalam membawa perubahan kampus. Seperti yang sering diungkapkan oleh Yoyo Mulyanan, bahwa dalam mengemban tugas kita harus memiliki 5K (Kompetensi, Kapabalitas, Kualitas, Koneksivitas, dan Komitmen)
Orang yang dipilih nanti adalah yang bisa menjunjung tinggi nilai-nilai akademik sebagai penjaga moral dan simbol perubahan masyarakat. Semoga praktek “bagi-bagi kue” tidak dilakukan oleh Prof yang tentu saja memiliki pengetahuan dan keilmuan yang jauh dari kami.
Mengenang Sejarah
Prof, seperti Bung Karno utarakan; Jangan Lupakan sejarah. Ini sebagai catatan kecil bagi Prof juga bagi kita semua; Pendahulu Prof, Yoyo Mulayan, adalah sosok yang dikenal bijak, karismatik dan tidak emosional. Ia tidak hanya beperan sebagai rektor yang birokratis dan posisinya yang strategis itu. Tetapi ia bisa menjadi pelindung, tempat mengadu dan tempat berdiskusi. Di mesjid, di auditorium bahkan dalam perjalanan sekali pun. Dalam setiap keadaan genting beliau masih bisa melemparkan senyum. Ia pandai menyembunyikan kekesalan dan rasa jengkel kepada staf dan mahasiswanya. Ia tidak suka marah di hadapan umum. Tak jarang kami duduk bersamanya, menikmati malam mingguan sambil makan kacang rebus dan nonton bareng. Ia gemar membaca puisi dalam event-event sastra jika para mahasiswa memintanya. Meski banyak yang bilang ia bimbang dan tidak tegas. Ia tetap guru terbaik di lingkungan kami. Diakui atau tidak, faktanya ia sudah membawa banyak perubahan di kampus kami. Ia sudah meletakan pondasi visi dan misi universitas di tengah transisi dari yayasan ke perguruan tinggi negeri. Kami masih bangga jika ia muncul di koran menjadi pembicara dalam sebuah seminar-seminar. Prof, menjadi dan menggantikan sosok yang lain memang tidak mudah. Tapi meniru jejak-rekam yang baik dan positif sepertinya bukan hal yang buruk.
Prof, diam-diam dalam hati kami terbersit sebuah kekhawatiran. Kami khawatir Prof tidak bisa lagi hadir di tengah-tengah kami untuk bermalam mingguan, nonton bareng apalagi membaca puisi untuk menghibur kami di panggung. Khawatir, prof tidak bisa melemparkan senyum, tegur dan sapa. Apalagi kami lihat foto Prof di koran ini berkumis tebal. Yang membuat kami lebih khawatir lagi adalah Prof berubah menjadi orang yang minder dan inferior menghadapi staf dan mitra Prof sendiri saat sudah duduk di kursi empuk sana. Apalagi Prof mengaku berasal dari kampung yang orang-orangnya noteben masih ramah sehingga tidak banyak rintangan dibanding dengan di kota ini yang sudah “ganas”
Prof, kami tentu saja menaruh harapan besar dengan optimisme yang diucapkan Prof dalam membawa perubahan kampus kami. Tentu saja mahasiswa, dosen, dan seluruh komponen Untirta punya peran. Tapi pemimpin dalam sebuah organisasi ibarat kepala dalam serangkaian tubuh manusia. Ia menentukan arah dan langkah dimana kaki berpijak dan tubuh bergerak.
