Sepenggal Rindu
Oleh Aji Setiakarya
Aku,
Disini dalam cabikan
asmara yang meronta.
Terngiang wajahmu yang jelita dan berwarna.
Seperti pelangi yang melukis kata.
Ku pejamkan mata untuk sampai ke surga
Mengejar desahmu yang semakin menggema.
Menggurita seluruh nafas, mengikat nadi.
Menelusup ke lubang-lubang tahta.
Di
sana, apakah engkau rindu?
Mengangankan bintang yang bersinar?
Mungkin engkau hanya marasakan
rindumu sendiri.
Tapi, Aku?
Setiap desir angin adalah cinta.
Sepenggal rindu telah layu untukmu, kasih.
Aku di sini hanya bisa termangu.
Dalam untaian makna yang tidak terperi.
Rumah Dunia, 7 Mei 2005
Malam Minggu saat aku rindu pada dia.
DIMANA ENGKAU
Oleh Aji Setiakarya
dimana engkau sembunyi?
saat aku sendiri menatapi hujan yang bergelimpangan
menaburkan pedih yang mencincang bayangan
menggetarkan sayap-sayap kehidupan yang tumbuh
dibalik kesunyian yang menyapu kenangan.
dimana engkau?
saat aku di atas bukit kebencian yang menerbitkan sedih
yang mematikan akar-akar yang berkobar
rebah aku ke bumi. tiada upaya.
hanya serentetan luka yang menancap tegak
dan duka yang merajai hati.
sementara sebaris pisau mencerucuki jiwa.
rumah dunia, 1 maret 2005 malam hari.
LAPTOPGATE
Oleh Aji Setiakarya
Anggota DPR kembali melukai perasaan masyarakat. Kalau sebelumnya mereka menolak revisi UUD No. 37 tentang gajih anggota dan protokoler kali ini mereka menetapkan pembelian laptop dengan alasan meningkatkan kinerjanya.
Keputusan itu memicu banyak pihat angkat bicara. Mahasiswa, dengan gaya yang khasnya langsung melancarkan demonstrasi. LSM dan masyarakat langsung melontarkan protes. Ada yang menulis di koran atau membuat reales di milis-milis. Ahmad Syafii Ma’arif, mantan Ketua PB Pusat Muhammadaiyah dalam sebuah Resonansi di Republika menyebut anggota DPR tidak memiliki etika. Di tengah kecarutmarutan dan kesulitan rakyat kata Syafii orang-orang yang mengaku perwakilan rakyat itu masih mau menghamburkan uang negara. Di daerah-daerah semenjak isu pembelian laptop DPR bergulir awal Maret lalu, pernyataan penolakan laptop terus mengalir. Berkat penolakan yang keras itu akhirnya Ketua DPR Agung Laksono membatalkan niatnya untuk membeli laptop.
Banten Mengambang?
Tapi sungguh aneh! di tengah derasnya penolakan di tingkat pusat, anggota DPRD Banten, justru bikin onar. Tujuh puluh lima anggota dari seluruh partai politik hendak bakal membeli laptop seharga 21,5 juta tiap unitnya itu dilengkapi dengan mesin printer seharga 5.75000 tiap unitnya. Sementara kesekretarian DPRD nya bakal membeli 10 unit laptop lengkap dengan mesin printernya juga. Data yang saya dapatkan dari berbagai sumber menyebutkan, untuk pembelian 85 unit laptop beserta mesin printernya menggerogoti APBD sebesar 1,8 Miliar.
Meski awalnya sepakat untuk menolak. Ternyata belakangan terdengar kabar jika pembelian laptop akan terus di lanjutkan. Laptop. Informasinya, laptop sudah dibeli dan di simpan di sebuah gudang (Radar Banten, edisi 5 April).
Kalau pernyataan itu sesuai dengan kenyataan sungguh keterlaluan perwakilan kita ini. Di tengah penderitaan dan kesusahan ekonomi rakyat, mereka masih bisa bermain-main dengan anggaran daerah untuk memenuhi kebutuhan libido kemewahannya. Di tengah jeritan mayoritas masyarakat yang dihimpit persoalan perut, ke-75 orang yang mengaku menjadi perwakilan kita itu menumpuk fasilitas yang sebenarnya kebutuhannya tidak urgen.
Meningkatkan Kinerja
Ada yang beralasan pembelian laptop yang bakal menghabiskan 1,8 Miliar itu adalah untuk meningkatkan kinerja para anggota dewan. Dengan adanya fasililitas ini di harapkan anggota dewan bisa konsentrasi penuh terhadap persoalan-persoalan masyarakat. Alasan tersebut terkesan hebat karena membela rakyat kecil. Tetapi itu adalah sebuah pernyataan yang seringkali berbeda dengan kenyataan. Kita sering menyaksikan jika Tapi mari kita lihat bukti yang mereka ungkapkan. Alasan itu hanya sebuah apologie saja untuk mengelabui publik. Toh
Yang lucu, ada anggota dewan yang mengutarakan kalau pembelian laptop adalah sudah dianggarkan di dalam APBD 2006. Artinya pembelian laptop harus tetap dilakukan apalagi sudah diadakan tender. Kalau tidak digunakan, kata salah satu anggota dewan itu dana sebesar 1,8 Miliar iu bisa hilang. Ini alasan yang membuat saya menggelikan. Lucu sekali. Seorang anggota dewan berkata sangat tidak logis dan tidak berbobot. Masa uang 1,8 Miliar bisa hilang? Di makan siapa? Tikus? Bukankah di dalam legeslatif sana di atur tentang revisi Anggaran Pendapat dan Perbelanjaan Daerah? Bukankah DPRD memiliki badan kehormatan yang bertugas untuk membersihkan oknum-oknum “pelacur”? yang bertugas menjaga kehormatan DPRD. Dimana fungsi bidang kehormatan? Dimana fungsi mereka sebagai perwakilan rakyat? Dimana hati dan pikiran mereka diletakan?
Kalaulah pernyataan salah satu anggota dewan di media itu benar adanya; bahwa kalau tidak dibelanjakan untuk pembelian laptop akan hilang. Sungguh keterlaluan!!!. Statemen itu bisa dijadikan indikasi kalau mereka yang mengaku sebagai perwakilan sebenarnya hanya memperalat masyarakat. Mereka memperkaya diri sendiri dengan mengatasnamakan rakyat.
Kasus laptop adalah skandal atau laptopgate. Maka ini harus diselidiki. Ini bisa menjadi penunjuk untuk melacak laptopgate yang harus diusut.
Semakin jelas keboborkan lembaga legeslatif ini. Kalaulah ada rumor di tengah publik jika legeslatif hanya menjadi mata rantai korupsi sepertinya bukan omong kosong.
Aji Setiakarya, Mahasiswa Fisip Untirta