Aji Setiakarya, Mahasiswa Jurnalistik Untirta
aktivis Tirtayasa Reseach and Academic Sosiety (TRAS) Untirta
Relawan Rumah Dunia
SYEKH NAWAWI SEBAGAI SIMBOL PERLAWANAN
SYEKH NAWAWI SEBAGAI SIMBOL PERLAWANAN
Oleh Aji Setiakarya
Nama Syekh Nawawi dilingkungan pesantren salafi tentu tidak bisa diragukan lagi keterkenalannya. Itu disebabkan karya-karya beliau banyak digunakan di pesantren. Sebut saja misalnya Syarah Al-Jurummiyah yang isinya tentang tatabahasa Arab, yang terbit tahun 1881 di Mekkah. Kitab ini menjadi kitab dasar bagi para santri yang masuk pesantren salafi. Selain Sarah Al-Jurumiyah ada pula Fathul Mujib, yang isinya uraian tentang lima bagian-bagian penting daripada hukum Islam dan lima rukun Islam. Di kampung saya, nama Syekh Nawawi terkenal. Karena biasanya ibu-ibu di kampung saya mengikuti kajian kitab Syekh Nawawi ini. Nenek saya sering mengikuti kajian kitab Fathul Mujib dalam sebuah pengajian yang diselenggarakan oleh seorang kiayi. Dan yang saya kenal betul dari nenek saya adalah At-Tijanu Darari yang isinya tentang aqidah islam. Ya, di kalangan pesantren tradisional nama intelektual yang dijuluki Al-Alim di Mesir ini masih populer sampai saat ini, tulisan Djamal D Rahman di edisi Selasa lalu telah memberikan keyakinan jika buku karya Syekh Nawawi Banten masih laku hingga sekarang. Menurut Djamal dari 20 judul yang ia sebutkan di sebuah toko kitab di Sumenep Madura, 17 judul masih bisa didapatkan dengan mudah. Baca entri selengkapnya »
MAGELANG AKSARAVAGANZA, MENILIK BUDAYA BACA
![]()
Oleh Aji Setiakarya
Sabtu (1/5) pagi, Wakil Walikota Magelang Nur Muhammad membuka acara yang berbau keaksraan dan minat baca di Gedung A. Yani, milik yayasan Akademik Militer (AKMIL) Magelang. Acara itu bernama Aksaravaganza. Nama yang populis dan menarik. Beragam acara digelar dalam event untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Magelang itu, dari mulai pameran buku, bincang tentang perpustakaan, bedah buku sampai dengan nonton film bareng. Dalam pembukaan acara yang digagas oleh Unit Pelaksana Tugas Dinas (UPTD) Perpustakaan itu Wakil Walikota Magelang Nur Muhammad yang mewakili Wali Kota Fahriyanto mengakui bahwa dengan membaca itu kita bisa pintar, cerdas dan maju. ”Bapak dan ibu bisa seperti ini karena kita suka membaca,” kata Nur Muhammad yang disambut dengan tepuk tangan dari hadirin. Saya juga ikut tepuk tangan. Pernyataan Wakil Wali Kota sebenarnya bukan hal baru. Sudah semenjak awal kemerdekaan negeri Soekarno, Presiden pertama Republik ini menganjurkan agar kita gemar membaca. Begitu pun dengan presiden selanjutnya seperti Soeharto, Habibie dan Gusdur. Mereka mengungkapkan akan pentingnya minat membaca untuk bangsa ini. Pemerintah Megawati, malah membuat pencanangan Yayasan Taman Bacaan (MANCA) Indonesia pada 2004 dengan mendirikan 50 sanggar di seluruh Indonesia. Begitu pun dengan Presiden Soesilo Bambang Yhudoyono (SBY). Ia mencanangkan Gerakan Gemar Membaca. Terlepas dari tujuannya untuk meraih simpati politik atau tidak langkah mereka mengangkat isu pemberansatan buta aksara adalah hal yang terpuji. Memang tidak bisa disangkal jika membaca adalah kunci keberhasilan dalam merajut kesuksesan. Membaca itu adalah sebuah upaya mengisi pengetahuan, wawasan. Di sana terjadi transfer wacana antara si penulis dan si pembaca. Tidak hanya wacana yang ada di dalamnya, tapi juga membaca adalah celah untuk menumbuhkan ide sehingga kita bisa kreatif dan inovatif sebagai sesuatu yang langka di negeri ini. Potret orang yang membaca juga akan berbeda dengan orang yang tidak membaca. Itu bisa kita rasakan sendiri. Persoalanya kemudian adalah bagaimana cara menumbuhkan minat baca itu di tengah-tengah masyarakat? Reading HabbitBagaimana membaca itu agar bisa menjadi budaya – Reading habbit?. Ini memang pekerjaan rumah (PR) kita bersama. Masyarakat, dan pemerintah harus bersama-sama. Tapi tentu saja harus ada motor penggeraknya. Motor penggerak itu adalah perpustakaan. Perpustakaan harus ditata sebagai tempat yang menggembirakan dan menyenangkan. Persepsi perpustakaan sebagai tempat koleksi dan peminjaman buku harus dirubah. Tidak hanya tempat etalase mewah yang menampilkan buku-buku saja. Menurut Noor Syamsudin Al- CHaesi, warga Indonesia yang menjadi dosen di Universitas Kebangsaan Malaysia, penjaga perpustakaan di Malaysia mampu menjelaskan isi buku kepada pengunjungnya. Sehingga si pengunjung dapat mendapatkan informasi buku yang sedang dicarinya. Sementara Darmono dalam bukunya Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan menjelaskan, perpustakaan harus menjadi fungsi pendidikan, yang mampu meningkatkan kesadaran diri dan merangsang kreativitas. Fungsi kebudayaan yang mampu mendorong tumbuhnya kreativitas dalam seni adalah hal lain yang harus ditunjukan oleh perpustakaan. Dari sana perpustakaan akan menjadi tempat rekreasi yang memberikan keseimbangan jasmani dan rohani. Dan yang paling ideal adalah adalah perpustakaan bisa menjadi tempat menabung. Yaitu sebagai tempat menghimpun, menyimpan, dan melestarikan karya-karya cetak dan rekaman sebuah peristiwa. Kiprah MasyarakatSekarang ini ada hal yang menggembirakan di tengah masyarakat. Banyak muncul komunitas baca yang diprakarsai baik oleh masyarakat maupun perorangan dengan swadaya mereka sendiri. Beberapa anak muda, mahasiswa juga banyak yang terjun membuat komunitas yang bergerak dibidang baca. Mereka berusaha menampilkan perpustakaan sebagaimana fungsi yang dijelaskan tadi. Sebagai sebuah potret kecil, saya bisa menyaksikannya dalam acara Magelang Aksaravaganza yang digagas oleh UPTD Perpustakaan Kota Magelang yang berlangsung 1-5 September 2007. Geliat komunitas baca itu tampak tinggi. Beberapa komunitas berperan dalam acara ini. Misalnya, Rumah Pelangi, Rumah Dunia, Komunitas Baca Ibnu Hajar, Forum Lingkar Pena dan Komunits Beber Lampah. Dalam sebuah diskusi yang berjudul Menilik Minat Baca di Magelang yang menghadirkan Kepala UPTD Perpustakaan Kota Magelang, Sugiyarti, seorang guru SMP bersemangat untuk memiliki komunitas baca tapi terbentur dengan buku. ”Saya ingin Perpustakaan Keliling datang ke sekolah saya,” kata Ibu yang bernama Hayati itu. Tapi Sugiyarti bilang jika kemampuan dan koleksi bukunya terbatas sehingga ia harus mengatur jadwalnya. “Personil saja masih kekurangan,” kata Sugiyarti. Saat mengenalkan Rumah Dunia, Senin (3/9) kemarin seorang bapak bernama Tri Yoga yang mengaku punya perpustakaan di lembaga tempat bekerjanya. ”Saya kerja di Lapas Magelang. Dengan membaca alhamdulillah banyak berubah,” kata Tri. Namun Tri mengungkapkan jika buku-buku itu kebanyakan adalah pemberian penjenguk atau droping dari perpustakaan daerah Magelang bukan dari anggaran khusus lembaganya. Fenomena ini menandakan bahwa kepedulian masyarakat terhadap minat baca sudah muncul. Mereka sudah tergerakkan. Mereka sadar akan pentingnya minat baca. Pemerintah, harus segera merespon hal ini. Tidak cukup hanya bilang ”Membaca Penting”, ”Membaca mencerdaskan,” saat prosesi pembukaan atau pertemua-pertemuan formal. Tapi pemerintah harus mengambil sikap dan kebijakan yang jelas dengan fenomena ini. *) Aji Setiakarya, Relawan Rumah Dunia, sedang mengikuti Aksaravaganza di Magelang Jawa-Tengah
*) Foto Aji Setiakarya (kiri) dan Muhzen Den (kanan) di pintu gerbang Rumah Dunia
MAGELANG AKSARAVAGANZA, MENILIK BUDAYA BACA
Oleh Aji Setiakarya
Sabtu (1/5) pagi, Wakil Walikota Magelang Nur Muhammad membuka acara yang berbau keaksraan dan minat baca di Gedung A. Yani, milik yayasan Akademik Militer (AKMIL) Magelang. Acara itu bernama Aksaravaganza. Nama yang populis dan menarik. Beragam acara digelar dalam event untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Magelang itu, dari mulai pameran buku, bincang tentang perpustakaan, bedah buku sampai dengan nonton film bareng. Dalam pembukaan acara yang digagas oleh Unit Pelaksana Tugas Dinas (UPTD) Perpustakaan itu Wakil Walikota Magelang Nur Muhammad yang mewakili Wali Kota Fahriyanto mengakui bahwa dengan membaca itu kita bisa pintar, cerdas dan maju. ”Bapak dan ibu bisa seperti ini karena kita suka membaca,” kata Nur Muhammad yang disambut dengan tepuk tangan dari hadirin. Saya juga ikut tepuk tangan. Baca entri selengkapnya »
BELAJAR KEHIDUPAN DI BIS
Perjalanan Kecil Ke Magelang
Oleh Aji Setiakarya
Matahari Rabu, 29 Agustus, pukul 15.00 WIB mulai menyingsut saat serombongan orang-orang menaiki mobil patas ekonomi Sumber Alam di daerah Terminal Pakupatan Serang, persis dekat kampus Untirta. Beberapa orang berdesakan, memasukan barang-barangnya yang sudah rapi terbungkus kardus. Setelah rampung menyimpan kardus-kardus mereka beralih mencari kursi yang hendak ditumpangi. Aku bersama temanku dari Rumah Dunia, Deden dan Langlang ikut sibuk mencari bangku sesuai dengan nomor tiket.